Masih Tentang Demam Pada Anak


Musim hujan saat ini banyak balita dan batita yang terserang demam. Ditembah lagi dengan berbagai macam bencana tentu penyebaran penyakit musiman seperti demam berdarah, typus, dan sebagainya semakin tak terelakkan. Anak-anak pun bisa menjadi korban ketika sistem imun tubuh sedang lemah.

Minggu lalu anak saya (usia 3 tahun) pun terserang demam tinggi. Awalnya terjadi pada hari Rabu siang. Dia mulai rewel dan mulai sulit untuk makan. Setelah di cek, suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Biasanya jika masih aktif dan masih mau makan dan minum, saya tidak terlalu khawatir. Namun, kali ini anak saya terlihat lemah dan lesu. Apalagi matanya terlihat sayu.

Melihat gelagat seperti itu saya mencoba untuk memberikan penanganan pertama. Selain mencoba untuk mengompresnya dengan air hangat kuku, saya juga memberikan sirup paracetamol anak ketika suhu tubuhnya mencapai angka 39 derajat. Orang tua mana yang tak sedih dan khawatir jika anaknya sakit.

Hari kedua, akhirnya saya izin tidak masuk kantor karena harus mendampingi si kecil. Apalagi dia tidak mau ditinggal bersama neneknya di rumah. Memang selama ini neneknya yang selalu menjaga si kecil selama kami, orang tuanya bekerja. Panasnya naik turun antara 38 sampai dengan 39 derajat celcius, dan tidak pernah kurang atau lebih dari itu. Biasanya anak laki-laki mudah terkena step jika panasnya sudah mencapai 40 atau lebih dari 40 derajat celcius. Tapi menurut berbagai artikel yang saya baca, hal tersebut berbeda-beda juga, akan sangat bergantung pada tubuh anak masing-masing.

Istri saya mulai khawatir anak saya kenapa-napa. Bayang-bayang radang selaput otak pun sempat melintas di pikirannya. Padahal demam ini bukan yang pertama kalinya di alami sikecil. Saya sampaikan untuk menunggunya hingga 72 jam agar bisa memastikan bahwa si kecil bisa membaik atau tidak. Jika panas biasa, biasanya anak memang lincah dan tidak ada problem dalam makan. Namun, memang setelah masuk hari kedua anak saya jadi kurang doyan makan. Disinilah saya mulai rada was-was.

Setelah memasuki hari kedua observasi, akhirnya saya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Setelah bertemu dokter spesialis anak, saya diminta untuk melakukan cek darah terhadap anak saya. Kemudian saya membawa si kecil ke laboratorium. Dari gejalanya memang belum bisa ditebak. Saat itu anak saya tidak memiliki radang atau sariawan. Hanya panas tinggi dan terlihat sayu meski masih cerewet menanyakan ini dan itu.

Itulah kali pertama si kecil diambil darahnya. Saya sampai tak tega melihatnya karena beberapa cc darah harus tertampung dalam sebuah injeksi. Awalnya saya memalingkan wajah anak saya agar tidak trauma pada jarum suntik. Namun, memang rasa sakit tidak bisa dibohongi. Anak saya menangis sejadi-jadinya saat itu. Untunglah porses pengambilan darah tidak terlalu lama, bagaimanapun tetap menyakitkan bagi anak saya.

Setelah menunggu selama satu jam akhirnya hasil lab keluar. Anak saya dinyatakan terindikasi dbd meskipun saat itu trombositnya masih kisaran 211 ribu. Masih diambang batas normal diatas 150 ribu. Saat itu memang dokter menyarankan untuk rawat inap. Tapi, saya pun diberikan pilihan untuk membawanya pulang dahulu.

Istri saya saat itu sudah menangis karena takut si kecil terkena dbd. Apalagi anak saya saat itu memang sudah merengek ingin pulang dan tidak mau dirawat di RS. Wal hasil ya psikologis saya juga ikut terguncang. Tapi saya menguatkan diri kembali bahwa anak saya pasti bisa sembuh dengan perawatan intensif dari orang tua. Sambil berdzikir dan bershalawat saya putuskan untuk membawa pulang anak saya ke rumah. Saya berpikir saat itu trombositnya masih dalam taraf aman. Memang dokter pun mewanti-wanti bahwa bisa jadi trombosit turun secara drastis.

Akhirnya memasuki malam ketiga saya bagadang semalaman. Saya selalu cek panas tubuh si kecil setiap dua jam sekali. Sesekali saya juga mengganti air kompresannya dengan air hangat kuku jika sudah cukup dingin. Saya menghindarkan kompres gel. Jika belajar fisika sudah pasti tahu apa akibatnya jika gelas yang baru keluar dari lemari es jika di ruangkan air panas. Saya hindari benturan suhu yang sangat drastis berbeda.

Memasuki hari ketiga untuk second opinion saya kembali ke dokter spesialis anak, tapi di rumah sakit yang berbeda. Saya bahkan sudah mewanti-wanti istri saya untuk membawa perlengkapan inap jika sewaktu-waktu dokter meminta anak saya dirawat. Akhirnya setelah menunggu beberapa saat anak saya di periksa kembali. Kali ini dokter meminta untuk di cek darah kembali. Hasilnya masih tetap sama. Trombosit tetap tapi yang lain ada sedikit penurunan. Akhirnya ia hanya memberikan obat penurun panas jika suhunya melebihi 39 dan kami pun di suruh pulang.

Hari Sabtu, anak saya harus melakukan observasi sebagai bagian dari persiapan masuk sekolah. Terpaksa meski dalam kondisi tidak fit saya membawanya ke sekolah. Di sekolah anak saya sudah terlihat lebih aktif. Tapi masih rewel. Akhirnya setelah seharian di sekolah kami membawanya untuk ke sebuah mall di alam sutra. Kami pikir tidak mengapa karena anaknya sudah terlihat aktif dan meminta untuk bermain di sebuah wahana permaian. Dia sangat suka sekali bermain drum elektrik, perahu-perahuan dan mobil-mobilan. Setelah sore menjelang akhirnya kami pulang.

Malamnya saya kembali melakukan pengecekan darah. Cukup kaget juga karena tormbositnya turun menjadi 204. Meskipun begitu dokter masih mengizinkan untuk dirawat di rumah. Adik saya menyaranakn agar anak saya banyak minum madu dan sari kurma agar trombositnya naik. Selain itu dokter menyaranakn untuk banyak minum air putih dan memperbanyak asupan sayur dan buah.

Alhamdulillah esok harinya setelah cek darah, trombositnya naik dan panasnya pun reda. Dokter hanya berkesimpulan bahwa ada virus yang menyerang tubuh anak saya. Tapi tidak dijelaskan virus apa. Saat pengecekan darah terakhirpun saya mencoba mengecek widalnya untuk mengetahui apakah anak saya kena typus atau tidak.

Dari pengalaman ini saya banyak belajar lagi bagaimana cara dan penanganan anak terutama saat terkena demam tinggi. Jangan sampai anak dehidrasi atau bahkan panas tinggi. Orang tua harus tetap waspada dengan segala hal yang akan terjadi. Orang tua juga harus banyak baca tentang beberapa gejala demam, karena demam adalah sistem alret atau warning tubuh ketika sedang di serang virus atau bakteri. Semoga semakin banyak orang tua yang teredukasi dan membaca tentang masalah penyakit langganan anak-anak agar bisa mementukan dan mengantisipasi lebih dini.

Salam Hangat

@DzulfikarAlala

3 thoughts on “Masih Tentang Demam Pada Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s