wpid-20130112_153832.jpg

Kecewa dengan Bus Wisata Big Tour & Travel


image
Bus Pariwisata Big Tour and Travel dok.pribadi

Tanggal 12 Januari 2013 lalu pengajian Nidaul Jannah, Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan mengadakan wisata ke pemandian air panas Sari Ater, Ciater, Subang, Jawa Barat. Para peserta tour lebih didominasi oleh ibu-ibu pengajian. Mereka pun turut membawa serta keluarganya masing-masing. Bahkan ada beberapa janda yang diberikan tiket gratis untuk mengikuti wisata yang rutin dilakukan setiap satu tahun sekali. Sayangnya driver bus wisata tidak kooperatif dan berperilaku kasar terhadap pelanggan.

image
Kapok pakai bus wisata ini dok.pribadi

Kali itu adalah pertama kalinya saya mengikuti wisata bersama ibu-ibu pengajian Nidaul Jannah. Semua keluarga tentu saja senang dan gembira bisa berwisata bersama hanya dengan membayar tujuh puluh lima ribu rupiah perorang. Tentu saja panitia harus menyewa sebuah bus wisata sebagai alat transportasi.

Pemesanan bus wisata sudah diatur oleh panitia pengajian Nidaul Jannah yang memang notabene adalah ibu-ibu rumah tangga. Di awal sudah di rencanakan bahwa setelah mengunjungi Sari Ater kemudian akan dilanjutkan berbelanja di kawasan Pasar Baru Bandung. Namun, rencana tinggallah rencana. Semuanya rusak karena perilaku oknum supir yang tidak professional sama sekali.

Tidak Menunggu Penumpang

Gelagat tidak baik sang oknum supir mulai terbaca ketika berhenti di rest area didaerah Purwakarta. Belum juga panitia cross cek apakah semua penumpang sudah masuk kembali, alih-alih malah langsung tancap gas. Untunglah semua penumpang telah lengkap. Saya membaca sepertinya sang supir ingin berangkat beriringan bersama dengan bus dari perusahaan yang sama. Tapi saya kurang tahu apakah bus tersebut berangkat dengan tujuan yang sama.

Merokok didalam Bus

Bus wisata seharusnya memberikan kenyamanan dan keamanan pada penumpang. Menurut ukuran saya bus ketika berangkat berjalan cukup lambat seperti mengulur waktu. Tapi ternyata setelah lepas dari rest area gaya mengemudi menjadi lebih cepat seolah tidak mau tertinggal dengan bus didipannya. Seperti yang takut ketinggalan.

Selain itu sang oknum supir seperti mulai gelisah dan akhirnya dia mulai merokok didalam bus!!! “Kacau” batin saya. Tidak ada tolerasi bagi oknum supir yang seperti ini. Mungkin kalau bus metro mini saya masih mafhum. Tapi ini bus pariwisata loh.

Bersikap Kasar Terhadap Penumpang

Saat beberapa meter akan tiba di tempat tujuan kami berdebat dengan oknum supir tersebut. Dia menkonfirmasi apakah tujuan kami itu benar Ciater atau Sari Ater. Dia sampai menghentikan Bus didepan Ciater Spa and Resort yang sebetulnya bukan tujuan kami. Dia bahkan berbicara setengah membentak pada ketua panitia yang merupakan Ustadzah pengajian ibu-ibu Nidaul Kannah. Sungguh sangat mengecewakan sekali sikap oknum sopir ini!

Rencana Berubah Sesuai Keinginan Supir

Setelah acara wisata di Sari Ater selesai seharusnya kami langsung ke Bandung kemudian pulang melalui tol dari Bandung. Tapi sang sopir kali ini berulah. Dia tidak mau mengantarkan kami ke Bandung dengan alasan tidak sesuai dengan Surat Jalan.

Memang dalam hal ini panitia mengaku salah karena dalam surat jalan tidak diperinci tujuan-tujuan wisata. Dalam surat jalan hanya tertulis tujuannya adalah Sari Ater. Seharusnya dalam surat pemesanan semuanya detail. Misalnya tujuannya adalah Sari Ater, Pasar Baru dan Pulang Pergi melewati tol Cipularang. Bahkan jika ada denda keterlambatan pun harus jelas. Pokoknya usahakan semuanya jelas agar tidak ada yang dirugikan pada akhirnya. Panitia pun berhak untuk menentukan kapan harus berhenti di rest area dan kapan harus jalan. Supir seharusnya patuh pada pemesan. Bukan malah pemesan/penyewa yang patuh pada keinginan supir!

Sang sopir mau mengantarkan kami ke Bandung dengan syarat kami mau membayar uang Solar sebesar 250 ribu rupiah. Gila! Pikir saya. Setelah berdiskusi akhirnya kami lebih baik pulang saja daripada harus membayar lagi. Perasaan kami sudah tidak karuan. Sampai-sampai pembagian door prize yang seharusnya dilakukan di Bandung akhirnya dengan terpaksa digelar dipelataran parkir Sari Ater.

Saya dan istri sebetulnya berencana turun di Bandung. Tapi karena sang sopir geblek akhirnya saya menyambung lagi menggunakan angkutan umum dari Ciater, Subang hingga ke Kota Bandung.

Seharusnya supir bisa berpikir bahwa jalur yang dilewatinya adalah jalur yang tidak lumrah dilalui oleh bus wisata. Sejak dari tol dia malah berbelok keluar tol di pintu tol waduk Jatiluhur. Selain jalannya sempit juga berkelok-kelok cukup ekstrem. Setidaknya dia seharusnya melalui jalur Sadang jika tidak ingin lewat tol Pasteur.

Usut punya usut ternyata keluarga saya yang pulang bersama bus ke Pamulang tersesat di daerah waduk Jatiluhur. Waahhh emang dasar kampret tuh supir. Sangat tidak professional sekali. Kalau memang tidak tahu jalan seharusnya dia bisa berdiskusi dengan penumpang. Pantas saja dia tidak tahu jalur dan selalu gelisah. PO Bus juga tidak professional karena menurunkan driver yang tidak mengetahui medan.

Untuk para pembaca yang budiman silahkan petik hikmah dibalik peristiwa ini. Saya sarankan untuk menyewa Bus Pariwisata yang sudah dikenal. Pilih Bus pariwisata yang memiliki sopir yang handal, mengetahui medan dan ramah terhadap penumpang.

Beberapa PO Bus yang pernah saya rasakan drivernya cukup professional adalah Desiana, Simfoni, Big Bird dan White Horse. Supirnya sangat ramah dan enak diajak ngobrol.

Sialnya tips untuk supir sudah diberikan di awal keberangkatan. Mungkin inilah penyebabnya oknum sopir tersebut seenaknya.

Salam hangat dan semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s