E-Learning, Jawaban untuk Digital Generation


gamification

Baru saja saya mengikuti sebuah kopi darat dengan para guru hebat yang telah melek IT di bilangan Jakarta Pusat, yang membahas tentang Digital Native dan Digital Immigrant. Secara ringkas saya dapat menyimpulkan, terkadang orang tua sebagai Digital Immigrant tidak mengerti cara anak-anak Digital Native belajar dengan cara mereka sendiri. Kerap kali orang tua melihat anak-anak hanya mencari alasan dan terlalu banyak bermain game ketika mereka asyik dengan perangkat gadgetnya. Padahal, dari media seperti itulah mereka bisa mendapatkan pengetahuan dan banyak hal dari seluruh dunia melalui koneksi internet.

Sebagai contoh, ketika seseorang yang tidak minus kemudian disuruh menggunakan kacamata minus, apakah yang terjadi? Dia akan merasa pusing dan tidak nyaman. Begitu juga anak-anak Digital Native. Mereka lahir pada abad modern dimana perubahan peradaban tercermin dari kemajuan teknologi yang begitu pesat. Kesalahan orang tua dan guru ketika memaksakan belajar “cara lama” kepada anak-anak Digital Native. Ini sama saja dengan memberikan kacamata minus pada mereka yang tidak mengalami gangguan mata. Mereka akan berjalan tanpa arah dan cenderung menabrak apa yang ada dihadapan mereka.

Oleh karena itu, tugas orang tua adalah membimbing, mengawasi dan memberikan fasilitas pembelajaran pada anak-anak yang terlahir dalam modernitas dengan ciri kemajuan teknologi yang berkembang sangat pesat. Salah satu contohnya adalah anak saya yang berusia tiga tahun. Ia sudah mahir sekali memainkan sebuah tablet tanpa kursus dan tanpa materi khusus. Ia hanya belajar dari proses melihat kemudian trial dan error. Uniknya, ia akan dengan cepat menghafal ikon-ikon gambar, video maupun ikon game kesukaannya.

Menurut Amiroh Adnan, salah satu penerima Guraru Award tahun 2012, dalam presentasinya saat saya mengikuti mini classnya pada acara kopdar Guraru menjelaskan bahwa ada dua model pembelajaran yang bisa didapatkan dalam sebuah tablet atau gadget. Yang pertama adalah Game Based Learning dan yang kedua adalah Gamification. Kedua model pembelajaran inilah ciri pembelajaran masa depan, pembelajaran digital dan salah satu yang termasuk E-learning. Pembelajaran menggunakan media internet dan media lainnya yang mengikuti perkembangan teknologi.

Game Based Learning di contohkan dengan Game Angry Birds yang ternyata mengandung banyak pembelajaran fisika seperti gaya pegas dan gaya kinetik. Sedangkan Gamification lebih kompleks lagi seperti proses membuat sushi yang dapat dipraktikkan melalui sebuah games.

Artinya secara langsung anak saya pun belajar menggunakan metode gamification karena dia sudah pandai sekali membuat cappucinno secara virtual, mencuci mobil di sebuah car wash virtual, hingga menjadi dokter gigi cilik virtual yang dapat membersihkan gigi, mencabut, hingga menggantinya dengan gigi palsu melalui sebuah game. Inilah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya pada usia yang sama. Anak usia tiga tahun sudah memahami proses sederhana bagaimana menjadi seorang dokter gigi. Disinilah E-learning menembus batas-batas penghalang yang sebelumnya sulit untuk dibuka hingga akhirnya dengan melalui games proses belajar dan mengajar dapat lebih menyenangkan.

Bagi saya, E-learning sangat membantu saya dalam tugas sehari-hari sebagai seorang guru Bahasa Inggris SMA dan Komputer untuk tingkat SMP. Dengan bantuan beberapa social media, saya tidak perlu repot lagi sms satu persatu siswa saya jika ada info penting yang harus disampaikan. Belum lagi jika harus memberikan sebuah kisi-kisi ulangan dan ujian atau pengumuman tertulis. Dengan memanfaatkan layanan social media khusus pendidikan seperti Edmodo, saya bisa kapan saja berinteraksi dengan para peserta didik tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Kegiatan belajar dan mengajar menjadi lebih efisien dan menyenangkan. Anak-anak dapat langsung mengirimkan tugasnya melalui email detik itu juga. Mereka pun tinggal membuka-buka lagi rekaman-rekaman pembelajaran yang telah saya lakukan. Bukan hanya dapat digunakan oleh kelas yang sama tapi juga dapat digunakan oleh kelas yang berbeda sampai beberapa tahun mendatang. Kerena semuanya dapat diakses dan terpublish melalui media blog di WordPress dan vlog di youtube.

Bagi saya, E-Learning adalah berkah. Bagi anak-anak E-learning adalah rumah mereka. Mereka bisa betah berlama-lama dan berjam-jam di lab. komputer demi mengeksplorasi perkembangan aplikasi pendidikan dan riset mendalam secara digital melalui jutaaan informasi yang bisa didapatkan dalam satu sentuhan telunjuk.

E-learning membantu banyak guru dalam memetakan kemampuan siswa dan memenuhi kebutuhan para siswa sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Gap antara si cepat dan si lambat bisa diatasi dengan sebuah media aplikasi pendidikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik. Guru tidak perlu repot lagi dan bingung lagi harus memulai materi dari mana atau harus mengakomodasi peserta didik yang mana. Dalam waktu yang bersamaan setiap siswa masing-masing bisa mendapatkan treatment yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya.

Guru dan siswa tidak bergantung lagi pada kertas yang merupakan pemborosan. Semua dapat dilakukan secara paperless mulai dari kebutuhan pemenuhan tugas hingga ujian secara online yang hasilnya bisa didapatkan secara instan. Kemajuan Google Drive membuat siswa dapat berkolaborasi secara online dan realtime dalam satu kertas kerja yang dapat disusun bersama-sama secera realtime pula dengan cara yang lebih mengasyikkan. Mereka suka dan hasilnya bagi guru sangat menggembirakan.

Ketika pendiri Khan Academy mendapatkan feedback menarik dari para keponakannya, inilah yang membuat dia terus berbagi melalui video youtube. Hasilnya sangat mencengangkan. Anak-anak lebih suka dan lebih cocok belajar melalui youtube ketimbang bertatap muka secara langsung. Artinya untuk cakupan yang lebih luas lagi, semua orang entah itu direktur atau presiden dapat menjadi guru langsung bagi anak-anak dengan cara mempublish materi-materi mereka melalui social media atau video blog.

Proyek-proyek yang dikerjakan akan lebih lama tersimpan dalam sebuah blog dan nantinya bukan hanya bermanfaat langsung untuk diri mereka sendiri tetapi juga dapat bermanfaat bagi semua orang yang mengaksesnya. Inilah pembelajaran digital abad modern yang tidak dibatasi tembok-tembok suci ataupun jeruji sehingga anak-anak bisa bebas mendapatkan segala informasi yang mengambang dan paling mendalam hanya dengan sebuah tuts-tuts keyboard. Mereka tinggal menari-narikan jemari diatas keyboard atau layar sentuh mereka untuk mejawab sebuah pertanyaan dalam benak mereka yang terkadang para orang tua pun tak bisa menjawabnya.

Pada akhirnya betul memang, kita para orang tua adalah imigran dalam jaman mereka. Namun bukan berarti kita diam dan lepas tangan. Belajar itu tugas dan kewajiban setiap insan dari buaian hingga liang lahat. Jadi tidak ada kata terlambat untuk berkolaborasi dan belajar bersama para siswa dan anak-anak. Bukan jamannya lagi orang tua atau guru memonopoli kelas atau ruang keluarga. Justru mereka harus diberikan kesempatan tampil dihadapan orang-orang yang mereka sayangi untuk menunjukkan lompatan-lompatan apa yang telah mereka lakukan. Kita akan tertakjub-takjub dengan gaya dan cara mereka belajar di zaman digital. Akhir kata, E-learning bukan hanya merubah Guru dan Siswa tapi juga akan berhasil merubah peradaban manusia hingga ratusan tahun kedepan.

Salam Hangat
@DzulfikarAlala
IndBerprestasiXL

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog pendidikan dari @IndBerprestasi dari XL

elearning

Elearningstatistics

This slideshow requires JavaScript.

Sumber rujukan:
http://elearninginfographics.com/elearning-statistics-2014-infographic/
http://interactyx.com/social-learning-blog/2013-e-learning-revolution-infographic/
http://elearninginfographics.com/the-future-of-education-technology-infographic-2/?goback=.gde_110953_member_5813287586864603138#!
http://kk.widyatama.ac.id/?page_id=362

2 thoughts on “E-Learning, Jawaban untuk Digital Generation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s