Menghindari Konflik, Cara Sederhana Hidup Bahagia


Cara paling sederhana untuk bahagia adalah menghindari konflik. Sejak pertama kali saya begabung di Kompasiana, terus terang karena ada konflik yang menarik di K. Setelah lama menjadi stalkers, akhirnya join juga dengan K. Saya yakin tidak sedikit yang memiliki pengalaman serupa dengan apa yang saya alami.

Tapi, setelah direnungkan kembali, untuk apa saya menjadi penguntit atau penguping setia mereka yang berkonflik? Apa untungnya bagi saya? Hmmm kalau saya pengacara atau hakim sih mungkin iya bisa jadi bahan latihan. Tapi karena profesi saya sebagai guru, jadi alam bawah sadar saya selalu mengatakan bahwa harus ada win win solution dalam setiap konflik yang terjadi. Tapi, biasanya sih kalau anak K agak sulit untuk think win win. Ini berdasarkan pengalaman loh. Seringnya konflik itu justru cair setelah kopi darat bersama. Nah celakanya kalau gak bisa kopdar, biasanya konflik yang terjadi akan semakin lama dan menggurita. Mungkin sampai dibawa mati akan tetap berkonflik.

Meskipun konflik adalah hal biasa. Pernah juga sih saya nulis hal-hal yang sedikit kontroversi. Yah ujung-ujungnya juga pasti tau. Kita bakal diserbu oleh pihak-pihak yabg merasa dirugikan. Padahal niat saya baik. Tapi ternyata dibaca lain  oleh yang lain. Kenapa? Ya jelas sudut pandang masing-masing berbeda-beda. Di K ini ngumpul semua orang dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Kita cuma disatukan dengan sharing and connecting. Tapi kita kadang lupa Bhineka Tunggal Ika. Spiritnya yang kadang dilupakan.

Lalu sebenernya apa sih yang mau saya omongin. Gini, ternyata setelah mempelajari 7 Habits kembali, saya banyak menemukan manfaat dan hidup saya lebih bahagia dari biasanya. Sebelum menulis sesuatu di Kompasiana seperti biasa, saya memosisikan diri sebagai pembaca juga. Jadi try to understand first than to be understood. Fungsinya sama lah seperti think before posting. Kadang saya juga minta pendapat istri sebelum sebuah tulisan di publish. Sebisa mungkin meminimalisasi sebuah konflik. Jadi saya gali dulu apa manfaat yang akan dibaca atau ditangkap lembaca tanpa terkesan menggurui. Nah ini juga saya belajar dari anak-anak Fiksiana.

Kalau kebayankan mikir gak jadi-jadi posting dong? Memang benar. Kita pilah dan pilih aja, mana yang cocok di publish di Kompasiana mana yang lebih layak di blog pribadi. Makanya kebanyakan tulisan saya di K sekedar curhat sama review. Karena kepakaran saya memang disana, hahaha doyan curcol dah.

Okelah kalau begitu. Buat yang berkonflik adem ayem aja yah. Salah satu contoh konflik yang berujung manis yang saya ingat adalah om Harja Saputra dan Om Jay. Intinya cuma satu, karena mereka bisa kopdar!

Salam Hangat
@DzulfikarAlala

7 thoughts on “Menghindari Konflik, Cara Sederhana Hidup Bahagia

  1. Sama mas dzul..saya juga bukan tipe orng yg seneng konflik, sy plegmatis abis deh, meskipun saya sering tdk setuju dengan pemikirian sebagian orang, yo wis lah..beda kepala beda pendapat..memang begitu adanya,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s