Nasionalisme dalam Secangkir Kopi


Pertemuan kamis lalu saat pelajaran TIK bahasannya jadi berubah tentang kopi. Entah bermula dari mana. Yang jelas salah satu murid saya menyebut salah satu brand kopi Star*uck.

Sebagai seorang blogger yang pernah kopdar bareng Pak Bondan dan bahkan pernah ikut lomba blog 10DaysForASEAN yang salah satu materi bahasannya tentang kopi, bikin saya jadi panas membara kayak bakaran sate mendengar gerai kopi itu disebut.
Bukan masalah gengsi semata kalau bicara tentang kopi asal US itu. Dari bahasan Entrepreneurship memang bisa jadi teladan, tapi bagi seorang negara yang mencintai tanah airnya, saya hanya sekali saja mencicipinya dan tidak akan pernah lagi mau minum disana.

Apa pasal? Di US sendiri, kopi asal Sumatera telah menjadi primadona. Bahkan bukan hanya di Amerika, kopi Indonesia semakin di kenal. Belanda, Jerman dan negara Eropa lainnya kopi kita sudah cukup mendunia. Lalu disaat orang lain diluar sana menikmati kopi Indonesia kenapa kita harus bangga minum kopi di cafe asal Amerika dengan porsi kopi hanya 50% dalam setiap cangkirnya?

Kalau kita baca perjuangan Ghandi, dia benar-benar mampu membumikan kecintaan rakyatnya terhadap produk lokal. Lihat sekarang hasilnya. Dunia otomotif India mampu bersaing di kancah dunia. Ada Tata Motors yang mengklaim sebagai perusahaan mobil pertama yang memproduksi mobil murah di dunia. Lalu ada TVS dan Bajaj Pulsar dengan teknologi dua busi yang telah di patenkan.

Kita, Indonesia hanya sebagai konsumen saja ditengah perebutan kue otomotif di bumi sendiri.

Maka, saya tidak ingin petani kopi Indonesia terus terpuruk karena kenyataan dilapangan cukup jomplang. Kopi kita banyak dijual di gerai-gerai asing. Kita membeli secangkir saja dengan harga yang sangat mahal. Padahal mereka membeli dengan harga murah pada petani kopi kita. Salah? Tidak. Hanya kitanya saja yang bodoh!

Jadi, ketika ada murid saya yang merasa bangga dan cukup berkelas menikmati secangkir kopi di gerai kopi asing, hal tersebut tidak berarti apa-apa bagi saya. Dan saya bilang dengan bangga pada mereka bahwa “Saya minum kopi Ulee Kareng dari Aceh dua cangkir sehari. Cukup dengan harga secangkir kopi di gerai asing itu, saya bisa dapatkan 1/4 kg kopi asli Indonesia yang aromanya sudah tersohor hingga ke negara seberang.”

Untunglah saya punya adik yang dinas di Aceh. Jadi setiap dia pulang kampung, oleh-oleh yang selalu saya minta adalah Kopi. #coffeemorning

Salah Hangat

@DzulfikarAlala

2 thoughts on “Nasionalisme dalam Secangkir Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s