Modus-Modus Jeratan Narkoba


napza
Illustrasi sumber: ahmadtholabi.wordpress,com

Oleh: Dzulfikar Alala

            Narkoba berpotensi dapat beredar dengan mudah di sekitar lingkungan kita. Bahkan beberapa diantaranya tidak kita sadari secara nyata. Jika kita tidak mengenalnya sejak awal, bisa jadi kita pun berpotensi terjerat kedalam jeratan narkoba. Beberapa kisah yang akan saya ceritakan ini adalah kisah-kisah pengalaman dan obrolan saya dengan beberapa orang yang pernah secara tidak sengaja mendapatkan narkoba atau berhubungan dengan pengguna narkoba.

Cerita pertama adalah kisah saya sendiri saat sekolah di sebuah SMU swasta di Bandung. Tahun 1999 memang belum begitu ketat pengawasan terhadap peredaran ganja di kota kembang. Ada kelompok yang teroganisasi dengan rapi menjajakan ganja ke sekolah-sekolah. Salah satunya adalah sekolah swasta unggulan di Bandung. Pasarnya sudah jelas, yakni anak remaja dengan seragam SMA.

Awalnya saya tak curiga ketika salah seorang sahabat yang saya anggap paling alim ternyata sudah akut kecanduan ganja. Setiap kali, ia selalu meminta izin ke kamar kecil. Biasanya ia selalu mengambil waktu saat menjelang pulang sekolah. Secara tak sengaja, saya juga ingin ke kamar kecil. Disitulah saya menyaksikan sendiri teman saya menghisap ganja dengan mudahnya. Matanya merah ketika memandang saya. Mungkin karena dipengaruhi oleh ganja yang sudah dihisapnya ia malah jujur dan bicara pada saya bahwa dia baru saja menghisap ganja.

Dari kejadian itu saya mulai khawatir dan cemas dengan pola pergaulan di sekolah tersebut. Memang, sepertinya guru-guru terlampau kewalahan dengan jumlah siswa yang ribuan. Wal hasil pengawasan di dalam sekolah pun longgar sehingga bisa dimanfaatkan oleh beberapa siswa. Entah bagaimana ia bisa lolos menyelundupkan ganja ke dalam sekolah bahkan di pakai berulang kali di dalam kamar mandi sekolah.

Gerah melihat kondisi yang demikian pelik, akhirnya saya meminta untuk pindah sekolah. Saya tidak kuat dengan realita yang ada. Saya khawatir saya lemah dan mudah terpengaruh dengan pergaulan yang tidak semestinya. Saya tidak mengungkapkan sejujurnya apa yang terjadi dan apa yang saya lihat. Saya hanya beralasan pada orang tua bahwa saya sudah tidak betah. Bahkan kepada bagian keisiswaan pun saya mengutarakan bahwa saya hanya ingin pindah.

Akhirnya saya bisa menyelamatkan seorang rekan yang memang mengetahui saya dengan cukup baik, setelah saya mengutarakan alasan utama saya mengapa saya pindah, ia pun menyatakan niat yang sama. Beberapa tahun kemudian terdengar kabar bahwa teman saya yang candu terhadap ganja lulus secara normal. Mungkin kasusnya tidak diketahui oleh sekolah atau barangkali sekolah pun tutup mata dengan kondisi  demikian. Saya merasa ada penyesalan mengapa saya tidak mengutarakan alasan sejujurnya baik kepada orang tua maupun kepada guru. Namun, untungnya orang tua memahami bahwa saya tidak cocok dengan lingkungan di SMU swasta yang notabene memang lekat dengan pergaulan bebas.

Cerita kedua berasal dari seorang teman ayah saya di daerah Tangerang. Uniknya dia bekerja di sebuah kesatuan militer. Saat itu saya sedang berkunjung ke rumahnya bersama orang tua saya. Setelah bercerita macam-macam yang menarik dia menceritakan sebuah modus yang saat itu saya anggap baru.

Ia bertutur bahwa ia secara tidak sengaja menemukan sejumput lintingan ganja di saku jaket anaknya yang masih duduk di bangku SMP. Sontak ia sangat kaget dengan temuannya tersebut. Padahal anaknya bersekolah di sebuah Pondok Pesantren dan berasrama. Bagaimana mungkin ganja sudah masuk ke sebuah Pondok Pesantren pikirnya. Ia berusaha berpikir jernih dan cermat serta mencoba untuk menelusuri asal muasal ganja tersebut.

Akhirnya setelah berdiskusi dan bertanya pada anaknya ia menyimpulkan bahwa anaknya memang sedang menjadi salah satu target. Anaknya pun bercerita bahwa ia tidak mengetahui barang yang ada di saku jaketnya.

Modusnya adalah sama persis dengan seorang pencopet. Bedanya si pengedar ini memberikan secara cuma-cuma kepada anak-anak SMP di dalam angkutan umum tanpa disadari oleh anak-anak tersebut. Lintingan-lintingan ganja tersebut di selipkan di jaket atau kantong tas anak-anak SMP yang dijadikan target. Benar, targetnya adalah anak-anak SMP yang dianggap belum mengetahui terlalu banyak informasi tentang bahaya narkoba. Harapannya anak-anak yang tidak tahu menahu tentang barang yang ada di kantongnya tersebut mencoba-coba untuk menghisap dan gotcha! Secara langsung mereka akan terperangkap oleh jerat narkoba dengan mulus dan mudah. Anak-anak SMP yang sudah merokok biasanya akan mudah terjerumus.

Kini modus ini memang sudah jarang ditemui karena cukup beresiko. Namun sebagai orang tua hendaknya tidak langsung menuduh bahwa anaknya pecandu narkoba, melainkan melakukan klarifikasi dan penelusuran terlebih dahulu. Narkoba tidak mengenal anak ustadz, anak polisi, anak anggota TNI dan lain sebagainya. Semua bisa berpotensi menjadi korban. Maka, keluarga harus saling melindungi dan berusaha untuk mengenal betul karakter dan sifat anak-anaknya agar tidak timbul kesalahpahaman.

Dari dua cerita diatas jelas ada banyak orang yang berusaha menghancurkan masa depan generasi muda yakni dengan pemberian narkoba dan peredaran narkoba di institusi pendidikan. Jelas ini adalah ancaman bagi generasi muda demi mewujudkan Indonesia bebas narkoba. Baik Sekolah maupun keluarga harus melindungi diri dari segala modus dan jeratan narkoba. Sekolah mampu memberikan pengawasan lebih ketat lagi terhadap barang bawaan anak-anak sehingga bisa di cegah penggunaan narkoba di sekolah.

Peran serta orang tua juga sangat penting. Terkadang anak-anak yang terjerumus pada penggunaan atau penyalahgunaan obat lebih sering di latarbelakangi oleh persoalan keluarga.

Seminar tentang anti narkoba sangatlah penting untuk membekali anak-anak agar mereka juga tahu jenis dan macam-macam narkoba melalui gambar. Sehingga mereka bisa terhindar dari coba-coba. Karena biasanya pengedar akan dengan sukarela memberikannya secara percuma di awal dan akhirnya memerasnya jika sudah kecanduan.

Semoga semakin banyak keluarga dan sekolah yang sadar akan pentingnya pengawasan terhadap anak-anak baik di rumah maupun di sekolah, Dengan demikian kita bisa menyelamatkan generasi muda kita dari jeratan narkoba. Dukungan terhadap gerakan anti narkoba harus terus menerus digalakan dan di selenggarakan secara berkelanjutan.

Salam Hangat

3 thoughts on “Modus-Modus Jeratan Narkoba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s