wpid-20130324_115016.jpg

Cintai dan Lestarikanlah Museum-Museum di Indonesia


image
Narsis bersama si kecil di Museum Asmat (dok.pribadi)

Kapan terakhir kali anda ke Museum? Sepekan yang lalu, sebulan yang lalu, setahun yang lalu atau barang kali puluhan tahun yang lalu ketika anda masih duduk di bangu SD dan mengikuti karya wisata ke sebuah Museum?
Banyak hal mengapa kita tidak mengetahui negara kita sendiri, salah satunya adalah karena kita memang tidak mencintai negara kita sendiri. Rakyatnya jauh dari Museum sehingga tidak banyak mengenal keunikan dan semua kekayaan budaya dari nenek moyang kita. Kita hanya tahu bahwa kita memiliki tradisi dan budaya yang kaya justru ketika hal tersebut telah di klaim atau dilestarikan oleh negeri lain.

Oleh karena itu untuk melestarikan budaya dan tradisi yang merupakan warisan nenek moyang kita, sepantasnya lah kita bisa mengabadikan dan melestarikannya salah satunya dengan mengenalkannya kepada generasi muda, anak cucu kita bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki kekayaan tradis dan budaya nan luruh. Hal itu semua bisa dilihat di Museum-museum yang ada di seluruh Indonesia.

Museum merupakan tempat yang paling cocok untuk mengenalkan berbagai hal. Museum tidak melulu merupakan tempat pajangan benda-benda prasejarah. Museum juga bisa merupakan tempat pengenalan alat-alat teknologi mutakhir yang membantu kehidupan dan bukti meningkatnya peradaban manusia dari masa ke masa.

Sayangnya tidak banyak orang tua yang sadar bahkan mau mengajak anak-anaknya berwisata budaya ke Museum. Bahkan ada salah satu museum di Bojonegoro yang hanya dikunjungi oleh tujuh pengunjung dalam satu bulan saja. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran masyarakat akan keberadaan Museum sebagai tempat belajar dan rekreasi jauh menurun dan dalam taraf yang sangat memprihatinkan.

Disamping itu dana anggaran untuk perawatan museum terbilang sangat kecil. Bahkan sempat heboh saat Gubernur Fauzi Bowo masih menjabat di DKI Jakarta, berkembang wacana untuk memotong dana perawatan salah satu Museum di ibukota. Hal ini membuktikan bahwa bangsa ini kurang menghargai sejarah, tidak menghargai hasil kerja keras nenek moyang dan tidak mau belajar dari masa lalu sehingga barangkali itulah yang menyebabkan negara ini gagal dan terpuruk pada masa kini. Nilai nilai budaya bangsa barangkali hanya tinggal slogan belaka.

Tentu kita tidak bisa tinggal diam begitu saja. Yang harus kita lakukan adalah mulai membenahi apa yang ada dan bisa kita benahi bersama. Salah satunya adalah mempromosikan kembali keberadaan museum dan melestarikannya sebagai tanggung jawab kita bersama agar bangsa ini bisa menghormati dan menjaga apa yang sudah menjadi warisan dari nenek moyang kita.

Tentu saja kita tidak bisa mengunjungi semua museum yang ada dan tersebar di seluruh Indonesia. Maka ada cara lain yang bisa kita lakukan yaitu dengan mengunjungi Museum terbesar di Indonesia yakni Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Berdiri di tanah seluas sekitar 145 hektar, dalam Taman Mini Indonesia Indah terdapat berbagai macam Museum yang bisa dikunjungi dengan mudah. Belum lagi ditambah dengan anjungan-anjungan 33 provinsi yang ada di seluruh Indonesia dan berbagai macam wahana permainan tradisonal hingga wahana permainan modern semua hadir di Taman Mini Indonesia Indah.

image
Pak Djoko sedang memberikan sambutan (dok.pribadi)

Menurut Djoko Arif Susilo yang merupakan koordinator Museum TMII dan pengembangan, di sela-sela sambutannya (24/3) mengatakan kini TMII melakukan rebranding dari sebuah cyber park menjadi augmented reality miniature park. Taman miniatur Indonesia yang hampir mirip sesuai dengan dimensi aslinya karena semua kekayaan dari flora, fauna, keanekaragaman hayati dan kekayaan budaya Indonesia bisa ditemukan di TMII.

Menurutnya TMII adalah milik bangsa, milik rakyat, milik kita bersama. Maka sudah sepantasnya kita sebagai pemilik bisa merawatnya dengan baik. Karena karyawan hanyalah mengemban amanat dan pasti tidak akan luput dari salah dan lupa.

image
Rekreasi bersama anak ke TMII (dok.pribadi)

Djoko mengharapkan orang tua bisa mengajak anak-anaknya berwisata yang berbudaya. Bukan membudayakan wisata ke mall-mall saja. Namun perlu juga dipupuk kecintaan generasi muda salah satunya dengan mengenal keunikan, keragaman dan kekayaan bangsa melalui museum-museum.

Djoko menambahkan bahwa saat ini TMII memiliki 150 rumah adat dari 33 Provinsi dan 18 Museum dari berbagai bidang. Mulai dari seni hingga yang bernuansa religi. Bahkan kini TMII tengah membangun museum Laksamana Ceng Ho yang berasal dari Cina. Selain itu direncanakan pula Museum etnis Haka dari Cina.

“Kejayaan Indonesia ada di tangan kita semua. Oleh karena itu mari kita rajut bersama” pungkas Djoko.

Taman Mini Indonesia Indah mulai di gagas pada tahun tujuh puluhan oleh almarhumah Ibu Tien Soeharto hingga mulai di operasikan pada tanggal 20 April 1975. Memang benar, TMII sudah sangat lekat dengan Ibu Tien Soeharto. Apalagi didalamnya terdapat sebuah Masjid dengan nama Masjid At-Tien yang dapat mengingatkan kita pada sosok Ibu Negara tersebut.

Di TMII terdapat kurang lebih sekitar 18 Museum. Diantaranya adalah;

Museum Indonesia
Museum ini merupakan representasi dari beberapa simbol kenegaraan salah satunya adalah Bhineka Tunggal Ika. Representasi dari negara yang berasal dari berbagai suku, agama, bahasa namun tetap dapat dipersatukan menjadi sebuah kesatuan yaitu bangsa Indonesia.

Museum Purna Bakti Pertiwi

Museum Tentara
Selain bangunannya yang mentereng, Museum ini menghadirkan kebanggaan bangsa Indonesia berupa dua kapal laut yaitu kapal Banten dan kapal Pinisi dari Sulawesi Selatan. Museum ini didirikan seperti sebuah bangunan kerajaan masa lalu. Museum ini didirikan untuk menunjukkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Museum Pusaka
Museum ini menyimpan semua koleksi benda budaya berupa alat peperangan atau senjata tradisional. Bangunannya pun unik karena memiliki simbol sebuah keris yang melambangkan senjata khas Indonesia.

Museum Perangko
Museum Perangko nampaknya memang tak kan lekang di kikis zaman. Meskipun Pos Indonesia sudah melewati masa keemasannya namun perangko-perangko yang hadir di museum ini seolah menceritakan masa-masanya tersendiri. Mulai dari perangko dengan gambar presiden dan wakil presiden pertama Indonesia hingga beberapa tempat wisata, satwa dan lingkungan hidup yang ditampilkan sebagai promosi keanekaragaman dan kekayaan nusantara. Kini perangko masih di gunakan dan mulai beralih fungsi sebagai sebuah souvenir karena bisa mencetak foto kita sendiri. Meskipun demikian perangko foto diri kita tetap berlaku jika di gunakan sebagai alat berkirim surat.

Museum Bayt Al-Quran dan Museum Istiqlal
Meskipun ada jaminan bahwa keaslian Al-Quran akan terjaga hingga akhir zaman namun kehadiran Museum ini merupakan bukti keberadaan penyebaran agama Islam di Nusantara.  Dalam museum ini terdapat karya ulama dan intelektual Muslim Nusantara sejak abad ke 17 hingga abad ke 20. Di sini hadir Mushaf Al-Quran dalam bentuk braille untuk orang yang tuna netra hingga yang paling modern yakni hadirnya Al-Quran digital yang dapat di putar dengan menggunakan berbagai media alat elektronik.

Museum Transportasi
Museum ini sebagai bukti transformasi alat transportasi dari zaman dahulu hingga kini. Di dalam museum ini terdapat beberapa alat transportasi darat, laut dan udara. Bahkan taksi pertama yang berada di Indonesia bisa didapati di Museum milik Departemen Perhubungan Republik Indonesia ini.

Museum Listrik dan Energi Baru
Didalam Museum ini terdapat 619 alat peraga tentang energi dan listrik. Dari Museum ini kita bisa mengetahui perkembangan teknologi kelistrikan dari masa ke masa. Uniknya di dalam Museum ini terdapat kompor dengan tenaga surya yang sekaligus bisa dijadikan antena parabola yang dapat menangkap hingga kurang lebih 150 saluran televisi.

Museum Telekomunikasi
Telekomunikasi mengalami perkembangan yang paling pesat. Karena memang manusia adalah makhluk sosial yang perlu berkomunikasi. Komunikasi saat ini dapat dilakukan hanya dengan menggunakan layanan data. Dengan kemampuan tersebut sudah bisa mengirimkan teks, gambar, musik hingga video. Hal yang tidak terpikirkan pada masa-masa digunakannya alat pemancar radio sebagai alat komunikasi utama sebelum lahirnya telpon, faksimile dan internet yang mengubah segalanya menjadi lebih mudah.

Museum Penerangan
Museum ini menunjukkan eksistensi sejarah komunikasi dan penerangan pada masa-masa keemasannya di zaman Orde Baru. Museum penerangan sarat dengan koleksi sejarah mulai dari film, radio, televisi hingga wayang suluh. Hingga kini simbol penerangan yang masih hidup adalah TVRI dan RRI. Kedua media tersebut merupakan sejarah hidup jatuh bangunnya negeri ini. Meskipun keduanya sangat berjasa namun saat ini hidupnya seperti terseok-seok seiring dengan perkembangan zaman yang semakin meninggalkan mereka berdua.

Museum Olahraga
Museum ini didirikan sebagai bukti bahwa Indonesia pernah berjaya dan bisa berkompetisi di liga dunia. Museum ini memiliki kubah seperti sebuah bola sepak. Sepak bola Indonesia meskipun masih dalam kondisi terpuruk namun pernah menjadi kebanggaan dunia karena pernah mengalahkan negara-negara besar di Eropa.

Museum Asmat
Museum ini didirikan untuk menghargai jiwa seni suku asmat yang memiliki kemampuan memahat dan ukuran-ukuran tingkat tinggi yang dikenal hingga sampai luar negeri.

Museum Komodo dan Taman Reptil
Indonesia memiliki pulau Komodo sebagai salah satu habitat terbesar hewan yang konon hidup pada zaman purba. Di dalam TMII terdapat museum Komodo yang menampilkan berbagai hewan langka yang sudah diawetkan. Kini Pulau Komodo masuk dalam salah satu keajaiban di dunia. Selain reptil, ternyata di dalam Museum ini terdapat hewan mamalia pula yang telah diawetkan. Hewan-hewan yang berada di Museum ini bisa ditemui dari ujung Indonesia paling barat hingga ujung Indonesia paling timur. Belum lagi beberapa jenis fauna laut yang turut dihadirkan di Museum ini.

Museum Serangga

Museum Gas dan Minyak Bumi
Museum ini dibangun sebagai tanda 100 tahun industri minyak dan gas bumi di Indonesia. Museum ini layaknya seperti sebuah tempat pengeboran minyak di lepas pantai. Museum ini memamerkan alat-alat berat yang digunakan dalam eksplorasi minyak bumi.

Pusat Informasi Riset dan Teknologi
Pusat ilmu pengetahuan dan teknologi

Museum Timor-Timor
Didirikan untuk mengenang integrasi Timor-Timor saat masih bersama Indonesia.

Beberapa maskot Jakarta seperti Monas ada di TMII. Selain itu TMII sudah sangat dikenal luas dengan Teater Keong Mas, Istana Anak-Anak dan Danau yang berbentuk Peta Indonesia. Mengunjungi TMII ibarat telah mengelilingi seluruh pulau-pulau yang ada di Indonesia karena memang TMII dikenal sebagai miniaturnya Indonesia.

image
Team dari Markom Indosat membantu blogger dalam setting superwifi

Indosat sebagai provider telekomunikasi yang mengagas pertemuan blogger bersama TMII dalam rangka menyambut ulang tahun TMII yang ke 38 sangat antusias dan menyambut baik kegiatan positif para blogger dalam menulis. Bahkan dalam kegiatan ini untuk pertama kalinya para blogger dapat menikmati layanan superwifi dari Indosat IM2.

Saat ini ada sekitar 300 titik superwifi di TMII yang dapat digunakan oleh pengguna indosat dengan gratis. Layanan ini tentu mendukung wisata berbudaya yang tidak lepas dari kemajuan teknologi dan informasi.

Pelanggan tinggal mengirimkan kata “superwifi” yang sms ke 363. Setelah itu akan mendapatkan balasan berupa id login dan password. Setelah itu pengguna Indosat dapat dengan mudah menjelajahi museum yang tak terbatas ruang dang waktu di Museun terbesar di Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah.

image
Paket indosat superwifi untuk para blogger (dok.pribadi)

Salam Hangat

Semua foto adalah dokumen pribadi.

Postingan ini diposting melalui jaringan internet Superwifi Indosat.

5 thoughts on “Cintai dan Lestarikanlah Museum-Museum di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s