20130807_075903

Panen Ayam Sendiri Saat Harganya Melambung Tinggi


Kemarin siang (6/8) saya dan ayah saya panen ayam negeri sebanyak lima ekor saja. Saya lumayan kaget karena ayam-ayam yang dipelihara disamping rumah itu sudah cukup banyak. Nah, karena ayah saya terbayang-bayang ayam pop untuk buka puasa, akhirnya kami memotong lima ekor ayam negeri saat itu juga. Panen ayam ini sudah direncanakan sejak sepekan menjelang bulan puasa.

Ayah saya punya pengalaman jika setiap saat menjelang lebaran mengalami kesulitan mendapatkan ayam. Pengalaman ini kerap kali juga dialami oleh sebagian masyarakat Indonesia yang hendak memasak opor ayam Lebaran. Padahal saat lebaran identik dengan menu opor ayam. Tentulah sang ayam menjadi bahan baku utama sebagai sajian di hari kemenangan. Tapi seperti kita ketahui bersama di Indonesia ini apa sih yang tidak dijadikan duit. Contoh sederhana proyek perbaikan jalan pantura hampir tiap tahun rutin selalu ada. Seperti proyek yang dipelihara dinas PU hehehe. Daripada pelihara dosa lebih baik pelihara ayam hihihihihihi.

Makanya daripada mengutuk ketidakbecusan pemerintah mengontrol harga di pasar dan melawan kartel pengusaha yang ingin mujur dengan cara tidak jujur, langkah ayah saya ini sangat inspiratif dan bisa diteladani bersama. Yah hitung-hitung jadi peternak ayam musiman setiap menjelang bulan puasa. Dijamin tidak akan mengurangi kadar keimanan bahkan bisa dijadikan kegiatan mengisi waktu disaat senggang dengan memelihara hewan ternak demi sajian istimewa bagi anak dan istri disaat lebaran. Untuk masalah keimanan memang tergantung orangnya juga sih. Soalnya pernah ada riwayat seorang sahabat nabi yang lupa ibadah gara-gara ternaknya semakin banyak hehehehe.

Awalnya ayah saya membeli bibit ayam seharga 6000/ekor. Harga tersebut harga bibit ayam di Bandung sepekan sebelum Ramadhan. Targetnya yaa saat lebaran sudah bisa dipanen. Saat ini kabarnya harga bibit hanya 2000-3000 rupiah saja. Wajar karena masa panen saat lebaran sudah pasti lewat.

Urusan pakan tinggal membeli di warung penjual pakan ayam. Harganya antara 6000 sampai dengan 7000. Pokoknya pakan ini sudah di produksi pabrik dan didalamnya terkandung obat sebagai penggemuk ayam. Perlu di perhatikan bahwa pakan ini ada aturan pemberiannya. Terutama jika akan dipanen pakan BR1 harus dihentikan tiga hari sebelum ayam dipotong. Sedangkan pakan BR2 berfungsi untuk memadatkan dagingnya. Jadi yang bahaya itu kalau pakan BR1 bisa sampai dikonsumsi oleh manusia. Makanya ada beberapa kasus anak-anak yang gemar makan ayam goreng dan mengelami obesitas bisa dicurigai ayam yang dikonsumsi bukan ayam yang terbebas dari pakan BR1. Artinya penghentian pakan BR1 diabaikan. Wajarlah kadang ada juga kan peternak yang tidak jujur.

Nah, untuk antibiotik dan vitaminnya, ayah saya hanya menggunakan ramuan herbal khusus dari bahan-bahan alami saja bagi ayam-ayamnya. Walhasil ayamnya sehat walafiat. Boleh juga dipraktikkan untuk diberikan kunyit. Selain sebagai antibiotik juga dapat merangsang selera makan ayam. Dulu waktu saya susah makan, nenek sayalah yang suka mencekoki saya dengan kunyit racikannya. Wah jadi saya gak beda jauh yaa sama ayam huhuhuhu.

Lima ekor ayam yang dipotong akhirnya tidak jadi dijadikan menu ayam pop karena gatot alias gagal total hehehe. Resepnya boleh nyontek dari internet. Akhirnya dibuatlah ayam goreng dan opor ayam untuk menu berbuka dan sahur terakhir.

Dengan peralatan sederhana dan modal tidak terlalu besar, ayah saya berhasil memberikan persediaan ayam menjelang lebaran. Disaat orang lain kesulitan dan terpaksa harus membeli harga ayam dengan harga yang sangat tinggi hingga mencapai 150 ribu rupiah, kami bersyukur karena mendapatkan hasil yang tinggal dituai. Dua ekor ayam lainnya kami berikan pada asisten rumah tangga yang selalu setia membantu pekerjaan rumah sehari-hari. Walhasil mereka pun sumringah karena dapat menghemat uang THR. Ini bukan bentuk senang-senang diatas penderitaan orang lain yaahh.

Coba lihat hasilnya di gambar pertama. Ayam yang siap panen dibandingkan dengan ayam jantan petelur. Perkiraan kami berat satu ekor ayam negeri pedaging itu sekitar dua kilogram. Hasil tersebut setelah melewati masa pemeliharaan selama lima pekan. Menurut ayah saya, ayam peliharaannya boleh dibilang sebagai ayam semi organik. Nah, jelas untuk konsumsi pribadi sangat sehat dan kehalalalnnya juga sangat terjaga. Fresh from the oven lagi hehehe.

Nah, demi menjaga ketertiban lingkungan (protes tetangga) ayah saya membersihkan kandang setiap hari, dan kotoran ayam dipendam di sebuah tong sehingga bisa dijadikan kompos. Nah untungnya berlipat bukan?

“Siapa yang menanam dia pasti menuai” #pepatah

Nah para blogger yang budiman, sudah sebaiknya kita mandiri. Mengelola sampah sendiri dan menyediakan bahan pangan sendiri sebisa mungkin dari apa yang ada. Karena kalau hanya mengandalkan pemerintah ujungnya pasti sakit hati. Mungkin inilah slogan yang kerap dipegang oleh para oknum pejabat dan pengusaha ditengah hari raya yang seharusnya kenikmatan berlebaran itu di rasakan oleh semua golongan dan kalangan.

Kalau bisa mujur banyak ngapain harus jujur?

Salam Mudik dari Bandung

@DzulfikarAlala

http://DzulfikarAlala.wordpress.com

2 thoughts on “Panen Ayam Sendiri Saat Harganya Melambung Tinggi

  1. Kalo di rumah saya panennya tomat. Kebetulan tomat juga lagi naik harganya. Tapi ayah saya nggak pernah jual, lebih milih buat bagi-bagiin tomatnya ke orang-orang satu kampung…

    1. Ahhh bener banget. Tomat di bandung satu biji masa bisa sampe 4000! Kan gak wajar. Yap berbagi dengan tetangga memang indahhh.

      Makasih sudah mampir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s