komar hidayat

Menguasai Dua Bahasa Ibarat Memiliki Dua Rumah


Komarudin Hidayat

Kata-kata diatas saya kutip dari ceramah Prof.Dr. Komarudin Hidayat dalam sebuah seminar di Sekolah Binus Simprug, Jakarta. Komarudin membagi kisahnya bagaimana ia belajar bahasa asing saat berada di sebuah pesantren. Komarudin saat ini dikenal sebagai rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Komarudin berujar bahwa menguasai dua bahasa ibarat memiliki dua rumah, menguasai tiga bahasa ibarat memiliki tiga rumah dan begitu juga seterusnya. Komarudin sudah menguasai dua bahasa asing yakni bahasa Inggris dan bahasa Arab sejak masih berada di pesantren. Cara mempelajarinya khas seperti yang diajarkan di pesantren-pesantren. Yakni dengan memperkaya kosa-kata bahasa asing kemudian di praktekkan dalam kegiatan sehari-hari.

Ada kalanya pada hari-hari tertentu bahasa daerah dan bahasa Indonesia ‘diharamkan’ untuk di gunakan dalam komunikasi sehari-hari di pesantren, tuturnya. Itulah yang mendorong dirinya terus menerus memperkaya kosa kata bahasa asing setiap harinya. Kosa-kata tersebut agar lebih mudah diingat dia tempel di dekat tempat tidur, dibalik pintu lemari hingga di bawa ke kamar mandi.

Dalam pemberlajaran bahasa di pesantren tidak dititik beratkan pada grammar atau tata bahasa, sehingga setiap anak harus berbicara bahasa asing meskipun tata bahasanya amburadul. Yang penting bicara dulu baru tata bahasa belakangan. Inilah yang membuatnya dengan mudah memelajari bahasa asing karena lingkungan yang mendukung. Selain diwajibkan dalam komunikasi sehari-hari bahasa asing, juga di wajibkan ketika ada tugas pidato atau ceramah dengan menggunakan bahasa asing. Semua bergiliran mendapatkan tugas untuk berpidato di muka umum.

Penguasaan bahasa asing itulah yang kini disyukuri betul oleh Komaruddin Hidayat. Karena dengan menguasa bahasa asing dia bisa melupakan sejenak kebosanannya ketika disuguhi dengan berita dan informasi dalam negeri yang begitu menjemukan. Saat sedang bosan ia bisa membaca novel berbahasa asing dan artikel-artikel berbahasa asing lainnya.

Dengan membaca artikel atau novel berbahasa asing seolah-olah dia terbang menuju negeri lain. Seolah-olah dia bukan berada di Indonesia. Itulah hebatnya sebuah bahasa. Bahasa pun bisa menjadikan seseorang berbeda dari biasanya.

Alkisah Komaruddin pernah di kunjungi orang tuanya dari Jawa ketika kuliah di IAIN, Ciputat. Saat di tempat kos-kosan Komaruddin menggunakan bahasa Jawa dengan tata bahasa yang cukup tinggi untuk kasta tertinggi. Karena ia berbicara dengan orang tuanya. Sementara itu teman-temannya yang lain yang berasal dari Sumatra terkaget-kaget melihat Komaruddin karena tidak mengenal sosok yang ada dihadapannya itu. Itulah satu lagi kehebatan bahasa. Seseorang akan nampak sangat berbeda ketika berbicara dengan bahasa lain.

Komaruddin juga menjelaskan mengapa bahasa Jawa tidak dipilih sebagai bahasa persatuan Indonesia pada saat sumpah pemuda. Karena bahasa Jawa memiliki kasta-kasta atau peruntukkan tersendiri. Baik ketika digunakan kepada orang yang lebih muda bahkan untuk orang yang lebih tua. Menariknya ternyata orang tua di Jawa tidak banyak yang bisa berbahasa Indonesia. Sedangkan di Papua atau Aceh sana cukup banyak orang tua yang mampu berbahasa Indonesia, tutur Komaruddin.

Maka dipilihlah bahasa Melayu yang kini dikenal dengan bahasa Indonesia karena dianggap bahasa yang paling egaliter. Jika Bahasa Jawa dipaksakan menjadi bahasa nasional tentu saja akan memicu penolakan dari orang Sunda, Sulawesi dan lain sebagainya. Bahasa Melayu yang berasal dari daerah kecil di Riau sana dipilihlah sebagai bahasa persatuan, tutur Komaruddin.

Ada hal yang lebih menarik lagi saat Komaruddin menyampaikan bahwa Bahasa Melayu di Malaysia ternyata saat ini hanya di gunakan (dipertahankan) oleh para pembantu rumah tangga. Hal ini berdasarkan pada penelitian dari desertasi seorang rekannya.

Bahasa asing juga merupakan identitas keberhasilan sebuah sekolah. Sebuah sekolah bisa dikenal karena prestasinya dan kemampuan anak-anaknya dalam berbahasa asing. Itulah mengapa anak-anak kita sekarang lebih banyak peluang dan media yang bisa digunakan dalam memelajari bahasa asing.

Pungkasnya, bahasa asing memang penting namun bukan segala-galanya.

3 thoughts on “Menguasai Dua Bahasa Ibarat Memiliki Dua Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s