wpid-20130706_174125.jpg

Guru Gokil Idaman Semua Murid Unyu


guru gokil J. Sumardianta, guru SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Penulis Simply Amazing (2009) & Editor Tapal Batas: A Journey to Powerful Breakthrough (2011), (dok.pribadi)

Awalnya saya cukup kaget dan bertanya-tanya, “siapa sebenarnya sosok berkacamata dihadapanku ini?” gumamku dalam hati. Ternyata beliau adalah seorang penulis handal yang juga seorang guru asal New Yorkyakarto. Beliau dikenal dengan akun twitter @jsumardianta di sosial media twitter. Beliau memulai karir kepenulisan dari meresensi/review buku. Dari hasil tulisan-tulisan resensi buku itulah sampai saat ini beliau selalu dikirimi buku-buku baru oleh penerbit secara gratis agar bisa diresensi. Menarik bukan?

Beruntungnya lagi, beliau hadir pada kesempatan Teacher Writing Camp 2 yang diselenggarakan oleh IGI Bekasi atas inisiasi Om Jay (Wijaya Kesumah) bersama beberapa rekan-rekan IGI Bekasi yang bertempat di Aula Wisma UNJ Jakarta. Kegiatan TWC2 sendiri akan berlangsung hingga hari ini (7/7).

Pak Guru Gokil, begitulah kami menyebutnya, dikenal sebagai pengajar Sosiologi SMA Klose de Britto di Yogyakarta. Guru Gokil bukanlah guru sembarangan. Karena namanya sudah tersohor di belantika kepenulisan Indonesia. Artikel-artikelnya sering kali dimuat di beberapa media cetak nasional. Bahkan berkat bukunya “Guru Gokil Murid Unyu”, beliau di undang ke Kick Andy Show Metro TV dan Rumah Perubahannya Rhenald Kasali di TVRI baru-baru ini.

Maka kesempatan untuk menyerap berbagai ilmu dari beliau merupakan pengalaman yang sangat mengharukan, membanggakan, menggembirakan, mengasyikkan dan membuat takjub semua peserta yang hadir. Sebagai Guru Gokil yang nyentrik, beliau tidak segan membagi pengalaman dan ilmunya kepada para peserta TWC2.

Buku Guru Gokil Murid Unyu ternyata terinspirasi dari pengalamannya mendidik anak-anak SMA Klose de Britto yang bernama Boim. Anak-anak yang mengikuti Immerse Program di sekolah tersebut ternyata memberikan kejutan-kejutan yang tidak disangka sebelumnya, sehingga pengalaman tersebut dapat direkam dan dituliskan secara sistematis oleh pak Guru Gokil.

Immerse program adalah sebuah kegiatan unggulan untuk memberikan kesempatan para siswanya untuk hidup secara mandiri dan melayani orang-orang yang telah ditentukan sebelumnya oleh sekolah. Beberapa diantaranya ada yang ditugaskan di Panti Jompo sebagai perawat Manula, Muara Angke sebagai kuli panggul barang hingga ke Kolong-Kolong Jembatan di Jakarta sebagai pengamen jalanan. Kegiatan ini secara mengejutkan ternyata mengubah paradigma berpikir anak menjadi pribadi-pribadi yang memiliki kekuatan karakter yang nyata. Beberapa diantaranya bahkan telah sukses secara akademik dan diterima di beberapa pordi unggulan PTN di Indonesia.

Es jeruk yang dibeli dengan hasil keringat sendiri masih jauh lebih segar dibandingkan dengan es jeruk yang dibeli dari uang pemberian mama – Komentar seorang pelajar setelah mengikuti Immerse Program.

Pengalaman-pengalaman para siswa tersebutlah yang dicoba untuk dituangkan beberapa diantaranya dalam buku Guru Gokil Murid Unyu. Uniknya Pak Guru Gokil tidak pernah memberikan ujian tertulis. Semua ujian dilakukan dalam bentuk wawancara empat mata. Hebatnya lagi ternyata muncul kembali kejutan-kejutan yang ditunjukkan anak-anak didiknya mulai dari proses presentasi tugas-tugas dan pernyataan-pernyataan mengejutkan dari anak-anaknya setelah dilepas dan dengan cara mereka belajar secara mandiri.

Yang terpenting adalah anak-anak didiknya diwajibkan untuk membaca sebuah buku yang telah ditentukan sebelumnya. Setiap tahun buku-buku yang diwajibkan untuk di baca berubah-rubah tergantung tema yang dibahas. “Jika tidak ada perubahan artinya saya tidak berkembang” begitulah tuturnya sambil sesekali diselingi cerita-cerita lucu dari pengalaman anak-anaknya selama mengikuti immerse program.

“Kunci sukses guru gokil dalam mengajar dan dekat dengan anak-anak adalah lebih banyak mendengar. Guru yang hebat adalah guru yang banyak mendengar keluhan dan aspirasi anak-anak didiknya.” begitulah sambungnya.

Manusia diberikan dua telinga dan satu mulut jelas memiliki tujuan yaitu diminta untuk lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. Itulah rahasia sukses pak Guru Gokil sehingga bisa menuliskan cerita anak-anaknya dan pengalaman-pengalamannya selama mengajar sehingga dapat dibukukan dengan apik.

Menurutnya perilaku siswa yang menyimpang kesalahannya hanya pada paradigma berpikirnya saja. Oleh karena itu Immerse Program berupa homestay dengan warga kalangan menengah bawah secara tidak langsung mengubah cara berpikirnya dan mengkatifkan rasa empatinya terhadap sesama.

Anak didiknya ada yang sampai memilih kuliah di Fakultas Kedokteran demi untuk kembali ke Panti Jompo. Alasan memilih jurusan lebih rasional dan tekad untuk masuk akan semakin kuat karena misi untuk membantu kalangan menengah bawah secara sadar telah tertanam dalam dirinya. Inilah yang dimaksud Guru Gokil dengan memunculkan karakter anak yang sebenarnya. Ternyata banyak anak-anak yang tadinya anak mami berubah 180 derajat menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

“Kenapa kamu memilih Fakultas Kedokteran?” tanya Guru Gokil. “Setelah lulus saya ingin kembali lagi ke Pasar Senen untuk membantu rakyat miskin yang tidak bisa berobat” jawab seorang siswa yang pernah mengikuti Immerse Program dan ditempatkan bersama warga menengah kebawah.

Perjuangannya mendidik anak-anak bukan tanpa hambatan, terkadang ada juga anak-anak yang kelewat canggih sehingga berhasil mengagalkan rencana sekolah untuk memberikan pendidikan lebih dalam pada anak-anak. Kecenderungan orang tua yang terlalu overprotected juga menjadi sorotan tersendiri, karena inilah kendala utamanya. Jika orang tua terlalu membatasi sudah dapat dipastikan anaknya tidak mungkin bisa move on. Artinya harus ada support penuh dari orang tua wali siswa dan diserahkan sepenuhnya kepada sekolah agar proses pendidikan dapat dirasakan dan membekas pada pembentukan karakter anak.

Sebetulnya banyak sekali inspirasi yang saya dapatkan dari Pak Guru Gokil, sayang sekali waktu yang disediakan sangat terbatas sehingga akhirnya sesi beliau ditutup dengan sebuah pesan, “jika ingin memulai menjadi penulis buku maka mulailah dengan menjadi peresensi buku.” Dari meresensi buku seorang peresensi bisa banyak belajar kosa kata baru dan gaya-gaya bahasa para penulis handal sehingga secara tidak langsung ada pembelajaran berharga dari proses meresensi buku tersebut.

Secara mengejutkan di sesi akhir ternyata panitia mengumumkan bahwa resume kedua saya dari empat sesi, dianggap menarik oleh pak guru gokil sehingga saya berhak mendapatkan buku keren “Guru Gokil Murid Unyu” plus tanda tangan dari penulisnya langsung dan juga berkesempatan berfoto gokil ria bersama pak Johannes Sumardianta.

“Guru yang memelihara kewarasannya di tengah pendidikan yang makin edan” – Butet Kertaredjasa (dikutip dari quote cover buku Guru Gokil Murid Unyu)

guru gokil Berguru pada Guru Gokil (dok.pribadi)

Salam Hangat

Teacher Writing Camp 2

Wisma UNJ Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s