Nonton Film Dewasa Agar dianggap Dewasa? Oh No!


Ada ada saja klaim Bagas, katakanlah namanya demikian. Ia adalah salah satu murid saya. Gayanya memang dewasa tapi sikapnya masih kanak-kanak. Klaim yang dia katakan pada teman-temannya memang membuat kami terkejut.

Bagas termasuk anak yang cerdas. Dia memiliki banyak bakat yang belum kami ketahui sepenuhnya. Mindsetnya agak berbeda dengan anak-anak seusianya. Barangkali itulah pengaruh tontonan dan kebiasaannya selama ini.
Sejak kecil Bagas memang belajar di sekolah Internasional, sehingga alasan itulah yang membuatnya terampil berbahasa asing. Bagas menjadi lebih suka tontonan dari tv kabel berbahasa Inggris dibandingkan tv lokal. Memang ada bagusnya karena tidak diracuni tontonan alay nan tidak bermanfaat. Tapi, ternyata ada konsekwensi lain dari kebiasannya menonton program berbahasa asing.

Bagas mengalami cultural shock, atau barangkali malah kami yang mengalami cultural shock dalam memahami Bagas. Misalnya ketika memanggil seorang guru, dia tetap menggunakan kata ganti “kamu”. Dalam berbahasa Indonesia jelas hal ini tidak lumrah dikatakan seorang murid kepada gurunya, karena ada padanan kata yang lebih sopan ketimbang memanggil guru dengan kata “kamu”. Atau murid seperti Bagas bisa memanggil gurunya dengan sebutan Pak Guru atau Mister Fulan.

Inilah yang membuat beberapa rekan guru sedikit kaget dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bagi teman-temannya, Bagas layaknya seperti orang asing yang baru datang dari luar negeri. Kerap kali Bagas mengerundel dengan menggunakan Bahasa Inggris, dan itupun bahkan ia lakukan pada gurunya.

Bagi saya Bagas adalah sosok murid yang unik. Dilihat dari hubungan sosialnya dengan teman-temannya, tampaknya Bagas mengalami sedikit kesulitan, namun demikian ternyata dengan sikap Bagas yang berbeda membuat dia disukai salah satu teman sekelasnya. Hahaha ada-ada saja nih memang anak-anak.

Yang mengejutkan inilah yang membuat kami khawatir. Bagas berseloroh pada teman-temannya bahwa ia beberapa kali pernah menonton film dewasa, menurutnya itulah salah satu cara agar ia dianggap dewasa. Walahhhh!!! Mendengarnya saya jadi tertawa sambil mengurut dada. Bagaimana mungkin anak berbakat seperti Bagas bisa berpikiran seperti itu. Untunglah teman-temannya yang masih polos melaporkan kebiasan Bagas tersebut.

Sebagai guru TIK dengan porsi jam mengajar yang sangat sedikit, menjadikan saya tidak terlalu banyak berinteraksi dengan Bagas. Selama dikelas Bagas memang menunjukkan kemampuan diatas rata-rata. Setelah ditelusur ternyat Bagas pun memiliki bakat menulis dan menggambar manga. Luar biasa!

Bagi saya inilah tantangan seorang guru bagaimana bisa melejitkan potensinya yang telah unggul. Sisi lainnya adalah dia miskin karakter. Sikapnya terhadap orang lain masih jauh dari sopan santun. Mungkin karena mindset barat itulah yang membuat Bagas tidak memiliki unggah ungguh. Disinilah peran seorang guru betapa pentingnya memahami anak secara mendalam. Terkadang guru buru-buru memberikan cap “nakal” pada anak-anak seperti Bagas tanpa menelaah lebih jauh.

Untunglah Bagas memiliki wali kelas yang mau memahaminya lebih dalam. Wali kelasnya telah mengundang orang tuanya untuk berdiskusi lebih jauh tentang Bagas. Sekarang tinggal bagaimana caranya membuat potensi Bagas tidak terbuang sia-sia dan menanamkan moral dan memperkuat budi pekertinya sehingga kecerdasannya bukan semata intelektual tapi juga memiliki karakter yang baik.

Salam Hangat
@DzulfikarAlala

Salam Hangat
Diskusi bareng saya di twitter @DzulfikarAlala

4 thoughts on “Nonton Film Dewasa Agar dianggap Dewasa? Oh No!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s