Orang Tua Kadang Lupa Anaknya Kelas Berapa


Pagi ini saya ngobrol dengan seorang mahasiswa yang tengah menjalankan masa PPL di sekolah saya. Saat kegiatan IMLEK lalu, ia bertugas menjadi petugas penerima tamu. Tugasnya adalah mencatat orang tua yang hadir dan memotong kupon undian dalam undangan yang telah dibagikan. Nampaknya ia sedikit shock, karena ada beberapa orang tua yang datang yang lupa anaknya sudah kelas berapa.

Wajar jika mahasiswa ini belum hafal semua siswa mulai dari kelas tujuh sampai dengan kelas sebelas, karena ia baru saja memulai tugasnya beberapa hari yang lalu. Maka ketika ia bertanya pada orang tua yang datang, harapannya orang tua mengetahui dan memberikan jawaban yang di harapkan. Tapi, ternyata di luar dugaan jawaban yang agak mengherankan terlontar dari sebagian orang tua.

“Aduh anak saya kelas berapa yah” begitulah jawaban para orang tua yang kikuk ketika ditanya anaknya duduk di bangku kelas berapa.

Saya pikir tak heran jika anak-anak memiliki beberapa permasalahan dengan orang tua, dalam keluarga inti. Tercermin dari kepedulian orang tua itu sendiri. Bagi kita mungkin sedikit aneh jika ada orang tua yang lupa dengan grade anaknya di sekolah. Tapi, bagi orang tua yang sibuk mencari nafkah demi pendidikan dan penghidupan anak-anaknya hal tersebut mungkin bukanlah sesuatu hal yang besar.

Untunglah saat perayaan penutupan masa IMLEK, sekolah membuat sebuah film pendek dengan judul “Celengan Kuda untuk Ayah” film tersebut di bintangi oleh para siswa dan guru sekolah sendiri. Memang dari gaya mereka ber-acting jauh berbeda dengan aktor atau aktris FTV sekalipun, tapi pesan yang ingin disampaikan saya rasa tepat sasaran terutama bagi orang tua yang lupa anaknya kelas berapa.

Film tersebut berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Olive. Ia mau berkorban dengan menabung dari uang sakunya untuk membayar uang denda dan gaji ayahnya selama sehari dengan tujuan agar ayahnya memiliki waktu untuk mengambil rapotnya di sekolah. Sudah bukan rahasia lagi kalau sebagian orang tua mendelegasikan pengambilan rapot pada sanak famili lain.

Dalam film tersebut diceritakan bahwa papa Olive bekerja di sebuah perusahaan asing dengan gaji dollar. Sehingga akan sangat mahal dan sulit sekali perjuangan Olive untuk meminta waktu agar Ayahnya mau datang sendiri ke sekolah untuk mengambil rapotnya.

Perjuangan Olive akhirnya berbuah manis. Atasan papanya Olive ternyata mengetahui niat Olive yang sampai berkorban menyisihkan uang sakunya agar bisa membeli waktu papanya di kantor. Karena tersentuh, atasan papanya malah memberikan uang Olive yang sudah di serahkan padanya, kepada papanya Olive, ditambah bonus berupa cek dan libur selama tiga hari.

Film tersebut secara tak langsung menyentil kehidupan keluarga modern yang lupa memberikan kasih sayang pada anak. Mereka mungkin bisa memenuhi segala kebutuhan anak-anaknya secara financial tapi lupa memberikan kehangatan dan perhatian yang sebetulnya lebih di butuhkan oleh anak-anak.

Salam Hangat

@DzulfikarAlala

5 thoughts on “Orang Tua Kadang Lupa Anaknya Kelas Berapa

  1. Thanks sdh diingatkan Mas Dzul, ibu saya kan guru, jd dr dulu suka kasih tau, jangan sampai kamu lupa anak kamu kelas berapa, kan ada 2A, B C ..skrng agak bingung kelas 8.1, 8.2 hahaha
    Iya penasaran sama filmnya juga, nanti bagi2 link kalau sdh upload di yutub ya mas dzul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s