Kelangkaan Air Bersih Salah Kita Sendiri


Kelangkaan air bersih terjadi dimana-mana. Bukan saja di wilayah Indonesia bagian timur tapi ini juga terjadi di wilayah yang berdekatan dengan hutan tepatnya di Desa Ciburial, Bandung Utara. Sungguh ironis memang, wilayah yang rimbun dan disokong dengan pepohonan yang dulunya rindang kini harus mengalami kekeringan. Bahkan Ciburial berasal dari bahasa Sunda yang berarti air yang keluar begitu banyaknya.

Sekarang Desa Ciburial tinggallah namanya saja yang indah, sedangkan kondisnya dilapangan sungguh menyedihkan. Belakangan ini Desa Ciburial dilanda kesulitan mendapatkan air bersih meskipun memang tidak terlalu parah. Ada beberapa sumber mata air yang mengering. Sehingga warga harus bergantian dan mengatur penyediaan air bersih.

Sungguh tidak pernah terbayangnyan lokasi yang berdekatan dengan Taman Insinyur Haji Juanda, Pakar, Bandung itu kini tinggal menunggu saat-saat kekeringan terjadi. Padahal seperti kita ketahui Hutan adalah sumbernya mata air. Tanpa hutan, mata air tidak akan muncul dari sela-sela bebatuan yang biasanya diatasnya rimbun dengan pepohonan.

Memang biang kerok kekeringan sudah bisa dipastikan salah satu faktornya adalah karena pembangunan villa-villa dan perumahan yang semakin tak terbendung. Orang-orang desa yang kekurangan uang, dengan terpaksa bahkan mungkin dengan suka rela menjual tanahnya pada pengusaha dan pemilik harta. Dan kemudian diatas tanah itulah dibangun villa, cafe bahkan penginapan-penginapan.

Wilayah Bandung Utara ini memang cukup diminati wisatawan lokal maupun dari luar kota terutama Jakarta. Terlebih sudah banyak cafe-cafe dengan pelayanan dan harga bertaraf Internasional yang sudah di kenal oleh warga Jakarta yang haus dengan hiburan dan mencari tempat istirahat nyaman di wilayah pengunungan.

Sah-sah saja pemilik modal membangun usaha dan penginapan di Bandung Utara. Namun, sayangnya efek negatif jangka panjang tidak terpikirkan. Apalagi hampir wilayah Bandung Utara kini hendak disulap menjadi perumahan mewah dan perhotelan. Kawasan bandung Utara menjadi surga bagi para pelancong luar daerah. Bahkan sudah dilirik oleh beberapa insvestor.

Kini efek negatif dari pembangunan tersebut mulai terasa sedikit demi sedikit. Air bersih semakin susah didapat karena beberapa mata air mulai mengering. Meskipun ada harus menggali sumur yang cukup dalam dikawasan lembah. Kemudian diangkut dengan pompa-pompa berkekuatan besar untuk dialirkan ke bak-bak penampungan. Masih bersyukur jika air tidak perlu diangkut dari lembah. Masih ada beberapa sumber mata air yang mengaliri wilayah perkampungan yang berasal dari wilayah bukit.

Dua puluh tahun yang lalu saya masih merasakan betul bagaimana mudahnya mendapatkan air. Kakek saya bilang dalam bahasa Sunda “Cai cur cor dimana-mana” artinya air mengalir deras dari mana-mana. Memang benar bahkan di daerah Lebak Siuh, sekitar satu kilo meter dari tempat tinggal, saya masih sempat merasakan air pancuran yang terus menerus mengalir di pinggir jalan. Sehingga jika kita kehauasan tinggal mengenggak air pancuran itu saja. Sumbernya tentu saja dari mata air. Air pancuran itu bukan hanya dimanfaatkan oleh penduduk sekitar bahkan orang-orang kota yang datang dalam rangka lomba mencari jejak. Memang sering sekali kawasan Desa Ciburial digunakan orang-orang kota untuk jalur mencari jejak. Selain karena udaranya yang sejuk juga masyarakatnya yang ramah.

Saat ini di Grup Facebook Desa Ciburial beberapa kali sempat melaporkan beberapa bencana longsor kecil. Mulai dari jalan-jalan yang longsor ditepi bukit hingga jalan-jalan yang tertutupi longsoran tanah. Semua ini merupakan pertanda bahwa alam memang mengalami ketidakstabilan. Mungkin manusia terlalu serakah sehingga satu demi satu tanda-tanda itu muncul. Mata air yang mengering hingga longsor-longsor kecil. Masih beruntung bencana itu tidak datang sekaligus. Satu demi satu diberikan pertanda agar masyarakat semakin sadar bahwa alam harus segera di perbaiki dan di konservasi.

Hal ini sungguh berbeda dengan kampung halaman bapak saya di daerah Prajekan, Situbondo, Jawa Timur. Di desa Prajekan ini air masih mengalir deras. Belum pernah terdengar kekeringan meskipun termasuk daerah yang panas. Memang pembangunan tidak bisa di hambat. Tanah-tanah yang tadinya persawahan mulai banyak dibangun toko, pom bensin, hingga perumahan.
Bagaimanapun pembangunan sedikitnya mempengaruhi lingkungannya. Air di daerah Prajekan mulai kurang sedap di lidah. Entah karena penggunaan pupuk pestisida yang berlebihan pada lahan persawahan, limbah pabrik atau efek dari pembangunan. Tentu semuanya bisa saja berpengaruh terhadap kualitas air tanah.

Atas dasar hal itulah saudara saya yang jauh itu meminta saya membelikan sebuah alat penyaring air minum. Water purifier mutlak dibutuhkan disaat air bersih sulit didapatkan. Tidak mungkin harus terus menerus menkonsumsi air tercemar.

Dia melihatnya di sebuah iklan televisi nasional. Alat ini selain alat menjernihkan air juga membunuh kuman-kuman berbahaya yang terkandung didalam air. Alat ini seperti dispenser pada umumnya namun memiliki keunggulan dalam teknologinya, produk dari perusahaan multi nasional Unilever bernama Pureit.

Terus terang untuk membeli Pureit di daerah desa memang agak sulit. Jikapun ada mereka harus ke daerah Jember atau Surabaya. Butuh waktu berpuluh-puluh kilometer untuk mencapainya. Karena memang jarang keluar kota akhirnya mereka meminta saya untuk membelikan Pureit di Tangerang Selatan. Perjuangan sekali memang. Untuk mendapatkan air bersih saja harus melakukan pengorbanan.
Meskipun keinginan untuk membeli Pureit sudah sejak lama tapi baru kesampaian setelah musim lebaran. Alhamdulillah kakak saya mendapatkan rezeki. Tadinya saya berniat untuk patungan membeli Pureit dengan kakak saya. Memang kami berdua sengaja ingin memberikan Pureit sebagai hadiah kepada saudara kami di Prajekan. Tapi akhirnya biaya pembelian di tanggung oleh kakak saya. Sedangkan saya sendiri akan menanggung biaya pengiriman dari Tangerang Selatan ke Prajekan, Jawa Timur.

Dengan senang hati saya membeli Pureit di salah satu Supermarket di daerah Tangerang Selatan. Kebetulan saya dilayani dengan ramah oleh seorang Sales Promotion Boy. Dia menjelaskan keunggulan-keunggulan Pureit. Saya mendengarkan dengan seksama meskipun sebetulnya saya sudah tahu keunggulan Pureit dari keluarga saya dan website.

Dari segi biaya tentu saja Pureit lebih unggul karena tidak memerlukan gas atau listrik sekalipun. Pureit bebas biaya. Hanya perlu mengganti filter saja antara enam sampai delapan bulan. Tentu saja hal tersebut sangat bergantung dengan kondisi air yang ada.

Jika dihitung-hitungpun Pureit lebih hemat meskipun agak berat di awal pembelian. Tapi itu semua sebanding dengan kualitas dan keunggulan serta teknologi yang ditawarkan. Karena dengan Pureit air keran pun bisa langsung diminum, apalagi air sumur. Semua tinggal dituangkan kedalam Pureit.

Saya tidak perlu khawatir lagi kualitas air Pureit karena proses pemurnian air dalam Pureit melalui empat tahapan yang telah dibuktikan oleh beberapa Universitas terkemuka di Indonesia diantaranya adalah UGM, ITB dan IPB. Mulai dari menghilangkan kotoran yang kasat mata hingga tak kasat mata seperti air yang tercemar pestisida bahkan yang terpapar kuman berbahaya atau mengandung bakteri merugikan sehingga bisa menimbulkan berbagai penyakit berbahaya. Sumber penyakit bisa berasal dari air, tapi sumber kesehatan juga datangnya dari kualitas air yang dikonsumsi.

Uniknya Pureit sudah dilengkapi dengan indikator Germkill Life. Dengan begitu saya tak perlu repot menghitung hari kapan saya harus mengganti Germ Kit. Karena dengan melalui indikator yang mudah dibaca saya bisa tahu kapan harus menyediakan pengganti dan kapan saya harus mengganti Germ kit yang sudah usang.

Pureit menjamin kualitas air karena sudah lulus uji standar Internasional dari Environtmental Protection Agency (EPA), Amerika Serikat yang menjamin air Pureit terbebas dari bakteri dan virus berbahaya. Jadi teringat betapa masih banyaknya pengisian air galon isi ulang yang tidak higienis meskipun secara kasat mata terlihat bening dan bersih. Bahkan menurut beberapa survei bahwa ada bebrapa air isi ulang dari pegunungan tertentu terbukti menjadi penyebab konsumennya mendapatkan penyakit pencernaan. Jika tidak salah beberapa tahun yang lalu pernah di telusuri dalam sebuah reportase salah satu stasiun swasta nasional.

Bisa jadi proses kemasannya yang tidak higiens. Mungkin saja air dari pegunungannya memang bersih tapi belum ada jaminan tempat penampungan dan tempat distribusinya bersih dan higienis. Jadi memang masih cukup beresiko menggunakan air isi ulang yang lebih murah dari air isi ulang terkenal merek nasional.

Kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan dasar hidup manusia. Tanpa air makhluk hidup mustahil bisa bertahan. Dengan air semua makhluk hidup bisa bertahan dari zaman nabi Adam hingga kini. Jadi tidak ada tawar-menawar lagi untuk mendapatkan air bersih.

Ketika saya mencoba air yang telah melalui proses pemurnian menggunakan Pureit di Bandung rasanya seperti air yang baru keluar dari sebuah bejana. Dingin dan menyegarkan. Keluarga saya memang beberapa mulai beralih dari penggunaan air galon menjadi menggunakan water purifier Pureit.

Manfaat Pureit sudah bisa dirasakan oleh banyak orang. Mulai dari ibu rumah tangga hingga pekerja di lapangan terutama di pedalaman yang kesulitan air bersih seperti saudara saya di Prajekan, Jawa Timur. Kini mereka bisa bernafas lega. Karena Pureit yang saya bawa jauh-jauh dari Tangerang Selatan akan memberikan manfaat lebih bagi semua keluarga.

Penyediaan air bersih adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Seyogyanya setiap keluarga mendukung program pelestarian lingkungan untuk keberlangsungan penyediaan air bersih. Banyak hal yang bisa dilakukan diantaranya dengan menanam pohon, membuat lubang biopori dan bahkan membuat sumur-sumur resapan agar air yang sudah terpakai bisa tertampung lagi dan di filter secara alami oleh lapisan-lapisan tanah. Adapun jika hal-hal tersebut sudah dilakukan niscaya kelangkaan air bersih tidak akan terjadi lagi. Namun, demikian sepertinya setiap keluarga sudah saat beralih untuk menggunakan Pureit sebagai alat untuk mendapatkan sumber air bersih.

Salam Hangat dan semoga bermanfaat

 

2 thoughts on “Kelangkaan Air Bersih Salah Kita Sendiri

    1. Sy udh tdk tinggal di Ciburial. Tp masih bbrp kali ke Ciburial. Semua keluarga saya di Pon Pes Al-Quran Babussalam.

      Salam Hangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s