Melewati Dimensi Lain Saat Jurit Malam


Sumber Saeful Hidayat

Hilangnya pesawat boeing, Malaysia Airline, dikait-kaitkan dengan adanya lubang hitam atau lorong waktu. Jika dilihat dari rentang waktunya tentu saja tidak mungkin pesawat tersebut bisa bertahan dengan kapasitas bahan bakar hanya untuk tujuh jam saja. Namun, jika memang pesawat tersebut masuk pada dimensi lain mungkin saja bahan bakar tersebut bisa bertahan puluhan tahun hingga saatnya mereka kembali. Entah kapan.

Kebetulan saya jadi ingat pengalaman saat jurit malam ketika masih SMP dulu. Meskipun bukan saya yang mengalami tapi sebuah kelompok yang awalnya diduga tersesat justru bisa datang ke garis finish paling awal. Padahal mereka adalah kelompok yang masuk gelombang terakhir ketika pelepasan dari garis start.

Saat itu saya masuk dalam jajaran kelompok gelombang pertama yang diberangkatkan. Perjalanan saat jurit malam bukanlah perjalanan yang mudah. Kami harus melewati kebun, menyebrangi sungai dangkal, menuruni lembah hingga mendaki bukit bukit yang cukup tinggi. Entah berapa kilometer jarak yang kami tempuh. Yang jelas karena perjalanan tersebut dilakukan pada malam hari, perhatian kami hanya pada batu batu yang sekiranya dapat membuat kami tersandung. Terlebih kami harus fokus untuk menjaga anggota agar tidak tercerai berai di jalan. Belum lagi ditambah tugas tugas yang diberikan dari pos sebelumnya sebagai syarat untuk bisa melapor di pos selanjutnya. Rasa takut karena berjalan pada malam hari mengalahkan rasa letih dan lelah sekian jauh perjalanan.

Sebutlah kelompok 5 yang dinyatakan tidak pernah sampai ke pos 2. Mereka diduga tersasar setelah menyebrangi sungai. Memang setelah menyebrangi sungai ada beberapa batu besar yang sedikit menghambat perjalanan dengan yang berbukit. Diduga beberapa batu besar tersebut merupakan gerbang menuju lorong dimensi lain.

Padahal di setiap pos selalu diadakan pemeriksaan kepada setiap kelompok yang melapor. Bahkan beberapa pos bayangan pun di tempatkan untuk mengawal pergerakan setiap kelompok. Tapi sayang justru kelompok 5 inilah yang luput dari pengawasan. Saat itu belum ada hape. Kordinasipun hanya dilakukan secara manual. Ada petugas bayangan yang hilir mudik antara pos satu dengan pos lain. Bahkan team penyesir sebagai panitia terakhir mengkonfirmasi bahwa tidak ada kelompok yang tertinggal.

Beberapa guru mulai cemas. Berbagai spekulasi mulai muncul. Bahkan beberapa panitia mulai kelihatan panik. Kordinasi antara pos satu dengab pos lain sudah tidak fokus karena hilangnya kelompok lima.

Untunglah tak berapa lama ada kabar dari pos terakhir bahwa kelompok lima sudah tiba lebih awal di garis finish. Mereka tiba tanpa melewati pos pos jaga yang sudah ditentukan.

Akhirnya, setelah semua tiba dengan selamat kemudian semua orang mulai penasaran dan bertanya tanya tentang apa yang terjadi dengan kelompok lima. Kebetulan anggota kelompok lima seluruhnya adalah perempuan. Inilah salah satu alasan utama mengapa panitia merasa cemas luar biasa.

Setelah ditanya akhirnya satu persatu anggota kelompok lima mulai bercerita. Memang benar terakhir kali mereka bertemu pos pertama kemudian mereka menyebrangi sungai yang dangkal. Saat itu mereka masih dalam pengawasan panitia. Selepas dari sungai itulah mereka merasakan keganjilan. Mereka merasa jalan yang mereka lewati teramat mulus seperti jalan yang baru di aspal. Tidak ada kelokan, tidak ada turunan bahkan tidak ada tanjakan.

Mereka mengaku tidak bertemu siapa siapa di jalan tersebut. Yang jelas saat itu satu sama lain masih berpegangan dan ngobrol seperti biasa saja. Ada sekitar 7 sampai dengan 10 orang anggota dalam setiap kelompoknya. Aneh bin ajaib tiba tiba saja mereka sudah tiba di jalan dekat dengan area sekolah. Wal hasil mereka langsung meuju lapangan tempat garis finish. Saat tiba pun tidak ada satu orang pun yang berjaga, karena panitia masih sibuk di pos lain.

Syukurlah tidak terjadi apa apa dengan kelompok lima. Berita tersebut akhirnya menyebar dari mulut ke mulut. Kemudian kami pun mendapatkan cerita lain versi masyarakat setempat. Ternyata ada juga beberapa warga yang pernah masuk ke dimensi lain.

Konon jalan jalan lorong waktu tersebut adalah jalan yang digunakan nenek moyang mereka dari kejaran penajajah. Wallahualam.

Salam hangat

@DzulfikarAlala

6 thoughts on “Melewati Dimensi Lain Saat Jurit Malam

  1. Cerita jurit malamnya aneh bin ajaib.
    Tapi seperti itulah yang dilakukan (kalau tidak salah) Sunan Ampel yang berjalan kaki dari Gresik menuju perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah, bisa jadi beliau memasuki lorong waktu.

    1. Banyak kisah perjalanan orang soleh masa kini dari Jawa Timur yang lebih lebih tidak masuk akal, tapi saya percaya bahwa Rasul saja pernah Miraj’ hanya dalam waktu sekejap atas Izin Alloh SWT

  2. Wah.. pengalaman yg mendebarkan, untungya semua selamat tiba di sekolah.
    Setuju dngn Mas Iwan, memang cerita sprt itu ada, cuma kalau ngalami sendiri saya serem🙂

    1. wakakak bener bikin dag dig dug dueeeerrr. cuma orang tertentu aja yg bisa dpt pengalaman spiritual kayak gitu. siap gak siap klo kita kek gitu udh harus rela meninggalkan dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s