Membumi Bersama Guru, Menjelajah Langit Dengan Teknologi


Penggunaan Google Drive dalam menunjang kegiatan belajar mengajar di Sekolah/dok.pribadi
Penggunaan Google Drive dalam menunjang kegiatan belajar mengajar di Sekolah/dok.pribadi

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bukan hanya dapat dimanfaatkan di ruang-ruang kelas, bahkan dalam kehidupan sehari-hari saat ini peranan TIK tidak bisa dipisahkan lagi. Beberapa anak yang juga dikenal sebagai digital native akan sangat tersiksa ketika mengunjungi sebuah restauran tanpa wifi gratis. Seorang media sosial aktifis akan sangat terganggu tanpa adanya koneksi internet hanya dalam beberapa menit saja. Namun demikian, hal tersebut bisa diartikan dalam dua sudut pandang.

Bagi mereka yang terbiasa dengan TIK, kegelisahan mereka berdua adalah sebuah hal yang wajar mengingat mereka lahir dimana teknologi berkembang dengan pesat. Bahkan saking cepatnya, raksasa-raksasa dunia bisa bertumbangan dalam beberapa tahun saja. Yang terakhir adalah alat komunikasi NOKIA yang resmi “tutup usia”. Hal tersebut menunjukkan bahwa siapa yang tidak siap di era modern dengan berbagai kejutan yang ada, tentu akan dilibas sampai habis. Tinggal merekalah yang bertahan dan mencoba untuk beradaptasi.

(video: Salah Satu Pembelajaran Bahasa Inggris yang diunggah ke Youtube Sehingga Bisa Bermanfaat Bagi Orang Lain Juga/dok.pribadi)

Lalu dimanakah posisi guru saat ini? Guru sebagai digital immigrant bukanlah bagian yang harus menolak perubahan. Melainkan merka harus mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Jika menolak menyesuaikan dengan perubahan zaman, niscaya akan bernasib seperti NOKIA!

Sebuah contoh baru-baru ini, bagaimana campur tangan TIK sederhana bahkan mungkin bisa dianggap sangat “jadul”, tapi mampu menimbulkan sebuah “gebrakan” yang mengguncang dunia. Terlepas dari perdebatan politik dan penggunaan Bahasa Inggris medok Presiden Jokowi saat melakukan lawatan ke Tiongkok dalam pertemuan negara KTT APEC.

Dalam tulisan Muhammad Noer yang dikutip dari presentasinet, (Baca: 12 Pelajaran dari Presentasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) di APEC 2014 Tiongkok Buat Para Presenter Indonesia), Presiden Jokowi melakukan presentasinya dengan mengunakan Slide Power Point yang sangat sederhana. Namun, esensi yang disampaikan oleh Jokowi dengan visualisasi yang kuat justru menjadikan Jokowi sebagai bintang dalam pertemuan dengan 1.500 CEO Dunia. Angka 1.500 bukan angka main-main, namun semua yang hadir bisa memahami apa maksud yang ingin disampaikan oleh Jokowi.

Jokowi melakukan presentasi/kompascom

Jokowi tidak melakukan pidato, Jokowi hanya melakukan presentasi dengan bermodalkan sebuah slide dan bantuan Bahasa Inggris medok Jawa tapi sangat tenang dalam tempo yang lambat namun meyakinkan. Dan pada akhirnya media sederhana seperti Power Point yang biasa digunakan para sales dalam menjual barangnya, yang biasa digunakan para motivator dalam menularkan semangatnya, yang biasa digunakan para guru dalam transfer ilmu pada muridnya merupakan salah satu contoh bagian dari TIK yang mampu mengguncang dunia. Lalu adakah yang bisa membantahnya bahwa Power Point Sederhana mampu memberikan jalan investasi dunia ke Indonesia?

Sudah saatnya para guru berpikir secara kreatif dalam mengemas pelajaran dan materi-materi yang akan di gunakan. Sudah saatnya pemerintah sadar bahwa TIK merupakan hal yang sangat esensial ditengah kemajuan zaman yang tak bisa ditawar lagi. Lalu apa kabarnya integrasi TIK dalam mapel lainnya?

Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin TIK di integrasikan sedangkan masih banyak guru yang tidak mengerti membuat slide demi slide untuk sebuah presntasi kreatif dan menyenangkan? Jawabannya adalah bukan dengan menghilangkan TIK sebagai salah satu mata pelajaran penjunjang, melainkan kuncinya adalah peningkatan. Peningkatan apa? Tentu saja peningkatan sumber daya dan keterampilan para gurunya.

(Video: Menggunakan model Flipped Classroom dengan merekam pembelajaran terlebih dahulu menggunakan aplikasi perekam layar/dok.pribadi)

Mengapa Siswa Membutuhkan Teknologi di Kelas

Sebagai digital native, tentu mereka akan lebih nyaman dengan habitatnya sendiri. Mereka akan termotivasi dan stimulus untuk belajar lebih kreatif akan semakin nyata.

Seorang karyawan Google Indonesia pernah bertanya pada kami (baca: audience) saat melakukan kunjungan ke kantor Google Indonesia. Apakah anda bisa membayangkan pekerjaan apa yang akan ada 20 tahun mendatang? Ia menjawab, 20 tahun lalu bahkan 10 tahun lalu kita tak pernah membayangkan ternyata ada profesi blogger, ada profesi media sosial analis, ada profesi programmer, dan makin banyak profesi-profesi di masa depan yang tidak akan terbayangkan sebelumnya. Ia, karyawan Google itu pun tak bisa memprediksi profesi baru apa yang akan muncul 10 tahun mendatang.

(Video: Sosialisasi tutorial lebih mudah didokumentasikan agar bisa diulang-ulang untuk dipelajari juga untuk kepentingan guru. Trainer tidak perlu mengulang apa yang sudah disampaikan. Peserta tinggal menonton rekamannya secara personal/dok.pribadi)

Lalu apakah kita tinggal diam dan tidak memberikan jalan bagi anak-anak kita untuk mengenal profesi-profesi baru tersebut? Rasanya tidak akan ada yang tega. Profesi-profesi umum memang masih akan ada, namun profesi-profesi yang tercipta dan baru akan semakin banyak yang sejalan dengan hobi mereka atau bahkan sesuai dengan passion mereka.

Ridwan Kamil/kenthoetboreup

Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Ridwan Kamil bahwa pekerjaan paling menyenangkan di dunia adalah hobi yang dibayar. Jika anak-anak kita suka bermain game, mengapa tak kita arahkan menjadi pembuat game terbaik? Jika anak-anak kita suka media sosial, mengapa tak kita arahkan menjadi marketer terbaik melalu media sosial? Jawabannya, kita tak mampu mengakomodasi kebutuhan mereka karena kita tidak mengerti harus memulai dari mana! Kita terlalu banyak reaktif dengan perilaku-perilaku anak-anak yang dalam sudut pandang kita selalu dianggap negatif.

1. Anak-anak akan mengenal karir mereka dimasa mendatang dengan menggunakan teknologi yang ada. Disinilah proses identifikasi karir yang cocok bagi mereka dengan bantuan teknologi.

2. Pengembangan teknologi dalam kelas sudah banyak diakui mampu mengakomodasi perbedaan kemampuan. Setiap siswa memiliki kecerdasannya masing-masing. Sudah bukan zamannya lagi semua siswa diukur kecerdasannya dengan alat ukur yang sama. Disnilah teknologi memberikan solusi bagaimana caranya memberikan jalan pada siswa dengan kecerdasan yang berbeda namun dengan tujuan atau target yang sama. Teknologi mampu mengakomodasi si pelari cepat bahkan si pelari lambat namun pada garis finish yang sama dalam waktu yang bersamaan.

3. Pembelajaran kolaboratif akan sangat dengan mudah dilakukan dengan bantuan teknologi. Kita memiliki teknologi intranet bahkan yang lebih luwes lagi dapat menggunakan bantuan internet sehingga siswa bisa dapat mengakses pembelakaran anytime anywhere secara kolaboratif. Aplikasi Google Drive sudah membuktikan di kelas-kelas betapa mudahnya melakukan pembelajaran kolaboratif.


(Google Form: Salah satu contoh penggunaan quiz online yang memudahkan pengoreksian dan bersifat personal bagi para siswa/dok.pribadi)

4. Teknologi dapat membantu guru menemukan hal-hal yang sulit dijelaskan dalam sebuah buku teks dan ruangan kelas. Seorang guru dapat mengajak muridnya melintasi samudera menjelajahi berbagai benua hanya dengan bantuan teknologi. Siswa akan dengan mudah mengetahui jalan-jalan terkenal di pelosok Amerika bahkan di pelosok desa seperti Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan hanya dengan bantuan Google Street. Pelajaran Geografi kini lebih mendalam dan mengasyikkan karena mampu di proyeksikan dalam bentuk gambar tiga dimensi 360 derajat secara nyata.

5. Ketertarikan anak-anak digital native kepada teknologi sudah tidak dapat dimungkiri kembali. Kebiasaan orang tua yang “membungkam” anaknya yang cerewet atau bahkan hiperaktif adalah salah satu jalan bagimana seorang anak menjelajahi samudera teknologi. Mereka akan lebih tertarik jika pembelajaran dikaitan atau diberikan media dengan bantuan teknologi.

6. Tak pernah ada anak yang cemberut jika diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi sebuah tablet atau perankat komputer. TIK bahkan menjadi salah satu pelajaran favorit bagi anak-anak seolah mereka menemukan “rumah”nya sendiri.


(Google Form: Bahkan untuk meminta feedback secara langsung pun dimudahkan dengan bantuan teknologi/dok/pribadi)

7. Perkembangan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat setiap detiknya. Akan sangat lucu jika masih ada siswa bahkan guru yang menganggap Pluto masih dianggap sebagai sebuah planet. Siswa bahkan guru harus mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan terbaru melalui sebuah kecanggihan teknologi.

8. Sejalan dengan kurikulum 2013 seharusnya siswa lebih aktif. Guru benar-benar merupakan seorang fasilitator. Ilmu pengetahuan tidak berpusat pada guru semata. Siswa dapat mencari sumber-sumber pengetahuan secara tak terbatas melalui internet.

(video: Bahkan untuk mendokumentasikan berbagai kegiatan Sekolah pun lebih menarik jika diketahui bersama sebagai salah satu media promosi juga/dok.pribadi)

9. Media Sosial banyak memberikan pelajaran bagi mereka yang melanggarnya. Siswa dapat belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain yang menggunakan teknologi secara serampangan bahkan tanpa pemikiran yang masak. Siswa diharapkan mampu timbul kesadaran dan tanggung jawabnya ketika menggunakan sebuah teknologi.

10. Perpustakaan digital akan semakin memperkaya literatur siswa dalam menyusun sebuah tugas akhir atau bahkan bahan-bahan presentasi yang menarik. Meskipun buku teks masih dibutuhkan, pola kebiasaan membaca akan semakin berubah. Tak bisa dielakkan lagi beberapa media cetak tutup gara-gara pola dan kebiasaan warga saat ini yang lebih suka membaca melalui media teknologi.

Pendidikan masa depan bahkan sudah banyak yang memprediksikan kelas virtual. Sehingga murid tidak perlu lagi datang ke sekolah. Mereka hanya perlu duduk dirumah mendengarkan sedikit penjelasan guru melalui Google Hangouts, Skype atau video call lainnya kemudian berkolaborasi dengan teman-temannya dari tempat yang berbeda namun dalam satu lembar yang sama. Inilah keajaiban teknologi.

Teknologi jelas sangat dibutuhkan hadir di ruang-ruang kelas. Bukan hanya semata internet atau komputer. Teknologi bisa berarti sangat luas. Orang tua, Guru dan Sekolah tidak bisa lagi mundur dalam menghadapi era digital, era teknologi. Disinilah tugas pemerintah, stakeholder, orang tua, dan guru meramu dan merancang pendidikan yang tepat bagi anak-anak generasi Digital Native. Jika Jokowi seorang mampu menarik minat 1.500 CEO dari berbagai belahan dunia, maka Guru Indonesia, dimasa mendatang dengan bantuan TIK, akan menciptakan jutaan CEO baru asli Indonesia yang membuka lapangan kerja bagi bangsanya sendiri.

Salam Hangat

Sumber bacaan

1. securedgenetworks.com

2. isains.com

3. mjeducation.com

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Guru Blogger Insporatif 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s