Pulang Kampung Pakai Ambulan? Asyik Loh!


ambulance Moda transportasi tak biasa, namun meninggalkan banyak kesan.

Desember tahun lalu menjadi sebuah perjalanan yang paling berkesan buat saya. Bayangkan, itulah pertama kalinya saya pulang kampung dengan mengendarai sebuah mobil ambulan. Mobil ambulan yang biasa digunakan untuk membawa orang sakit dan mayat memang tak lumrah digunakan untuk pulang kampung bahkan untuk moda transportasi sehari-hari. Tapi, kedua orang tua saya hanya memiliki mobil itu. Ambulan itu adalah mobil satu-satunya yang bisa digunakan oleh kedua orang tua saya menemani aktifitas sehari-hari dan mencari nafkah.

Ingin sedikit bercerita, mobil ambulan itu adalah sumbangan (CSR) dari salah satu travel perjalanan haji dan umroh. Kebetulan kedua orang tua saya menjadi member marketingnya yang memiliki sistem MLM. Karena kedua orang tua saya bekerja di sebuah Pondok Pesantren, kemudian kedua orang tua saya mengajukan sebuah ambulan pada travel tersebut. Alhamdulillah pengajuan dikabulkan, dan mobil tersebut bisa dipergunakan selain sebagai ambulan gratis untuk membantu kaum dhuafa yang membutuhkan, juga dapat digunakan sebagai mobil operasional kegiatan marketing kedua orang tua saya. 

Nah, beberapa bulan setelah mobil tersebut datang, langsung digunakan untuk pulang kampung sekaligus melakukan presentasi pemasaran jasa umroh dan haji di kampung halaman. Sekali tepuk, dua tiga nyamuk bisa didapat hehehe. Pulang kampung kali ini juga memiliki tujuan lain yaitu menghadiri undangan pernikahan saudara sepupu. Kebetulan diselenggarakan di libur semester pertama, akhirnya saya berinisiatif untuk ikut juga. Sekaligus bisa menjadi supir cadangan buat ayah saya.

Masih ingat percakapan seorang tukang baso dengan ibu saya saat mengetahui bahwa kendaraan yang kami gunakan adalah ambulan. “Ibu, itu teh mobil ambulan?” tanya tukang baso itu. “Leres bapak, itu teh ambulan gratis buat kaum dhuafa. Sok bapak daftar aja, bisi nanti bapak mau dianter jemput gratis” ibu saya ngomong kayak gitu dengan muka datar seperti tidak terjadi apa-apa. Karena bagi beliau kematian itu yaa hal biasa. “Ih amit-amit atuh ibu, meski gratis juga da pasti gak ada yang mau atuh ibu” jawab tukang baso itu sambil mengelus-ngelus perutnya yang sedikit buncit layaknya bumil yang sedang menolak bala.

Semburat pagi di Rancaekek, Bandung

Perjalanan dilakukan setelah salat subuh. Perjalanan dari Bandung utara melalui jalur selatan. Rencananya akan menginap semalam di Yogyakarta kemudian dilanjutkan ke Situbondo Jawa Timur. Karena masih masa-masanya liburan dan musim penghujan, sudah tradisi sepertinya jika terjadi banjir langganan di daerah rancaekek hingga ke arah Naggrek. Wal hasil banyak mobil yang tertahan berjam-jam sejak semalam sebelumnya. Kemacetan karena banjir tersebut menjadi headline di media nasional. Bahkan beberapa orang yang hendak hilir mudik terpaksa harus berjalan kaki untuk menembus banjir. Kendaraaan yang mogok pun tak terbilang karena tingginya debit air sehingga mengakibatkan banyak kendaraaan yang terpaksa berhenti demi menyelamatkan diri dari banjir.

Syukurlah saya sudah mengetahui kondisi yang sedemikian parah sejak semalam sebelumnya. Konon dari ujung radio masih ada beberapa pengguna jalan yang sudah terjebak sejak semalam. Artinya mereka menginap di dalam mobil demi menunggu banjir surut. Walhasih demi menghindari kemacetan yang tiada akhir, ayah saya memutuskan untuk melewati jalur alternatif. Melewati industri susu terbesar di Bandung dan melewati sebuah pasar hewan. Bagi saya yang kurang mengenal Bandung tentu perjalanan tersebut merupakan tantangan awal, kami harus berjibaku melewati jalanan kampung yang jarang dilewati kendaraaan. Tapi itulah satu-satunya jalan alternatif yang bisa di lewati. Bahkan, meskipun saya sudah menggunakan GPS, ternyata jalan alternatif tersebut belum terdata dalam sistem mapping Google. Walhasil kami seperti biasa mengandalkan keramahan warga kampung agar tidak tersesat.

Melewati jalan alternatif yang masih asri ditengah pematang sawah yang berkabut

Yang unik adalah kami melewati jalanan yang tak biasa. Melewati pematang sawah bahkan disambut dengan kabut tipis di pagi hari. Tak perlu menyelakan pendingin, karena cuaca saat itu sudah cukup dingin. Udara segar menyeruak masuk ke sela-sela jendela. Saya tak tahan dengan dinginnya udara pagi. Hanya sedikit celah yang saya sisakan demi merasakan kesegaran udara pagi namun masih takut mendapatkan dinginnya udara pagi.

Alhamdulillah setelah menyusuri jalan alternatif, akhirnya kami bisa kembali ke jalan utama kemudian langsung menyusuri lembah nagrek yang berliku. Jalanan cukup lancar pagi itu karena saya pikir masih banyak mobil yang tertahan di kemacetan. Tak lupa kemudian saya share jalan alternatif tersebut melalui sosial media dengan memention salah satu akun radio terkenal yang selalu melaporkan kondisi lalu lintas.

Setelah mencapai Ciamis, orang tua saya mengajak kami mampir di salah satu sahabatnya. Namanya orang kampung, pasti selalu ramah dan menerima tamu dengan tangan terbuka. Kami di jamu bahkan saya dan keluarga saya sempat mandi untu menyegarkan tubuh. Ketika pulang kami diberi bekal sekarung buah sukun yang tengah panen dan opak khas Ciamis manis.

Setelah dari Ciamis kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Yogyakarta. Ayah saya bukan tipe pengemudi yang ugal-ugalan. Dia sangat hati-hati dan mengukur segala kemungkinan. Pokoknya batas kecepatan dipatok tidak sampai melebihi 90 km/jam. Apalagi di jalanan berbatu dan sempit. Beberapa kali dia juga mewanti-wanti saya ketika saya berada di balik kemudi. Dia termasuk cerewet kalau urusan mengemudi, tentu dengan alasan yang jelas agar kami semua bisa tiba di tempat tujuan dengan selamat. Walhasil perjalanan kami pun dinikmati tanpa harus terburu-buru.

Sesampainya tiba di Yogya, hari sudah larut malam. Sekitar pukul 10 malam kami mencari makan terlebih dahulu. Soto Kadipiro menjadi pilihan santap malam kami. Kemudian kamipun mencari-cari hotel untuk bermalam. Karena hari sudah terlalu larut, beberapa hotel yang kami sambangi sudah sangat penuh. Bahkan pelataran parkirannyapun sudah tak mampu menampung lagi mobil ambulan kami. Akhirnya dengan terpaksa kami lagi-lagi merepotkan sahabat ayah saya. Beliau adalah seorang dosen di UMY, Dr. Nawari Ismail. Beliau adalah orang tua asuh saya saat saya masih sekolah di Yogya tingkat SMA.

Wah pokoknya keluarga kami sudah dianggap keluarga sendiri oleh pak Nawari. Sampai-sampai kami tidak enak setiap kali ke Yogyakarta mesti bermalam di rumah pak Nawari. Pak Nawari adalah sosok yang santun dan sangat mengayomi. Dua dari tiga anaknya adalah dokter umum dan dokter gigi. Potret keluarga teladan bagi keluarga kami.

Merapi di ujung jembatan

Setalah bermalam di rumah Pak Nawari akhirnya perjalanan kami lanjutkan menuju timur Jawa. Cuaca pagi itu sangat cerah sehingga saya bisa mengabadikan gunung merapi yang tengah mengeluarkan kepulan asap putih nan tipis. Kondisi lalu lintas pagi itupun sangat lancar.

Sarapan pagi, jadah tempe, kearifan lokal yang tak terperi

Sambil menikmati pemandangan kota Yogyakarta di pagi hari, kami menikmati sarapan pagi yang telah disiapkan oleh keluarga pak Nawari. Sarapan ini termasuk sarapan tradisional khas Yogya yakni Jadah Tempeh. Kuliner ini sudah pasti halal jadah hahahaha. Wah rasanya nikmat luar biasa, apalagi ditemani dengan teh wasgitel yang panas. Pemandangan pagi sudah sangat cocok menghadap gunung merapi yang terlihat cukup jelas. Meskipun dalam kendaraan tapi kami sangat menikmati perasaan itu. Perasaan ketika kami masih studi di Yogyakarta. Kedua orang tua saya pun berkuliah di Yogyakarta. Jadi sepertinya kami memiliki kesan tersendiri di kota pelajar itu.

Memasuki Jawa Timur, kami mampir di sebuah pom bensin. Pom bensinnya kecil tapi memiliki toilet yang bersih dan wangi seperti di mal elite. Sayangnya saya lupa mengabadikan toiletnya.Bangunannya sih sudah jadul, tapi sangat terawat dan harum.

Pecel Madiun menyambut kedatangan setelah melewati Jawa Tengah

Setelah ke toilet saya melihat ada ibu-ibu yang berjualan pecel. Wah sepertinya cocok nih untuk mengganjal perut yang mulai protes. Kemudian saya membeli satu bungkus lengkap dengan tempe mendoannya. Harganya sangat murah hanya 6000 rupiah. Setelah membeli beberapa saat kemudian datang sebuah bus wisata yang membawa rombongan peziarah. Kontan melihat ada pecel madiun, dagangan tersebut langsung di serbu para penumpang bus wisata. Alhamdulillah, batin saya, syukur lah dagangan si ibu bisa langsung laris. Padahal saat itu matahari sedang panas-panasnya. Luar biasa panas bagi orang Bandung yang biasa kemulan di selimut tebal.

shell

Perjalanan selama dari Bandung hingga Prajekan, Situbondo menyisakan berbagai kesan. Apalagi dengan mengunakan ambulan. Terkadang saya pun iseng menggunakan sirine untuk menakut-nakuti angkutan umum yang berhenti sembarangan sehingga mengganggu arus lalu lintas. Bahkan kami pun sempat ikut konvoi sepeda motor yang dikawal oleh sebuah ambulan didepannya. Kemudian kami mengikuti buntut konvoi dari belakang. Seolah-olah masih dalam satu rombongan sehingga kamipun mendapatkan jalan dengan mudah.

Kalau dipikir-pikir itulah enaknya bisa menggunakan ambulan. Semua orang pasti takut dengan kereta jenazah hehehehe. Selain pemadam kebakaran, ambulan harus mendapatkan prioritas di jalan jika sedang membawa korban. Tapi jika sedang tidak dinas, ambulan memiliki kedudukan yang sama dengan mobil lainnya. Tapi, bagi pengemudi yang memahami aturan lalu lintas, mobil ambulan kami selalu diberikan jalan alias di prioritaskan. Kecuali oleh anak-anak bau kencur yang kerap kali malah terkesan menantang jika ada mobil atau motor yang menyalipnya.

jatim Kampung halaman yang masih asri dan segar dengan nuansa hijau pepohonan

Inilah kampung halaman ayah saya. Lahan masih begitu luas. Meskipun cuacanya cukup panas tapi masih cukup banyak pepohonan disana. Sepanjang jalan raya banyak sekali pohon asem yang menjulang tinggi. Di beberapa ruas jalan pun terasa teduh karena masih banyak pepohonan.

pasir putih Objek wisata utama di Situbondo, kawasan Pantai Utara Pasir Putih.

Kawasan wisata yang tak pernah terlewat adalah pantai pasir putih. Pantai ini selalu padat sepanjang liburan sekolah. Selain tempatnya yang sangat terjangkau di pinggir jalan utama, retribusinya pun tergolong cukup terjangkau. Pantainya putih bersih. Fasilitas penunjangnya cukup memadai mulai dari toko souvenir, rumah makan, MCK, Musholla serta tempat kuliner yang terkenal dengan sate lalernya. Setiap kali ke Pasir Putih saya tak pernah melewatkan untuk menggak satu batok kelapa mudah yang menyegarkan.

pasir putih

Susana pasir putih di akhir tahun tidak terlalu padat seperti libur lebaran. Masih ada beberapa tempat yang bisa dijadikan untuk bermain anak-anak. Airnya cukup dangkal dan masih cukup bersih. Pantainya sebetulnya terawat, hanya saja kepedulian pengungjung yang kurang sehingga sampah berserakan dimana-mana. Yaa khas budaya masyarakat kita yang agak sulit tentang kesadaran akan lingkungan. Anak-anak perlu diawasi juga karena terkadang ada ubur-ubur yang suka mampir ke pinggir pantai bahkan beberapa kasus ada juga babi laut yang ikut terdampar. Jika tersengat ubur-ubur sudah wajar jika akan merasa gatal, namun jika tertusuk duri babi laut, rasanya harus dilakukan tindakan yang lebih serius mengingat durinya memiliki racun yang lumayan menyakitkan.

Kearifan lokal yang masih dilestarikan, membersihkan piring dengan abu kayu.

Di kampung yang jauh dari sentuhan peradaban kota masih dapat kita temui kearifan lokal yang menjadi warisan budaya para orang tua. Salah satunya adalah di pernikahan sepupu saya ini, abu kayu masih dijadikan andalan untuk membersihkan piring kotor dan alat makan lainnya. Semua dilakukan oleh bapak-bapak. Sementara ibu-ibunya bertugas memasak dan mengatur pembagian makanan. Semua bergotong-royong dan tanpa bayaran. Sang tuan rumah biasanya hanya menyiapkan rantangan lebih berisi lauk pauk agar bisa dibawa pulang tetangga-tentangga yang ikut membantu. Semua ikhlas tanpa pamrih, disaat tetangga atau keluarga lainnya mengadakan acara, maka saat itulah waktunya membalas budi baik keluarga atau tetangga. Pada akhirnya semua sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

Gotong-royong yang mulai terkikis di perkotaan bahkan megapolitan, selalu hadir setiap pulang kampung.

Potert masyarakat di pedesaan inilah yang rasanya sulit jika dicari di kota-kota besar. Ada perasaan senang dan bahagia bisa merasakan kehangatan keluarga dan tetangga. Semua membaur menjadi satu. Tidak ada yang merasa jadi PNS atau tokoh terkemuka disitu. Meskipun latar belakangnya dan jabatannya berbeda-beda tapi semua sama, bergotong-royong bersama melakukan pekerjaan yang bisa diselesaikan.

pasar hewan

Di beberapa hari terakhir beruntung kami masih punya kesempatan untuk mengunjungi pasar hewan di Bondowoso. Pasar hewan ini sangat unik karena berpindah-pindah tergantung harinya. Ambulan kami jadi bahan tontonan juga karena jarang-jarang ada ambulan menyembangi pasar hewan hahaha.

pasar hewan

Sapi-sapi di pasar hewan ini diangkut dengan menggunakan mobil-mobil jadul. Mulai dari chevy sampai isuzu. Mobil-mobil yang sudah seharusnya dipensiunkan tapi masih bisa menarik beberapa ekor sapi ke berbagai tempat di Situbondo dan Bondowoso. Di Pasar hewan ini bukan sekedar jual beli sapi dan kambing tapi mulai dari perkakas pertanian dan peternakan pun ada. Hewan seperti unggas dan reptil pun dijual di pasar hewan ini.

pasar hewan

pasar hewan

Jika kita ke Bandung, rasanya ada pasar hewan khusus didepan mall Bandung Indah Plaza. Nah, disini pun bisa mendapatkan hewan-hewan serupa. Mulai dari ular hingga kelinci anggora. Sayangnya saya tak sempat mengabadikannya. Saya malah tertuju pada proses menurunakan sapi-sapi yang gemuknya luar biasa. Lihat kulit leher si sapi sepertinya dia akan mengalami kematian yang sulit saat di sembelih. Karena kulit lehernya menjuntai hingga hampir sejajar dengan lututnya. Wah mudah-mudahan ada teknik tersendiri yah agar bisa disembelih dengan sebaik mungkin.

sangkar burung

Nah, salah satu foto ini pun adalah bukti kearifan lokal yang masih terjaga karena jual beli burung cukup dimasukkan ke dalam sebilah bambu. Burung yang ada di bambu tersebut adalah sepasan burung sri gunting. Ekornya seperti memiliki sirip di kedua sisinya. Sang bapak dengan bangga menunjukkan hasil buruannya di pasar hewan.

Ternyata pulang kampung menggunakan ambulan tidak seseram yang dibayangkan orang. Kabin di belakang lebih nyaman karena bisa digelar tikar dan kasur lipat. Selain bisa digunakan oleh penumpang dengan nyeman, supir yang bergantian pun bisa tidur dengan nyaman. Alhamdulillah kini kami sudah merasa terbiasa dengan kendaraan ambulan. Sesuatu yang menakutkan ternyata lebih asyik diselami agar lebih akrab apalagi dengan kematian. Yah hitung-hitung beradaptasi dengan mobil masa depan. Semahal apapun tunggngan seseorang tentu akhirnya akan merasakan juga empuknya kasur mobil ambulan.

Salam Victory

@DzulfikarAlala

Semua foto adalah dokumen pribadi. Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog ShellVPower tentang catatan perjalanan yang paling berkesan di Kompasiana.

2 thoughts on “Pulang Kampung Pakai Ambulan? Asyik Loh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s