Belajar Bersyukur dari “Orang Kecil”


Pukul 05.00 pagi, saya telah memesan sebuah taksi (23/12). Pagi itu saya dan keluarga hendak bertamasya ke Bandung bersama rombongan guru TK. Mereka adalah rekan kerja istri saya. Dan kebetulan karena destinasinya sama, saya dan keluarga sekalian pulang kampung disaat liburan semester. Rencananya setelah ikut jalan-jalan, kami langsung turun di Bandung dan ke kampung halaman.

Ada hal menarik yang saya dapatkan ketika berbincang bersama pak Oji, supir taksi GreenGo yang telah mencari nafkah dari balik kemudi selama 20 tahun lamanya. Hampir melebihi separuh usia saya kini. Pak Oji berasal dari Bogor. Wajahnya ceria dan riang. Dia sangat ramah dan memulai pembicaraan dengan topik hangat dan ringan.

“Mau pulang kampung ya pak? kayaknya banyak banget bawaaannya” tanyanya.

“Ah biasa pak, menghabiskan waktu liburan sama keluarga di Bandung. Kebetulan sekolah istri saya ngadaain rekreasi ke Bandung. Jadi bisa sekalian pulang kampung.” jawab saya.

“Wah, asyik ya pak bisa liburan sama keluarga.”

“Ah biasa aja pak, cuma ke Bandung. Murid-murid saya malah sudah pada kabur ke Luar Negeri. Makanya saya heran, kok orang lain kayaknya duitnya itu pada ngocor kayak air. Kalau kita mah susah bener cari duit sebulan dua bulan.”

Kemudian dia terdiam dan mengambil nafas dalam-dalam. Gelagatnya seperti orang tua saya yang hendak menyampaikan pesan penting.

“Sejauh apapun kita pergi dan segiat apapun kita bekerja mencari nafkah, yang penting adalah yang pandai mensyukuri nikmat yang ada pak”

“Deg” rasanya saya seperti di sambar kereta ketika pak Oji berkata demikian.

“Watak manusia memang tidak pernah puas pak, sebesar apapun gajinya akan selalu merasa kurang. Nah, kita syukurin aja pak apa yang sudah kita dapat”

Nasihat pak Oji begitu dalam. Rasanya memang nyelekit. Meskipun ia seorang supir taksi, cara bicara dan bahasanya bak seorang filusuf. Saya merasa malu mendapatkan balasan seperti itu.

Kemudian pikiran saya melayang-layang. Jika saya selalu memandang yang diatas saya, tentu saya tak akan pernah merasa bersyukur dengan apa yang saya dapat hingga kini. Namun, jika kita bercengkrama dengan orang-orang kecil dibawah kita. Kita akan belajar dengan baik, arti dari rasa bersyukur.

Nikmatilah sekecil apapun yang kamu dapat. Sebaik-baiknya orang adalah mereka yang pandai bersyukur.

Terimakasih pak Oji, sudah mengantar saya dan memberikan petuah singkat. Saya diingatkan kembali bahwa manusia di dunia ini hanya transit. Tak ada artinya harta berlebih bahkan berlibur ke luar negeri jika tak pandai bersyukur. Syukuri nikmat yang ada sekecil apapun agar kita bisa menikmati hidup apa adanya.

Selamat berlibur teman-teman. Salam Hangat dari Bandung.

@DzulfikarAlala

Masih ada waktu untuk vote Ide Inovasi Bermakna dari Philips. Silahkan klik philips.to/ide2 kemudian login menggunakan facebook atau twitter. Hadiah akan saya donasikan kepada yang membutuhkan. Ayo dukung untuk pendidikan lebih baik di pelosok desa.

4 thoughts on “Belajar Bersyukur dari “Orang Kecil”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s