Perpustakaan : Tempat Rekreasi


image
Guru Humanis

Buku adalah jendela ilmu pengetahuan. Tanpa buku, pengetahuan tidak akan berkembang. Maka sudah selayaknya di sebuah rumah, sekolah, kantor, institusi, desa, kampung tersedia taman bacaan atau perpustakaan. Hal ini tentu saja agar bisa menumbuhkan minat baca. Dengan membaca semua orang akan terbuka pengetahuannya. Dengan membaca bahkan setiap orang bisa menghasilkan karya kembali berupa buku.

image

Beruntung sekali di sekolah saya terdapat sebuah perpustakaan yang memadai. Apalagi koleksi-koleksinya cukup lumayan untuk ukuran sebuah sekolah. Buku-buku bisa dengan mudah dipinjam. Mulai dari fiksi hingga non fiksi. Mulai dari buku-buku karya lama hingga buku-buku terkini. Semuanya jelas memperkaya pengetahuan guru, karyawan dan tentu saja siswa.

image

Perpustakaan adalah tempat rekreasi bagi mereka yang merasa penat dengan segala aktifitas. Jengah dengan beban kehidupan. Ruwet dengan berbagai utang. Perpustakaan bisa dijadikan tempat pelarian dari semua itu. Dengan membaca buku biasanya inspirasi muncul untuk menyelesaikan satu persatu setiap masalah kehidupan.

image

Buku tidak melulu berisi bacaan serius. Kadang lewat buku semua orang bisa terhipnotis. Setiap orang yang membaca bisa tertawa sendiri, menangis sendiri bahkan menumbuhkan motivasi intrinsik. Orang yang gemar membaca buku kerap dibilang orang gila.

image

Almarhum Gus Dur pada masa mudanya dikenal sangat kutu buku. Bahkan menurut Gus Mus, Gus Dur itu datang ke bioskop saja masih menenteng buku. Di Bus kota, atau di tempat lain saat waktu senggang Gus Dur sangat lekat dengan sebuah buku.

image

Selain Gus Dur, ada juga kisah tentang Jalaluddin Rakhmat yang sampai kini masih akrab dengan buku. Menurut kakaknya, sejak kecil kang Jalal memang sudah gila baca. Bahkan di kamar mandi pun ada tempat khusus untuk menyimpan buku. Jadi sewaktu-waktu bisa dibaca kapan saja.

image

Dari sebuah buku, seseorang bahkan bisa dikenal dan memiliki kekayaan yang cukup. Seperti Andrea Hirata dengan karyanya Laskar Pelangi yang telah di terjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Sudah barang tentu royalti dari menulis buku terus mengalir bahkan bisa sampai diwariskan.

image

Dari sebuah buku kita bisa banyak belajar. Dari sebuah buku kita bisa lebih terampil. Buku banyak menguak rahasia, banyak mengungkap peristiwa yang selama ini tidak kita ketahui. Buku adalah pintu ilmu pengetahuan. Tanpa melewati pintu, mustahil bisa menggapai ilmu pengetahuan.

image

Buku pun memiliki kekuatan dan daya magis. Sebuah buku bisa menggerakkan setiap orang menjadi pedagang, politisi bahkan karyawan. Semua profesi perlu dan harus membaca buku. Karena buku dapat mengungkap dari hal terkecil hingga hal yang luar biasa unggul.

image

Menurut KH. Muchtar Adam (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam, Bandung) bahwa qolam atau pena termasuk dzat yang langsung diciptakan oleh Allah SWT selain Nabi Adam. Maka betapa besarnya kedudukan sebuah pena.

image

Masih menurut Pak Kyai bahwa ulama Jalaluddin Assyuti sampai menolak hadiah, jabatan dan berbagai kesenangan dunia hanya untuk mengabdikan dirinya untuk menulis. Beliau uzlah atau mengasingkan diri untuk menulis 300 -an judul buku yang hingga kini masih bisa dinikmati dan menjadi rujukan para ulama. Itulah bukti kekuatan sebuah pena sehingga menghasilkan sebuah buku.

image

Buku pun dapat mengguncang dunia. Buktinya JK. Rowling dengan bukunya bisa mengguncang dunia dengan “Harry Potter” nya. Ia bahkan mengubah nasib hidupnya karena menghasilkan buku. Dari orang miskin hingga berubah menjadi orang terkaya karena sebuah buku.

image

Buku buku dan buku. Lewat sebuah buku kita bisa mengenal orang-orang terdahulu. Orang  bijak, orang sukses, orang tertindas, bahkan orang pandir sekalipun bisa menjadi inspirasi topik dalam buku. Cerita-cerita Abunawas bisa terkenal ke ujung dunia karena buku. Bahkan kabayan pun bisa sampai di angkat kedalam layar kaca.

image

Tak terhitung berapa banyak karya yang dihasilkan. Dan tak terhitung pula berapa banyak buku-buku yang pernah kita baca. Sebuah pertanyaan mendasar adalah kapan kita menghasilkan sebuah buku?

image

Langkah inspiratif telah kita saksikan sejak lama. Sudah banyak kompasianer yang menghasilkan sebuah buku. Kata-kata kang Pepih dari Pak Junanto adalah “menulislah dan hasilkan sebuah buku minimal satu buku seumur hidupmu”. Sebuah kalimat sederhana yang mampu mendorong kang Pepih untuk menelurkah sebuah karya.

image
Teman membaca buku

Kata-kata itu tetap saya pelihara sehingga mimpi saya untuk membuat sebuah buku semoga saja bisa segera terlaksana. Memang butuh action dan bukan sekedar retorika belaka.

image

Yang perlu dilakukan adalah belajar,belajar, membaca,membaca dan beraksi agar sebuah buku segera terwujud minimal satu buku dalam seumur hidup kita.

Semua foto adalah dokumen pribadi. Tulisan ini dibuat dalam rangka menyemarakkan ulang tahun kampretos yang pertama.

image

Kunjungi karya kampret lainnya : jelang satu tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s