Liputan Kompasiana Modis Bersama Abraham Samad (Ketua KPK RI)


13851415461797642696

Abraham Samad hadir (22/11) di Kompasianival dalam rangka Kompasiana Modis (Monthly Discussion). Yang berbeda adalah Kompasiana Modis kali ini berbarengan dengan ajang tahunan Kompasianival 2013 yang diselenggarakan di Fountain Atrium West Mall lantai 3 A Grand Indonesia, Jakarta. Dan puncak acaranya akan digelar pada hari Sabtu, 23 November 2013 dengan bintang tamu Wakil Gubernur DKI Jakarta yakni Bapak Ahok.

Abraham Samad hadir dengan balutan kemeja berwarna putih dengan garis melingkari kerah hingga menghiasi jalinan kancing bajunya. Abraham Samad sangat ramah dan melemparkan senyum berkali-kali pada para kompasianer yang hadir. Tentu saja kehadirannya tengah ditunggu kompasianer untuk berbincang-bincang tentang pemberantasan korupsi di Indonesia.

Abraham Samad berbicara cukup tegas dan ringkas dalam menanggapi atau menjawab pertanyaan-pertanyaan moderator. Salah satunya Abraham Samad menilai bahwa pola pikir para hakim yang menangani kasus korupsi harus dirubah atau diselaraskan. Jika tidak demikian, maka akan semakin banyak vonis rendah dan akan menguntungkan para koruptor sehingga tidak dapat memberikan efek jera.

 photo 20131122_2045171_zps7a1bba13.jpg

Abraham Samad merasa bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia tidak bisa ditanggung oleh KPK sendirian. Dengan sumber daya manusia (penyidik KPK) sejumlah 60 orang memaksa KPK untuk memprioritaskan kasus-kasus penting saja. Meskipun ada sekitar 30 laporan/hari namun hanya beberapa saja yang bisa ditangani langsung oleh KPK RI.

Abraham Samad menilai juga bahwa angka kemiskinan 12 % sangatlah tidak wajar untuk Indonesia yang kaya raya ini. Untuk itu, melalui KPK RI Abraham akan terus mengejar para pemangku kebijakan dan penyelengara Negara yang bermain-main dengan uang Negara untuk kepentingan dirinya sendiri atau golongannya sendiri.

Abraham Samad merasa bahwa KPK RI memang sudah sangat kepayahan mengatasi korupsi yang sangat massive di Indonesia. Dengan keterbatasan penyidik dan infrastruktur yang ada inilah yang memaksa KPK memprioritaskan kasus-kasus tertentu saja.

Ada dua indikator mengapa kasus tersebut di prioritaskan. Pertama menurut Abraham, kasus itu haruslah kasus korupsi skala besar atau Grand Corruption. Contohnya kalau pelakunya oknum menteri atau paling rendah dirjen yang akan pertama kali di usut. Contohnya yang sudah diusut adalah kasus Hambalang dan kasus Ketua MK. Yang jelas pelakunya adalah penyelenggara Negara dan penentu kebijakan.

Indikator yang kedua adalah jumlah kerugian Negara. Contohnya seperti Gayus Tambun. Meskipun pegawai pajak biasa namun merugikan Negara ratusan milyar. Inilah indikator yang kedua mengapa kasus tersebut di prioritaskan.

Lalu bagaimana dengan kasus-kasus yang lebih kecil? Abraham menjelaskan bahwa untuk kasus yang tidak masuk skala prioritas akan meminta bantuan Kepolisian dan Kejaksaan untuk mengusutnya. KPK akan tetap hadir sebagai supervisi, karena KPK juga khawatir jika kasusnya telah dilimpahkan malah di peti es kan atau di hentikan. Artinya KPK tidak pula melepas begitu saja kasus-kasus yang telah dilaporkan masyarakat.

Sebab itulah, karena skala prioritas yang ditetapkan KPK RI malahan tidak sedikit masyarakat yang beranggapan justru KPK melakukan tebang pilih. Padahal jika mampu, sebenarnya KPK ingin sekali menggerus koruptor-koruptor yang merugikan Negara. Karena skala korupsi di Indonesia ini sudah dalam tingkat yang MASSIVE!

Abraham Samad pun mengakui pernah mengajak bicara para pengusaha mineral dan barang tambang tentang royalty yang seharusnya mereka bayarkan kepada pemerintah. Yang mengejutkan adalah hampir 50 % dari mereka tidak membayar royalty kepada pemerintah! Setelah ditanyakan lebih jauh, ternyata para pengusaha mengakui bahwa mereka bahkan mengeluarkan royalty lebih besar kepada para pemangku kebijakan dan aparat yang berwenang.

Dengan korupsi massive seperti itu, Abraham Samad sangat setuju dan mendukung pemiskian koruptor. Aset dan kekayaannya harus disita dan kemudian di kembalikan kepada Negara. Salah satu contohnya adalah harta kekayaan Djoko Susilo yang hampir 50 % sudah di sita oleh KPK RI. Sayangnya 50 % sisanya dianggap hilang tanpa jejak. Abraham Juga mendukung vonis terhadap Angelina Sondakh yang dihukum lebih berat dari vonis sebelumnya.

Masalah kekurangan penyidik ternyata menjadi perhatian khusus seorang Kompasianer, Erri Subakti berkomentar dengan nada geram “Kenapa tidak di tambah saja penyidiknya?” Abraham Samad menilai bahwa belum ada good will dari Eksekutif dan Legislatif sebagai penentu kebijakan untuk mendukung KPK menambah penyidik. Abraham Samad menilai bahwa sepertinya eksekutif dan legislative terkesan ketakutan dengan gerakan-gerakan KPK dan langkah-langkahnya. Dengan 60 penyidik saja sudah beberapa kali menggegerkan Indonesia apalagi jika harus di tambah dengan 1000 penyidik yang pernah diajukan oleh KPK.

“Boro-boro penyidik baru, minta gedung baru saja susahnya minta ampun” begitulah kira-kira jawaban Abraham Samad tentang kelakuan Eksekutif dan Legislatif yang hanya LIP SERVICE BELAKA! Dan Abraham Samad menilai bahwa ada upaya sistematis untuk mencegak KPK RI semakin besar. Selama ini eksekutif dan legislative hanya berwacana saja memberantas korupsi.

Dikesempatan yang sama Abraham pun menjawab pertanyaan Om Jay yang bertanya mengenai mengapa Anas masih bebas sementara LHI sudah ditangkap. Sepertinya ada kecemburuan diantara dua partai koalisi tersebut hehehehe.

Abraham membeberakan bahwa LHI tertangkap melalui operasi tangkap tangan sedangkan Anas berbeda. Anas akan di tangkap jika berkas perkaranya sudah mencapai minimal 60 % sehingga dengan perkiraan waktu 120 hari masa penahanan, diharapkan berkas perkaranya lengkap. Jika lewat dari 120 hari dan berkas belum kelar, tentu saja Anas bisa lepas lagi. Inilah mengapa Anas sampai saat ini masih bisa melenggang. Namun, Abraham Samad seolah menjamin bahwa setiap tersangka yang ditetapkan oleh KPK RI sudah pasti dijebloskan ke penjara! Tidak pernah ada tersangka yang tidak ditangkap oleh KPK RI dan lolos begitu saja.

Jadi sekali lagi Abraham Samad menegaskan bahwa tidak ada diskriminasi sama sekali. Bahkan Abraham Samad berkomentar dengan manis bahwa penahanan Budi Mulia dalam kasus Century adalah awal dan bukan akhir. KPK baru saja memulai drama kasus Century dan bukan akhirnya.

Pak Dian Kelana pun bertanya kapan Atut akan ditangkap? Penerawangan saya, KPK RI akan segera menangkap Atut dan Airin. Abraham Samad pun menyinggung gaya hidup Atut dan Airin yang hedonis, sementara ada rakyatnya yang kelaparan. Abraham Samad pun sempat bercerita tentang keteladanan Khalifah Umar Bin Khattab yang selalu berkeliling kota setiap malam untuk mengecek apakah rakyatnya ada yang belum tidur karena kelaparan.

Apa yang dilakukan KPK agar generasi muda bangsa bisa melanjutkan cita-cita KPK adalah dengan dirancangnya kurikulum pendidikan anti korupsi yang diterapkan pada pendidikan dasar. Bahkan tahun 2012 pendidikan anti korupsi sudah diterapkan di Pendidikan Dasar Usia Dini. Harapannya semoga generasi inilah yang dapat memutus mata rantai korupsi di Indonesia.

Disesi akhir acara, Abraham Samad pun dengan sabar meladeni para blogger yang minta foto bareng. Salah satunya ini nih hehehe. Empat orang Kompasianer yang bertanya mendapatkan buku terbaru karya Kang Pepih.

1385141622676506242

Salam Hangat

@DzulfikarAlala

19 thoughts on “Liputan Kompasiana Modis Bersama Abraham Samad (Ketua KPK RI)

    1. Udh ditanyakan juga dan udah di jawab. penangkapan budi mulia baru awal pengungkapan kasus century. jd tunggu aja dramanya berlanjut akan seperti apa heheh

      1. semoga ada transparansi ya.. coba deh kamu baca buku Indonesian archepalgo fear dari situ akan menambah pengetuhuan tentang hitam kelabunya politik indonesia

      2. Waahhhh gitu yah. Km keren banget deh. Aq suka sm org yg gemar berburu buku. Krn udh jrg banget org seperti itu. #aduhkokbahasasinetrongini wkwkwkw

      3. ah gk Zul lagi suka buku politik aje heheh😀.. itu juga buku aku dapat dari temanku terus aku baca dan membuat kepalaku pusing karena yang ada di dalam buku itu seakan menamparku heheh,, ntar dah mau review buku itu. Kalau u google pasti sedikit atau belum ada yang review. aku juga takut review nya takut di penjara. ntar dah aku fotocopyin lalu aku krm ke u

      4. walah masak review doang bisa di penjara? ayooo tulissss #kompor tp klo dipenjara gak janji nemein yah hahahahahaha

      5. waahhhhhh ciyus nih? aduhhh makasih bangettt wiiinnnn lop yu dah hahahahaha

        masih nyimpen alamat ku kan? klo udh di buang dengan senang hati aku kirimkan lagi hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s