wpid-Screenshot_2013-03-20-13-10-59.png

Memahami Karakter Siswa dari Juz Al-Quran


image
Illustrasi apps iQuran di Android

Ilmu ini didapat dari ayah saya. Setelah bermeditasi dan berpuasa selama beberapa hari akhirnya ilmu ini bisa juga saya dapatkan hahaha lebay dot com.

Basis dari ilmu pembaca karakter ini adalah quranic power. Kebetulan ayah saya pernah bertemu langsung dengan penemu quranic power. Kitab suci Al-Quran yang dijadikan rujukan untuk membaca karakter diri maupun orang lain.
Sebetulnya cukup banyak metode dan cara untuk membaca karakter seseorang melalui rangkaian tes. Namun hal tersebut harus dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Sedangkan metode quranic power cukup dengan mengetahui tanggal lahir seseorang.

Bisa dikatakan seperti shio dalam budaya Cina atau Primbon dalam budaya orang Jawa. Pasti kedua penerawangan karakter tersebut memiliki dasar. Sedangkan quranic power sudah jelas dasarnya dari Al-Quran.

Untuk lebih jelasnya apa itu quranic power silahkan tanya saja sama mbah google. Jika anda tidak percaya saya sarankan berhentilah membaca pada tanda titik berikut. (Titik)😀

Singkat cerita di sekolah saya yang berbasis agama Buddha ini memiliki berbagai macam siswa dari berbagai latar belakang. Tentu saja mereka pun memiliki keunikan dan kecerdasan masing-masing.

Saya setuju ketika Porf. Dr. Komaruddin Hidayat (rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) mengatakan bahwa problem utama anak-anak bukanlah problem akademik melainkan problem psikologis. Buktinya bahwa ada kecenderungan anak-anak di sekolah hampir memiliki problem dengan keluarganya, dengan kedua orang tuanya.

Artinya ketika permasalahan yang terjadi di rumah tidak terselesaikan dan tidak terpuaskan imbasnya justru malah terjadi di sekolah sehingga menganggu prestasi akademik. Sejatinya anak-anak tidak ada yang bodoh. Mereka mengalami permasalahan lebih banyak pada kondisi psikologisnya.

Ibarat rakyat Jakarta, anak-anak itu ingin di “wongke” oleh gubernurnya, menterinya bahkan presidennya. Inilah yang selalu menimbulkan gap antara orang tua dan anaknya. Anak-anak berkomunikasi dengan bahasa emosi sedangkan orang tuanya berkomunikasi dengan bahasa logika. Ketika anak-anak ingin didengarkan tapi yang keluar dari mulut orang tua adalah nasihat disitulah letak mis komunikasinya antara anak dan orang tua.

Jadi ketika orang tua menyekolahkan anaknya ke Sekolah seakan-akan malah menimpakan masalahnya pada sekolah untuk diselesaikan. Menurut Komaruddin Hidayat hal ini ibarat seperti seseorang yang menyerahkan bahan pakaian kepada tukang jahit. Sudah pasti tukang jahitnya yang bingung.

Nah, guru tentu bukan seorang tukang jahit karena yang dihadapinya adalah insan yang berpikir dan berperasaan. Oleh karena itu quranic power inilah yang saya gunakan untuk memahami karakter anak-anak terutama pada mereka yang banyak memiliki luka batin. Arti luka batin bisa diartikan macam-macam. Entah itu mengalami kekecewaan terhadap ayah, ibu atau harapan-harapan dirinya yang tidak tercapai.

Boleh dikatakan guru adalah orang tua kedua. Tapi kenyataanya guru bisa menjadi orang tua “utama” dalam arti anak-anak bisa lebih terbuka pada gurunya ketimbang pada orang tua kandungnya. Orang tua kadang terlambat mengetahui ketika anaknya mulai menyukai lawan jenis, suka bukan konten dewasa dan problem-problem remaja masa kini.

Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat pak Renald Kasali bahwa Indonesia membutuhkan kurikulum yang melibatkan peran orang tua dalam pendidikan. Orang tua tidak bisa lepas begitu saja dan menyerahkan anaknya ke sekolah seperti bahan pakaian. Bukan seperti itu yang seharusnya terjadi.

Nah, quranic power ini setidaknya bisa membantu saya memahami anak-anak baik kelemahan-kelemahannya bahkan kelebihannya agar orang tua pun bisa memahami anaknya secara menyeluruh. Sehingga pada akhirnya orang tua dan anak bisa saling memahami satu sama lain. Guru hanya fasilitator dan membantu orang tua dalam mendidik anak-anak dengan peran tidak lebij dari 20 % saja.

Jadi jika ada anak yang sukses sebetulnya yang paling berperan dalam kesuksesannya adalah kedua orang tuanya.

Salam hangat

@DzulfikarAlala

4 thoughts on “Memahami Karakter Siswa dari Juz Al-Quran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s