Boikot Produk Zionis Israel by Dina Y Sulaiman


Kamu Kan Juga Pake?!
[by Dina Y. Sulaeman, 30/4/2010]
Untuk kesekian kalinya, saya didebat soal gerakan
boikot produk Zionis. Kalimat dibawah ini saya
ubah redaksinya, tapi esensinya sama saja. “Kamu
kan juga pake produk Zionis?! Tak perlu pula sok-
sokan memboikot produk Zionis! Hampir semua
yang kita pakai ini produk Yahudi: computer, hp,
facebook, blog…!”
Ini jawaban saya:

1.Yahudi tidak selalu sama dgn Zionis. Ada Yahudi
yang Zionis, ada juga Yahudi yang anti Zionis. Yang
perlu kita boikot adalah produk perusahaan-peru
sahaan yang sebagian labanya disalurkan untuk
Israel, atau jelas-jelas berdiri di Israel. Daftarnya
ada di sini:
Bisa jadi itu perusahaan milik Yahudi yang Zionis,
tapi bisa jadi milik Kristen yang Zionis [maaf, bukan
bermaksud SARA, tapi istilah “Kristen Zionis” sudah
jadi istilah umum dalam kajian Politik Internasional.
Salah satu tokohnya adalah Joe Biden, wapres AS.
Dia berkata, “I’m a Zionist. You don’t have to be a
Jew to be a Zionist.” ] atau bahkan mungkin Muslim
yang Zionis. [Muslim Zionis..? Well.. sangat
mungkin kok. Contohnya, ada sebuah perusahaan
yang jelas-jelas masuk daftar boikot, lalu buka
cabang di Indonesia, lalu ada penguasaha Indonesia
muslim yang membeli sebagian sahamnya.] Sekali
lagi, yang dilihat adalah kemana aliran dananya
mengalir.
2. Gerakan boikot produk Zionis tidak hanya
ditujukan untuk muslim, tapi semua pihak yang
berhati nurani. Bahkan gereja Inggris pun
melakukan boikot (dengan cara menarik sahamnya)
pada Caterpillar karena terbukti produk Caterpillar
(buldozer) berperan besar dalam penghancuran
rumah-rumah bangsa Palestina. Human Rights
Watch dan Amnesty Intl pun memboikot Caterpillar.
3. Bagaimana kalau ternyata kita terpaksa pakai
produk Zionis?
Sebelum saya jawab, saya tanya dulu: kalau Anda
ujian di kampus, ada 4 soal, Anda cuma bisa jawab
2 soal, apa yang Anda lakukan? Keluar ruangan dan
tidak menjawab sama sekali? Tentu tidak. Anda
tetap jawab 2 soal, dan berharap minimalnya dapat
B atau C.
Begitupun saya. Saat saya beli laptop, saya pilih
produk perusahaan yang tidak termasuk dalam
daftar boikot. Prosesornya memang buatan Intel
(pendukung Zionis), tapi karena saya tidak punya
pilihan lain, apa boleh buat. Minimalnya saya sudah
menjawab 1 soal, daripada menyerah keluar
ruangan dan tidak menjawab sama sekali. Got it?
Dalam kehidupan sehari-hari pun, saya melakukan
pilihan-pilihan. Saat berbelanja, saya pilih
supermarket lokal, bukan Carrefour. Saya pilih
minum teh botol Sosro, bukan Coca Cola. Saya
pilih Burger Edam, bukan McD, Dst.
Sekali lagi, hal ini berkaitan dengan hati nurani…
4. Khusus untuk muslim, terkait fatwa haram (di
antara ulama yang mengharamkan menggunakan
produk-produk dari perusahaan menyalurkan
dananya kepada Israel adalah Ayatullah Khamenei,
bisa baca di sini: dan Syekh Yusuf Qardhawi, baca
di sini): ada kaidah ta’arudh bainal amrain
(kontradiksi antara dua hal). Bila ada pertentangan
kepentingan, maka pilihlah yang manfaatnya lebih
besar dan keburukannya lebih kecil.
Misalnya, alkohol haram, tapi bila ada obat yang
mengandung alkohol yang harus dimakan, dan obat
itu satu-satunya yang tersedia, kalau kita tak
makan obat itu penyakit kita akan semakin parah…
nah, pada saat itu, kita dihadapkan pada dua
hukum yang kontradiktif “alkohol haram” dan
“menyelamatkan nyawa adalah wajib”. Dalam
situasi ini, kita harus memilih menyelamatkan nyawa
dengan tetap makan obat tersebut (kita tidak bisa
berkata, “mending mati deh daripada makan obat
itu”, karena mempertahankan nyawa jauh lebih
penting).
Sama halnya dengan komputer/laptop. Jika laptop
saya pakai prosesor Intel, apa yang harus
dilakukan? Apa saya memilih tidak menggunakan
laptop sama sekali?
Jawabannya ada pada urgensinya. Bila bagi saya
laptop bermanfaat untuk menyebarkan kebaikan
dan manfaat saya dalam menggunakan laptop jauh
lebih banyak daripada bila saya berdiam diri, tentu
saja, pilihannya adalah menggunakan laptop.
Bahkan saya menggunakan laptop ini untuk
menyuarakan pembelaan kepada Palestina dan
memberitahukan kepada dunia betapa kejamnya
Rezim Zionis.
[Catatan: “manfaat” yang dimaksud adalah manfaat
yang diridhoi Allah ya.. Bisa saja saya
menggunakan laptop utk hal-hal yang buruk dan
tetap mendatangkan manfaat, tapi kan tidak
diridhoi Allah.]
Sebaliknya, bila urgensi untuk menggunakan laptop
ternyata tidak ada (misalnya, pakai laptop hanya
untuk berleha-leha, membuang-buang waktu main
game atau internetan gak jelas).. nah… silahkan
pikirkan sendiri bagaimana hukumnya!
Jangan disangka langkah boikot adalah langkah
yang ‘kecil’ dan tiada arti. Afrika Selatan berhasil
menumbangkan Rezim Apartheid berkat aksi-aksi
boikot dari seluruh dunia. Kita tidak sedang
berusaha menindas kaum Yahudi, tapi berusaha
menumbangkan Rezim Zionis. Bila rezim yang
sangat rasis dan kejam ini tumbang dan digantikan
oleh Rezim yang demokratis, kaum Yahudi, Islam,
dan Kristen bisa hidup berdampingan dengan damai
di Palestina, seperti yang dulu terjadi sebelum
Rezim Zionis berdiri.
5. Masih terkait hukum fiqih di atas, bisa jadi ada
yang mengaitkannya dengan tulisan teman saya-
yang saya sunting ulang- “Surat Terbuka untuk Pak
Tifatul”. Ada penanggap yang menyatakan, kurang-
lebih “Sulit bagi pemerintah kita untuk tidak
memakai rekanan perusahaan Israel, tidak semudah
membalik telapak tangan. Kalau pemerintah bikin
kebijakan melarang produk Israel dilarang, maka
berapa investasi tambahan yang harus dikeluarkan
oleh masing-masing perusahaan utk membeli
peralatan dan system baru, yang mana tidak
memberi benefit secara bisnis buat mereka.”
Tanggapan saya:
Dalam kasus AMDOCS yang menjadi rekanan
Telkomsel, yang terjadi lebih dari sekedar ‘boikot’
yang bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. Yang
terlibat di sini adalah negara dan TNC (transnational
corporation). Jika negara yang terlibat, artinya
punya kekuasaan untuk berkata ‘ya’ atau ‘tidak’.
Apa gunanya negara (=pemerintah) kalau kemudian
tunduk saja oleh kepentingan bisnis TNC? Apa
gunanya Tifatul dan PKS berdemo untuk menentang
Zionisme tapi ketika dia punya kekuasaan untuk
berkata ‘tidak’ pada perusahaan yang jelas-jelas
didirikan di Israel (dengan segala konsekuensinya),
dia tidak melakukan hal itu?
Hitung-hitungan yang dilakukan negara seharusnya
jauh lebih fundamental daripada yang dilakukan
oleh rakyat. Lagipula, masih perlu dilakukan hitung-
hitungan yang lebih valid mengenai untung-rugi
tidak menggunakan rekanan dari Israel. Apa betul
secara bisnis akan rugi? Itu kan klaim si penanggap
saja. Bagaimana kalau dihitung cost kerugian
bocornya data intellijen yang pasti merembet
kepada hal-hal besar lainnya? Analogi kasus ini,
pembela industri rokok memberikan hitung-
hitungan berapa besar kerugian negara kalau
industri rokok diharamkan. Padahal, kalau dihitung
lagi berapa banyak biaya kesehatan yang harus
ditanggung seluruh rakyat Indonesia gara-gara
rokok, ternyata jumlahnya jauh lebih besar.

One thought on “Boikot Produk Zionis Israel by Dina Y Sulaiman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s