wpid-20130426_204307.jpg

Ebeb mau ikut kalau Daddy dikubur


image

Tak sengaja anakku yang berusia dua tahun lebih ini menyaksikan keranda mayat yang diusung oleh ribuan orang di Masjid Istiqlal. Benar, keranda itu membawa Ustadz Jeffry AlBuchory yang baru saja disalatkan di Masjid terbesar Se-Asean tersebut.
“Itu siapa Daddy?” Tanya anakku penasaran.
“Oh itu Uje nak, Ustadz Jeffry abis disalatin di Masjid nak.” Jawabku sambil duduk disampingnya. Ia bersandar di boneka “Shaun the Sheep” berwarna ungu sambil menonton televisi yang sedang menayangkan berita meninggalnya Uje.

“Kaya mbah uyut yah, Daddy?” Tanyanya lagi.
“Iya nak” Mbah buyutnya memang meninggal dunia beberapa bulan sebelumnya. Dan itulah keluarga pertama yang ia saksikan pertama kalinya meninggalkan alam fana ini.

Aku dan istriku selalu memanggilnya “ebeb”. Awalnya dari kata “baby”, kemudian berubah menjadi “beb” dan akhirnya menjadi “ebeb”. Jika ia ditanya orang pun, ia akan memberikan nama lengkapnya diawali dengan nama “ebeb”.

Tergelitik untuk bertanya, aku ingin mendengar bagaimana reaksinya.
“Beb, kalau Daddy meninggal gimana?”
“Gak boleh!”
“Loh kenapa gak boleh beb?”
“Nanti ebeb sama siapa dong?”
Kemudian aku mencium keningnya dan berkata “Ebeb, kalau Daddy meninggal nanti, ebeb sama Mami yah. Sama Mama (neneknya), sama Tutung (mbah kakungnya) dan sama abang (kakak sepupunya).”

“Emang Daddy mau kemana?” Tanyanya penasaran. Aku tahu bahwa dia belum memahami apa itu arti meninggal dunia. Tapi aku pikir sudah semestinyalah aku memberikan pengenalan padanya bahwa ada orang yang lahir dan dia pasti akan mati. Bagi dia, konsep lahir agaknya sudah dimengerti karena beberapa kali aku mengajaknya menjengguk kerabat dan sahabatku yang baru melahirkan.

“Daddy kalau meninggal nanti, terus di kubur beb, dikuburan gelap.” Kudekap erat tubuhnya yang mungil agar ia merasa hangat karena ruangan sudah terasa cukup dingin dengan AC.
“Sama siapa Daddy?” Tanyanya memburu.
“Yaaa sendirian lah beb.”
“Ebeb mau ikut dong Daddy” aku tersentak dengan jawabannya. Tak terasa dadaku jadi terasa semakin sesak. Kutahan isak tangis ini agar sikecil paham bahwa ayahnya adalah seseorang yang tegar.

“Ebeb, nanti ebeb sama Mami aja yah kalau Daddy meninggal. Nanti Daddy udah ada yang temenin di kuburan. Makanya ebeb doain Daddy yah. Ebeb jadi anak yang saleh. Ebeb jangan lupa ngaji Al-fatihah ya buat Daddy.” Setiap habis salat maghrib ebeb selalu aku ajak mengaji. Ia baru saja hafal salah satu surat yaitu Al-fatihah. Kini aku mulai melangakah mengajarkannya surat An-Nas.

“Oh gitu yah. Iya nanti ebeb doain supaya Daddy dapet duit. Supaya Daddy dapet kamera yah. Supaya Daddy bisa beliin ebeb drum.” Jawabannya seolah tak bisa kuhentikan. Beberapa kali ketika akan berangkat kerja aku selalu pamit pada ebeb dan minta didoakan agar mendapatkan duit (rezeki). Bahkan saat aku mengidam-idamkan sebuah kamera SLR aku selalu minta bantuan ebeb untuk mengaminkan doaku setiap bada maghrib. Ada sebuah keninginannya yang belum sempat aku wujudkan. Aku pikir dia masih terlalu kecil untuk memiliki sebuah drum set. Ya, dia begitu tertarik dengan sebuah drum set.

“Daddy nanti dikuburnya di Bandung ya beb. Jadi kalau ebeb kangen sama Daddy, ebeb harus ke Bandung”
“Oh iya Daddy, di Bandung ya”
Aku tersenyum kecil sambil mendekapnya erat-erat. Kukecup kening dan kedua pipinya seolah malam itu adalah malam terakhir bersamanya. Ibunya kebetulan sedang menyiapkan  pentas untuk performance murid-murid TK-nya sehingga memaksanya untuk lembur di bilangan Kuningan, Jakarta.

Malam itu aku merasa bahagia karena menikmati perbincangan dengan anakku berdua saja. Aku merasa bahagia karena setidaknya dari tiga amalan yang pahalanya tidak akan pernah putus ketika aku meninggal nanti, telah aku siapkan salah satunya yaitu seorang anak saleh (insyaallah) yang akan mendoakanku ketika aku telah terbaring kaku dalam balutan kain putih yang hingga kini belum kusiapkan juga meski beberapa kali Kakekku berpesan untuk menyiapkan pakaian sendiri ketika menghadap-Nya nanti. Karena, tidak ada seorangpun yang tahu kapan aku atau kamu akan dijemput.

Salam hangat

2 thoughts on “Ebeb mau ikut kalau Daddy dikubur

  1. Selalu nyesek kalo ngobrolin soal kematian sama anak dan suami..
    smoga kita semua dipanjangkan umur sampai anak2 kita siap ditinggalkan ..
    eh sampe tua juga kadang ga siap ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s