Butuh Tempat Curhat, Bentengi Remaja Dari Narkoba


Ilustrasi (dok.www.clickborneo.com)

Oleh: Dzulfikar Alala

Masa remaja adalah masa yang paling indah. Seseorang bisa dikatakan remaja saat usianya masuk usia belasan tahun mulai dari 11 hingga 19 tahun. Di fase-fase itulah remaja mengalami gejolak emosi yang tidak stabil disertai pula dengan perubahan seksual yang signifikan baik laki-laki maupun perempuan.

Secara umum untuk laki-laki ditandai dengan tumbuhnya jakun, bulu-bulu seperti kumis, jenggot, jambang dan sebagainya. Yang paling tidak kentara adalah saat anak laki-laki mendapatkan mimpi basah. Sedangkan yang paling mudah dikenali adalah melalui perubahan suara yang tadinya seperti anak-anak kemudian berubah menjadi berat dan lebih nge-bas seperti orang dewasa.

Untuk perempuan cukup mudah sekali mengenalinya, yakni mulai mengalami siklus menstruasi. Entah karena pengaruh makanan atau lingkungan, kini banyak pula anak-anak usia kelas 6 SD pun sudah mengalami menstruasi.  Anak perempuan memang cenderung lebih cepat dewasa secara fisik dan psikologis dibandingkan dengan anak laki-laki.

Semasa remaja inilah beberapa masalah yang mulai timbul. Terkadang konflik tersebut datang dan pergi tanpa bisa di selesaikan. Jika terjadi demikian, kekesalan-kekesalan tersebut akhirnya menumpuk dan butuh untuk dilampiaskan. Remaja biasanya butuh tempat untuk menuangkan unek-uneknya. Mereka bukan lagi butuh untuk dinasihati tapi lebih butuh untuk didengarkan. Dan sayangnya mereka lebih sering tidak mendapatkan teman atau tempat untuk mengadu dan ataupun untuk sekedar didengarkan.

Dan tak perlu heran juga jika remaja sekarang lebih kritis dan kerap dianggap nakal karena antara keinginan orang tua dan keinginan anak selalu bertolak belakang. Orang tua kerap merasa pendidikan pada zaman dahulu masih relevan untuk diterapkan pada saat ini. Padahal di zaman digital seperti ini anak-anak lebih cepat belajar, dan mengetahui ketika orang tuanya melakukan kesalahan.

Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan remaja tentu bisa berasal dari faktor internal, tapi jauh lebih banyak dari faktor eksternal. Solidaritas antar teman yang kadang kebablasan merupakan jalan masuk narkoba pada usia remaja. Anak-anak usia remaja yang jatuh pada jurang narkoba biasanya memiliki masalah-masalah yang menumpuk dan tidak terselesaikan. Dominasi problem lebih banyak karena broken home atau berasal dari masalah internal keluarga itu sendiri.

Disaat rapuh dan lemah seperti itu tanpa adanya pegangan dan pengawasan dari orang tua, remaja rentan sekali jatuh pada jurang narkoba. Disinilah peran penting keluarga dalam mencegah remaja jatuh pada lembah nista. Jangan sampai menyesal ketika anaknya sudah berada dalam rumah sakit rehabiliasi pengguna narkoba.

Orang tua zaman sekarang justru harus lebih banyak di tuntut meluangkan waktu untuk mendengarkan anak-anaknya bercerita dan bercanda. Kemewahan yang diberikan orang tua kepada anak-anak merupakan pola asuh yang tidak benar. Kebiasaan serba boleh dan serba iya justru menstimulasi remaja untuk coba-coba tanpa memikirkan akibatnya dalam jangka panjang.

Maka ada beberapa tips sederhana namun bermakna untuk menjalin hubungan yang lebih harmonis antara orang tua dan anak-anaknya.

  1. Orang tua hendaknya meluangkan waktu sesibuk apapun pekerjaan yang dilakukannnya. Minimal dalam satu hari sepekan ada waktu makan malam bersama dengan anak-anaknya. Makan malamnya tak perlu mewah, cukup dirumah dengan nuansa kekeluargaan yang hangat. Disitulah orang tua bisa bercerita tentang masa hidupnya dahulu. Bukan untuk membanding-bandingkan apa yang didapat melainkan hanya sekedar memancing anak-anak untuk mau bercerita pula tentang apa yang sedang mereka hadapi. Keterbukaan orang tua akan menjadi jalan bagi anak-anak agar tidak menyembunyikan masalah sehingga menjadi problem yang berlarut-larut.
  2. Remaja harus belajar jujur apa adanya dan tidak menyimpan masalah sendiri. Orang yang seharusnya paling di percaya adalah orang tua. Jika ada aib yang diceritakan kepada orang lain, suatu saat saat berkonflik orang tersebut bisa menceritakan aibnya. Tapi jika aib itu diketahui orang tua, tak mungkin orang tua menceritakan aib anaknya sendiri.
  3. Orang tua ketika marah, harus fokus pada perbuatannya bukan pada anaknya. Terkadang seorang remaja melakukan kesalahan atau kenakalan selau disertai motif-motif tertentu. Disinilah peran sebagai orang tua untuk mengetahui motifnya atau pendorongnya. Mengapa anaknya bisa melakukan hal demikian, jangan-jangan malah justru anaknya mencontoh orang tuanya. Maka orang tua perlu lebih bijaksana lagi dalam menasihati kenakalan remaja.
  4. Remaja harus bisa jujur juga dengan perasaannya. Jika tidak suka atau bahkan marah, luapkan kemarahan dengan hal yang tidak bersifat destruktif. Jika berbuat kesalahan harus berani bertanggung jawab. Gengsi dalam meminta maaf pun justru akan membuat diri semakin dikejar-kejar perasaan bersalah dan selalu merasa khawatir dengan anggapan-anggapan orang lain.
  5. Orang tua dan anak harus memiliki kegiatan sederhana yang dilakukan bukan sebagai rutinitas tapi berdasarkan hobi atau kesukaan kedua belah pihak. Jalan-jalan ke Mall kerap dianggap sebuah keakraban oleh beberapa orang tua. Padahal saat itu anak-anak tidak bisa curhat di lingkungan yang sedemikian rupa. Orang tua misalnya bisa mengajak anaknya sambil memancing. Selain diajarkan sebuah skill baru orang tua juga bisa mendengarkan keluh kesahnya disaat yang tepat dan tidak terlalu berat, melainkan sambil melakukan kegiatan ringan di waktu senggang. Seorang ibu juga misalnya bisa memiliki kegiatan memasak bersama dengan anak perempuannya. Meskipun hanya misalnya memasak sayur asem tapi mengajarkan keterampilan sederhana seperti itu akan lebih bermanfaat untuk saling mendekatkan diri satu sama lain.

Kegiatan-kegiatan tersebut adalah kegiatan sederhana yang hampir tidak terpikirkan oleh orang tua yang terlampau sibuk. Kemewahan atau kemudahan yang diberikan orang tua pada anak-anak tidak akan berarti apa-apa bagi mereka. Sudah saatnya orang tua sadar bahwa remaja saat ini berbeda dengan remaja masa lalu. Akan lebih baik jika orang tua menjadi sahabat terbaik bagi mereka dikala senang, susah, sedih. Dan Orang tua minimal selalu ada ketika anak-anaknya sedang kesulitan. Orang tua pula lah yang seharusnya hadir ketika anaknya rapuh dan butuh dorongan motivasi. Sama halnya ketika kecil dulu, anak-anak akan terus mencoba belajar berjalan sementara orang tuanya terus memotivasi dan mendengarkan kata hati anak-anaknya. Indonesia harus bergegas keluar dari jerat-jerat narkoba sebagai dukungan nyata gerakan anti narkoba. Indonesia hebat mulai dari keluarga.

2 thoughts on “Butuh Tempat Curhat, Bentengi Remaja Dari Narkoba

  1. Kemaren saya mencoba vapor / rokok elektrik yg sedang dihisap oleh teman yg main kekotsan saya,,, ada kira2 4 kali hisapan,,, tak berselang lama saya merasa kayak ada gempa ringan, kepala terasa enteng, mata memerah mulut kering, kantung mata membesar,,,, saat itu juga saya langsung istighfar, berfikir kalo dlm rokok itu ada narkobanya,, kata teman saya itu efek nikotin liquid,,, yg mau saya tanyakan, apakah benar efek nikotin bisa seperti itu? Apa temen saya telah berbohong pada saya ? Terima kasih

    1. efek nikotin memang menenangkan. Namun jika menonton investigasi reporter Trans7 saat ini liquid vapor banyak yang dicampur dengan bahan kimia berbahaya yang memabukkan. Sebaiknya tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Semoga selalu dilindungi oleh Alloh SWT. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s