7 Petualang Menaklukan 7 Keajaiban Nusantara


wira
Melepas Keberangkatan 7 Petualang (dok.Wiranurmansyah)

Ada perasaan sedih ketika tidak bisa mengikuti lomba blog Terios 7 Wonders Sahabat Petualang. Pasalnya, berprofesi sebagai seorang guru sudah barang tentu tidak bisa mengambil libur panjang atau cuti terlalu lama. Inilah sebuah dilema ketika seorang guru bercita-cita ingin mengelilingi nusantara. Panggilan jiwa untuk mendidik menjadikan alasan utama mengapa harus menunda hingga meyakinkan diri bahwa pasti ada saatnya nanti Tuhan menjawab doa saya untuk keliling Nusantara.

Kesedihan itu pupus sudah ketika mengetahui bahwa dua dari tujuh petualang adalah sahabat karib yang baru saja sama-sama mengalami pengalaman menakjubkan, menyelam hingga ke kedalaman 18 meter dibawah permukaan laut di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Keduanya merupakan finalis pada sebuah lomba yang di gelar oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta yang bekerjasama dengan Vivalog. Mereka berdua adalah Harris Maulana yang belakang ternyata menjadi juara pertama dalam lomba blog Terios 7 Wonders dan Bambang yang telah menjadi pemenang pada lomba sebelumnya. Keduanya merupakan blogger hebat dan membuat saya bangga memiliki teman-teman seperti mereka.

Ada 7 destinasi wisata yang telah dikunjungi oleh 7 petualang menjelajah bersama Daihatsu Terios. Diantaranya adalah pantai Sawarna, Gunung Merapi, Gunung Bromo, Taman Nasional Baluran, Lombok, Sumbawa, dan terakhir di Taman Nasional Komodo. Selain menikmati keindahan alam Nusantara, ke tujuh petualang yang merupakan blogger dapat merasakan kenyamanan dan ketangguhan Daihatsu Teiros terbaru yang khusus di gunakan dalam Terios Jelajah 7 Keajaiban Nusantara.

Sunset batu layar Sawarna (dok.Harris Maulana)

Tak pernah ada yang menyangka bahwa Banten memiliki pesona laut yang istimewa. Sayangnya infrastruktur jalan masih belum begitu baik sehingga tim Terios 7 Wonders harus memilih jalur melalui Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Padahal Jakarta berbatasan dengan Provinsi Banten. Inilah yang menjadi keluhan para traveler betapa akses menuju destinasi wisata lokal ternyata butuh perjuangan lebih dibandingkan berangkat ke negeri tetangga seperti Singapura atau Malaysia.

Namun demikian, alam Sawarna tetaplah memiliki pesona mistis untuk dikunjungi dan di ekplorasi. Tak ayal setiap muda mudi dan pasangan muda akan betah berlama-lama menikmati deburan ombak yang hilir mudik bersambut menyisir pesisir pantai.

Tak butuh waktu lama, pada hari berikutnya Harris Maulana dan kawan-kawan sudah menapaki kaki Merapi dan sekali lagi menjajal ketangguhan Daihatsu Terios dengan kelir putih. Warna yang cukup kontras dengan debu dan abu yang bercampur salam kelabu.

Terios di kaki gunung merapi (dok. Harris Maulana)

Bukti-bukti yang disajikan membuat hati mengigil melihat maha dashyat ketika merapi mengamuk dan mengeluarkan asap panas yang memiliki kecepatan seperti pesawat tempur. Semua dilalap dan dihantam hingga luluh lantah. Hanya sisa-sisa kehidupan yang menjadi saksi bisu menutup satu lembaran kelabu yang tak pernah bisa disembunyikan.

sisa erupsi Merapi (dok.wiranurmansyah)

Sisa-sisa bangkai kehidupan menjadi bukti nyata bahwa manusia itu kecil dihadapan Tuhan. Seangkuh apapun manusia dengan segala kecerdasan dan tipu dayanya akan luluh lantah dan tak berdaya sedikitpun dengan amuk masa wedhus gembel (awan panas) dengan panas lebih dari 100 derajat celcius sehingga bisa berkali lipat merbus dan menghanguskan apa yang dilewatinya.

Puput sang Petualang (dok. Bambang)

Ranupane memiliki cerita mistis namun romantis sehingga setiap kawula muda yang pernah menonton film 5 cm yang diangkat dari sebuah kisah novel petualangan segera mewujudkan mimpinya menjejakkan kaki di puncak gunung Bromo. Inilah salah satu pesona alam khas Indonesia yang memilki danau diatas permukaan laut sehingga membutuhkan skill khusus dan alat tersendiri untuk menyelaminya.

Keindahan malam Ranu Pane (dok.wiranurmansyah)

Tak perlu menyelam dinginnya danau Ranupane untuk membuktikan keindahannya, cukuplah menunggu waktu sedikit lebih malam dan menyaksikan galaksi dan taburan bintang yang tak dapat disaksikan di ibu kota di pekatnya malam sekalipun. Polusi cahaya di kota tak memungkinkan melihat keajaiban keindahan taburan bintang Ranupane. Langit Ranupane seolah mencerminkan keindahan danau di kaki gunung Bromo.

Tenda di sisi danau Ranupane (dok. Harris maulana)

Tak perlu menunggu waktu lama. Tujuh petualang bersama Terios melanjutkan perjalanan menuju destinasi yang bertolak belakang dengan Ranupane yang menyajikan kesegaran mata dan membuat terpana siapun yang melihat dirinya diatas pantulan air danau. Seolah wajahnya selalu berkilau karena pantulan dedaunan yang menyegarkan.

Inilah hutan yang sesungguhnya, Taman Nasional Baluran yang dikenal dengan Afrikanya Jawa yang berada di ujung sebelah timur pulau Jawa. Cocok sekali jika datang pada musim kemarau sehingga alam dan kondisnya nyaris menerupai savanah di Afrika dengan berbagai aneka ragam flora dan faunanya. Tak jarang para pelancong dari dan yang menuju Bali menyaksikan sendiri banteng-bantengan dengan berat berton-ton sedang merumput di pesisir jalan dengan bebas.

Taman Nasional Baluran (dok. wiranurmansyah)

Di timur Jawa inilah tanah kelahiran Kakek dan Ayah saya. Tapi mereka lupa menceritakan keindahan alam Baluran meskipun jarak tempuhnya hanya beberapa jam saja dari kampung halamannya di Situbondo, Jawa Timur. Melewatinya saja sudah memberikan kesan mendalam, seperti bukan di Indonesia. Samping kanan dan kiri dipenuhi dengan pohon-pohon Jati yang meranggas. Konon, inilah pohon jati dengan kulitas kedua setelah di Jawa Tengah dengan skala tingkat dunia. Semakin panas alamnya semakin baik lingkungannya untuk sebuah pohon kayu bernama Jati dan yang banyak diburu penebang liar.

Warna Kerbau yang mimikri ditengah bebatuan layaknya seekor bunglon (dok. bambang)

Tak heran jika taman nasional ini sering kecolongan menurut beberapa penuturan tukang jualan di depan gedung informasi Taman Nasional Baluran. Mereka tenyata polisi hutan yang nyambi sebagai pedagang demi mencari tambahan. Inilah ironisnya negeri ini. Mereka harus menjaga aset negara disisi lain pendapatan terbatas sehingga apapun mereka lakukan asal halal demi menghidupi anak istri yang telah di boyong dari kampung halaman.

Baluran (dok.wiranurmansyah)

Salah satu keajaiban Indonesia yang memiliki beragam kekayaan alam di satu pulau yang sama. Sungguh keajaiban yang belum tentu di miliki oleh belahan benua manapun jua. Inilah bukti mengapa bangsa ini harus banyak bersyukur dengan membantu merawat dan melestarikannya sebagai warisan alam bagi anak cucu di masa mendatang.

Sunset di Taman Nasional Baluran (dok. harris maulana)

Setelah melewati selat Bali, tibalah 7 petualang di pualu Dewata dengan destinasi Lombok. Disinilah terlihat secara nyata bahwa kearifan lokal bisa jadi hanya seremonial belaka di kota wisata. Sebuah budaya yang sedikit demi sedikit mengalami abrasi arus modernitas. Sebagai salah satu cirinya adalah masuknya minuman bersoda di tengah-tengah pemukiman warga yang masih asli dan asri. Jauh sebelum facebook dan twitter ada, minuman besoda merupakan contoh nyata sebuah akulturasi budaya modern dengan budaya lokal.

Penyambutan melalui kearifan lokal (dok.wiranurmansyah)

Beruntung jika masih ada kearifan lokal yang tersisa. Susah payah warga Sunda memperkenalkan Angklung di tanahnya sendiri hingga akhirnya diakui setelah dibawa ke luar negeri. Inilah ironi negeri ini. Sebuah keraifan lokal yang entah sampai kapan harus bertahan dan siapa yang siap diwariskan ditengah arus modernitas yang semakin menggurita.

Wajah kearifan lokal (dok.wiranurmansyah)

Tak mungkin mereka yang akan mengajarkan kepada anak cucunya yang gengsi dengan apa yang dilakukan nenek moyang. Net generation kerap dan acap kali lupa dari mana mereka berasal. Mereka kerap lebih tertarik dengan dunia yang belum mereka kenal, karena disitulah mereka merasa menemukan kehidupan yang selama ini dicarinya. Beruntung masih ada pemuda dan tokoh muda masyarakat yang masih peduli dan percaya bahwa budaya dan kearifan lokal harus terus terjaga kelestariannya dan tidak boleh sampai punah.

Generasi selanjutnya (dok.wiranurmansyah)

Setelah menikmati kearifan lokal desa Sade, Rambitan, Lombok tim Terios 7 Wonders melanjutkan perjalanan menuju pulau Sumbawa. Disinilah lahir banyak penunggang kuda dan kuda-kuda tangguh yang bernilai tinggi.

Kuda Sumbawa (dok. harris maulana)

Inilah salah satu kearifan lokal yang dikenal diseluruh nusantara dengan khasiat susu kuda liarnya. Di daerah yang lahannya masih cukup luas memang sangat cocok melepas peliharaan tanpa kandang. Inilah teknologi peternakan yang seharusnya dikembangkan. Kita terlalu sibuk belajar ke luar negeri sedangkan kearifan lokal justru dipelajari dan tengah diperebutkan lisensinya. Pasti ada hikmah yang diberikan orang tua kita agar selalu menjaga dan melestarikan budaya sendiri.

Labuan Bajo, Surga Para Penyelam (dok.harris maulana)

Destinasi terakhir menjadi pamungkas tujuan Terios 7 Wonders. Inilah kenikmatan para traveler yakni menyelam. Dengan dipandu dive master para petualang pun harus diberikan workshop khusus demi keselamatan jiwa. Bagaimanapun menyelam adalah olahraga yang paling menyenangkan sekaligus memiliki resiko cukup tinggi diantaranya adalah emboli udara.

Tak banyak yang mengetahui emboli udara bahkan terkadang seorang dokter sekalipun. Disinilah pengetahuan seorang penyelam bertambah betapa bahwa diving itu bukan semata kesenangan belaka. Ada etika yang harus dipatuhi dalam atau saat menyelam.

Berwisata sambil melakukan edukasi dan kegiatan sosial. Itulah yang tercermin dalam rangkaian petualangan 7 blogger bersama Daihatsu Terios yang tidak mengalami kendala sedikitpun. Semua berjalan lancar dan mulus.

Kebersamaan tim petualang sudah barang pasti akan semakin mempererat persaudaraan dan persahabatan diantara mereka. Sudah barang pasti mereka semakin peduli sesama dan tak kan pernah melupakan kebersamaan dan kenangan selama 14 hari lamanya.

Tawa, lelah, letih dan gembira dilalui bersama. Kini yang ada hanyalah kenangan manis yang suatu saat mudah-mudahan bisa saya rasakan juga pada event mendatang bersama Daihatsu Terios.

Terios 7 Wonders Nusantara Team (dok.wiranurmansyah)
Ketangguhan Daihatsu Terios telah teruji (dok.wiranurmansyah)
Sunset terakhir di Labuan Bajo (dok. Wiranurmansyah)

Salam Hangat

@DzulfikarAlala

Terimakasih pada 7 petualang yang foto dan artikelnya banyak menginspirasi tulisan saya. Terimakasih telah bersedia meminjamkan foto-foto kerennya yang dapat menceritakan seribu peristiwa. Terimakasih telah berbagi untuk Indonesia.

Screen Shot 2013-11-25 at 10.23.21 PM Screen Shot 2013-11-25 at 10.23.07 PM

terios

3 thoughts on “7 Petualang Menaklukan 7 Keajaiban Nusantara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s