Digital Native yang Terasing dari Kantor Pos


Isitilah Digital Native bisa juga kita sematkan pada anak-anak yang lahir diatas tahun 2000-an. Mereka kerap dianggap juga sebagai generasi Z atau Net Generation. Karena era dimana mereka lahir terjadi perubahan yang cukup besar dalam kemajuan teknologi yang merubah berbagai aspek budaya dan kehidupan.

Namun demikian ternyata bukan saja anak-anak yang lahir diatas tahun 2000 saja, melainkan anak-anak yang lahir diatas tahun 1995 menurut saya masih bisa dikategorikan sebagai Net generation. Mengapa demikian? Berikut adalah pendapat saya.

Istilah Net Generation saya ketahui dari artikel Yusran Darmawan. Ia menceritakan bahwa meskipun anaknya baru berusia tiga tahun tapi sudah mahir menggunakan tablet atau smartphone layar sentuh tanpa diajari. Ini pula yang terjadi pada anak saya yang baru menginjak usia tiga tahun pada bulan November ini.

Berbeda jika kita, para orang tua ketika pertama kali memelajari sebuah smartphone atau sebuah tablet. Kita kerap menyerah jika tak bisa melakukan sesuatu atau menemukan solusi yang kita harapkan. Sedangkan anak-anak generasi Z akan terus berusaha memahami apa yang mereka sedang lakukan. Dan pada akhirnya mereka berhasil dan mampu menunjukkan lompatan-lompatan menakjubkan.

Lalu mengapa saya katakan bahwa anak-anak yang lahir diatas tahun 1995 termasuk generasi Z? Dua hari yang lalu saya terperanggah dan kaget dengan fakta dilapangan yang saya temukan. Ternyata hampir 90 % anak-anak dikelas saya tidak mengetahui bagaimana caranya berkirim surat melalui kantor pos. Kebetulan saya wali kelas untuk kelas X SMA.

Lalu bagaimana saya bisa mengetahuinya? Saat guru Bahasa Indonesia, Pak Bayu berhalangan, ia menitipkan soal ulangan. Karena pada hari yang sama adalah tugas piket saya, akhirnya saya yang mengawas di kelas.

Tibalah pada sebuah soal uraian. Disitu tertulis bahwa anak-anak harus membuat sebuah teks prosedur dengan menceritakan langkah-langkah mengirimkan paket melalui kantor pos. Muncullah beragam pertanyaan yang menurut saya cukup aneh.

“Kalau kirim barang, pakai prangko gak Sir?”
“Emangnya ada loketnya di kantor pos?”

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa anak-anak digital native ini begitu terasing dengan kehidupan kita jaman dahulu yang akrab dengan perangko dan kantor pos. Bahkan hobi filateli bukanlah sebuah hal yang aneh pada masa itu. Tapi bagi mereka, kolektor perangko itu tidak bisa mereka mengerti mengapa sampai harus mengumpulkan dan mengoleksi perangko.

Mereka yang begitu akrab dengan layanan sosial media dan kemudahan  berikirim surat melalui email, menjadikan mereka seperti seorang imigran di jaman kita. Sedangkan sebaliknya kadang kita juga tak begitu mengerti kehidupan para net generation saat ini sehingga dapat mengubah posisinya menjadi kitalah yang merupakan pendatang di jaman mereka.

Saya melihat ada gap disini yang barangkali lupa di sampaikan atau diwariskan. Beberapa tahun kedepan, bisa saja berkirim surat melalui kantor pos merupakan sebuah kearifan lokal yang perlu dirawat dan dilestarikan. Sebetulnya banyak makna yang bisa dipetik jika kita mengirimkan surat melalui kantor pos. Namun, jaman telah berubah. Untuk memaksakam anak-anak berkirim pos pun akan menghadapi banyak tentangan. Baik dari anak-anak, maupun orang tua mereka. Berkirim surat melalui kantor pos mungkin dianggap sia-sia di jaman digital ini.

Pada akhirnya kita sebagai orang tua yang memiliki peran apakah kita ingin memberikan pengalaman baru pada anak-anak bagaimana berkirim surat melalui pos atau bahkan telegram, atau barangkali kita lebih memilih membiarkan mereka berenang dan berasyik masyuk di lautan kode (meminjam istilah Bukik Setiawan). Itu sangat tergantung pada kita sendiri.

Dan akhirnya, saya sebagai guru, memilih untuk memberikan anak-anak didik saya mendapatkan pembelajaran baru meskipun memang  ada sebagian yang merasa keberatan. Tapi, itulah sebuah dinamika yang biasa dalam pendidikan.

Saya ingin mereka belajar dengan melakukannya dan bukan sekedar mengetahuinya dari apa yang telah saya jelaskan. Ini adalah pembelajaran penting bagi mereka. Saya jelas berharap mereka bisa memahami pembelajaran secara langsung ini dengan mengalaminya langsung.

Saya masih ingat ketika masih di boarding school dulu. Surat melalui pos itulah yang kerap kali menguatkan saya untuk tetap bertahan di sebuah asrama yang kerap kami sebut “penjara suci”. Surat yang dibalas langsung oleh ibunda bukan hanya sekedar lembaran secarik kertas, melainkan sebuah doa dan salah satu alasan kuat mengapa saya harus menuntut ilmu dan melawan semua godaan yang ada.

Salam Hangat
@DzulfikarAlala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s