Renungan Awal Tahun Baru Islam, Muharram 1435 H


Banyak hal yang sudah pasti kita lewati, sadar atau tidak sadar. Celakanya kalau waktu sudah berlalu tapi kita tidak menyadari dimana posisi kita. Lebih baik atau sebaliknya?

Indikator keberhasilan bukan dilihat dari seberapa baik pencapaian kita selama ini dibandingkan dengan orang lain, melainkan seberapa baik kita menata diri dibandingkan dengan apa yang sudah kita lewatkan tahun sebelumnya. Menjadi lebih baik memang tidak mudah, butuh konsistensi dan kedisiplinan.
Salah besar jika kita membandingkan pencapaian kita dengan apa yang dicapai orang lain. Indikatornya adalah diri sendiri. Jika kita terlalu banyak membandingkan dengan pencapain orang lain, artinya kita tidak fokus untuk mengelola diri sendiri. Tidak adil jika membandingkan kecepatan ikan didalam air dengan kecepatan kelinci di daratan.

Itulah mengapa semua memiliki bakat dan anugerahnya masing masing. Orang tua dan guru pun tidak elok jika membandingkan prestasi anaknya antara anak yang satu dengan anak yang lain.

Bahasan diatas memang fokus pada kemenangan mandiri. Setelah kita merasa ada perbaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya meskipun sedikit, barulah kita melangkah pada kemenangan publik.

Kemenangan publik disini sangat sederhana. KH. Muchtar Adam, kakek saya berulang kali bilang bahwa inti dari ajaran Islam adalah Ma’rifatullah. Inti Ma’rifatullah adalah Akhlak dan inti Akhlak (budi pekerti) adalah menggembirakan orang lain. Nah, sudahkan kita menggembirakan orang lain? Sudahkan kita rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain?

Angkatan jaman PMP atau PPKN sudah pasti mendapatkan pelajaran bahwa kita harus mendahulukan kepentingan publik dibandingkan kepentingan sendiri. Namun kenyataannya selama ini pendidikan moral dan karakter gagal diimplementasikan. Konflik merebak dimana-mana. Entah skala yang kecil dalam keluarga (perceraian) hingga skala yang lebih besar dalam masyarakat (tawuran, perang saudara).

Korupsi yang merajalela membuktikan bahwa para koruptor yang rata-rata mengenyam pendidikan tinggi ternyata bejad moralnya. Setingkat Professor dan Doktor seolah menunjukkan bahwa kepentingan memenuhi nafsu perut harus dibayar dulu dengan mengecap pendidikan tinggi tanpa hati bahkan agama. Ironi negeri ini. 

Jadi, marilah kita kembali pada fitrah manusia yang welas asih. Silih asih, silih asah dan silih asuh. Akhlak tak memandang agama, suki, ras, bahkan madzhab. Sudah terlalu mudah kita dibodohi dan diadu domba oleh pihak2 yang berkepentingan terhadap SDA negeri ini bahkan rasa takut jika Indonesia menjadi negara yang kuat dan berdaulat sepenuhnya.

Persiapma  anak didil kita untuk menutus dendam dan mengurangi luka batin mereka. Ajarkan  mereka sains dan teknologi yang dilandasi dengan agama yang kuat. Agar ketika mereka besar nanti, dapat memenuhi dan melayani kaum dhuafa. Bukan untuk memenuhi nafsu perut belaka.

Selamat Tahun Baru Islam, Muharram 1435 H

Salam Hangat
@DzulfikarAlala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s