Belajar dari Sir Alex Ferguson dan Mancini


 

guardian.co.uk

Sir Alex Ferguson akhirnya mengundurkan diri sebagai manajer Manchester United. Karir Sir Alex sebagai manajer di MU dimulai pada tanggal 6 November 1986. 27 tahun menjadi pelatih anak-anak didiknya, ia sukses sehingga dapat mempersembahkan 38 trofi untuk klub Setan Merah asal Inggris tersebut. Sebuah pencapaian yang tidak bisa dipandang sepele hingga sangat pantas bila Ratu Inggris menganugerahinya gelar Sir didepan namanya.

Sir Alex mundur dalam usia yang tidak muda lagi, 71 tahun. Tapi dia mampu memberikan semangat kemenangan pada tim yang selama ini diasuhnya hingga menjadi sebuah klub sepakbola yang begitu disegani oleh kawan dan lawan di seluruh dunia. Penggemar setan merah hampir merata di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Sir Alex mundur dalam posisi puncak, dan bukan mundur dalam kondisi terpuruk. Sehingga mundurnya Sir Alex akan terus dikenang karena ia meninggalkan sebuah semangat kesuksesan.

 

Di sisi lain, Robert Mancini di pecat dari kursi kepelatihan Manchester City. Klub sepakbola yang berada di kota yang sama namun berbeda nasibnya. Sir Alex dielu-elukan penggemarnya. Sedangkan Mancini ditendang oleh pemilik club raksasa karena dinggap gagal memberikan gelar pada tahun 2013. Padahal tahun sebelumnya Mancini berhasil mengantarkan the Citizen para raihan gelar liga Inggris dalam sebuah drama yang terukir sejarah sepakbola Inggris. Tapi, itulah sepakbola. Target juara seakan sebuah harga mati bagi mereka yang memiliki target.

 

Bagi seorang guru tentu ada banyak hal yang bisa di pelajari dari dua kejadian tersebut. Tidak mudah memang menjadi guru selama 27 tahun dan dapat memberikan 38 gelar pada sebuah sekolah tempat bertugas. Tapi nyatanya ada banyak guru yang baru satu tahun sudah memberikan sebuah gelar pada sekolahnya atau bahkan sebaliknya lebih buruk lagi tanpa gelar sekalipun.

 

Di tahun ajaran 2012/2013 ada baiknya para guru memikirkan apa yang selama ini telah diberikannya pada anak didiknya. Gelar kah? Ilmu kah? atau tidak ada yang diberikan sama sekali.

 

Akan sangat mudah mengukur kehadiran seseorang itu bermanfaat atau tidak, salah satunya adalah ketika orang itu pergi.

 

Tentu kita tidak perlu pergi seperti opa Fergie atau yang lebih buruk lagi seperti Mancini yang disisihkan meskipun prestasinya tidak terlalu buruk.

 

Apakah sebagai guru kita sudah berpikir sedemikian rupa?

 

Hati ini tidak bisa dibohongi, termasuk dalam diri saya. Akhir tahun ajaran adalah sebuah momen yang tepat untuk melakukan introspeksi dan evaluasi diri.

 

Apakah selama ini cara mengajar saya sudah benar?

 

Apaah selama ini anak didik saya senang belajar bersama saya?

 

Apakah selama ini anak didik saya tidak merasa bosan ketika diajar oleh saya?

 

Apakah selama ini anak didik saya menyerap dengan baik apa yang saya ajarkan?

 

Bagaimana tanggapan orang tua tentang hasil yang telah saya lakukan terhadap anak-anaknya?

 

Pertanyaan-pertanyaan itu memang selalu hadir dalam pikiran para guru di akhir tahun pelajaran. Jika tidak terpikirkan mungkin sudah masanya untuk bertanya (kembali) pada diri sendiri apakah saya cocok menjadi guru?

 

Berapa banyak Program Tahunan, Program Semester yang tak tercapai. Berapa baik RPP yang sudah disusun sehingga menghasilkan anak didik yang memahami ilmu yang mereka dapatkan bukan sekedar teori tetap dapat di terapkan dan di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jawabannya tentu adalah kesiapan kita di awal tahun dengan perencanaan dan evaluasi yang matang.

 

Saya yakin, guru-guru yang tidak melakukan perencanaan matang dan menyiapkan evaluasi yang sesuai tidak akan mampu mengukur kinerjanya sendiri. Saya yakin guru yang hanya sibuk memikirkan kapan sertifikasi bisa cair, kapan bisa masuk daftar sertifikasi, kapan bisa dapat tunjangan, kapan akan naik gaji akan terlenakan dengan pertanyaan-pertanyaan untuk memenuhi hak-haknya sehingga melupakan kewajiban yang sesungguhnya. Pasti!

 

Apa yang ingin saya katakan adalah mari kita merubah pola pandang kita, cara pandang kita agar tidak melulu memikirkan berapa banyak hak yang seharusnya kita dapatkan. Tapi kita harus jauh lebih dulu memikirkan kapan kita bisa mengupgrade diri sehingga anak didik kita merasa senang belajar dengan pembelajaran kreatif, tugas pokok guru terselesaikan dengan baik sehingga kita tidak merasa memiliki hutang di akhir tahun ajaran.

 

Apa yang telah dilakukan oleh opa Fergi memang manis pada akhirnya, namun saya yakin hal tersebut tidak didapatkan dengan cara menuntut tapi dengan cara memberikan lebih banyak yang terbaik dibandingkan lebih banyak meminta yang terbaik.

 

Apakah kita akan merasakan manisnya perpisahan seperti Opa Fergie atau Mancini? Hanya akhir tahun nanti kita tahu jawabannya.

 

3 thoughts on “Belajar dari Sir Alex Ferguson dan Mancini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s