Suatu Saat Anak-Anak Akan Benci Bersekolah


Anak saya (2 th) dan keponakan saya (3th) selalu bersemangat ketika kami jalan-jalan sore melewati sebuah taman kanak-kanak. Bahkan mereka sepertinya sudah tidak sabar untuk segera bergabung bersama teman-teman lainnya. Tentu saja sebagai orang tua, kami bahagia karena anak-anak kami memiliki semangat untuk sekolah.

Namun ada kekhawatiran jika ternyata mereka belum siap menghadapi kenyataan pada jenjang berikutnya. Adalah wacana menambah jam belajar disekolah yang saat ini sedang hangat dibicarakan di linimasa twitter. Hal tersebut menjadikan kami gundah gulana. Banyak hal yang membuat kami gundah. Salah satu diantanya adalah ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa siswa mengalami stress berat setelah over schooling. Beberapa diantaranya mengalami kejenuhan saat menginjak kelas empat SD jika di jenjang TK sudah terlalu lama bersekolah.

Pernyataan bapak M.Nuh, Mendikbud yang juga dikenal sebagai menteri yang kebal kritik karena kebijakan-kebijakannya yang tidak ramah anak dan kontroversial kembali menguncang dunia pendidikan di Indonesia. Alasan menambah jam pelajaran di sekolah dikarenakan agar siswa tidak liar dan guru bisa mendapatkan tambahan mengajar sehingga syarat 24 jam terpenuhi sebagai standar seorang guru pns dan guru yang telah di sertifikasi.

Alasan tersebut tentunya alasan yang kurang berkaitan. Seorang anak liar menandakan bahwa anak tersebut tidak terakomodasi minat dan bakatnya di sekolah. Sekolah saat ini sepertinya menjadi momok bagi anak-anak. Ditambah lagi dengan hantu Ujian Nasional yang menunggu mereka di akhir jenjang di setiap level dari SD hingga SMA.

Pemenuhan kewajiban mengajar 24 jam tidak bisa dijadikan alasan untuk menambah jumlah jam belajar siswa disekolah. Semua orang tahu bahwa hal tersebut terjadi karena distribusi yang tidak merata. Lebih banyak guru yang ingin berkarir di kota ketimbang harus mengabdi di pelosok daerah. Sertifikasi mungkin malah menjadikan beberapa guru materialistis. Toh guru yang sudah disertifikasi nyatanya sebagian besar hasilnya tidak mengalami peningkatan kualitas dalam mengajar. Dengan kata lain stagnan!

Liarnya seorang anak bisa jadi disebabkan dengan beban pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan. Ketika hal tersebut menumpuk mulailah siswa berprilaku liar. Liar adalah bentuk pemberontakan. Mereka bukan budak yang harus dijejali dengan berbagai standar kebijakan pemeritah yang tidak masuk akal dan diduga banyak unsur proyek didalamnya. Siswa liar seharusnya fenomena yang dapat ditangkap seorang pendidik bahwa ada sesuatu hal yang menganggu anak tersebut.

Beban anak-anak Indonesia sangat berat jika dibandingkan dengan negara lainnya. Sehingga tidak heran jika banyak muncul siswa cemerlang semasa SMA namun redup ketika dia dewasa.

Penambahan jam belajar justru akan menghasilkan manusia-manusia yang intoleran dan tidak bisa bekerjasama. Lihatlah kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Perilaku beberapa oknum yang saling menjatuhkan bahkan saling mengkafirkan, saling memojokkan seolah semua lupa isi Pancasila yang selalu dibacakan bersama-sama saat upacara Senin pagi. Pikiran mereka menjadi lebih liar bukan? Sungguh amat sangat berbahaya jika nanti muncul generasi yang lebih parah dari generasi sekarang ini.

Lihatlah tuan menteri lulusan PTN masih banyak yang tidak mandiri bahkan ada yang lebih hina dari pada itu, mereka yang sudah bekerja dan mendapatkan posisi empuk malah melakukan korupsi secara berjamaah pula. Belajar bukan hanya di sekolah. Siswa lebih unggul dan cerdas jika belajar dari lingkungannya. Belajar menghormati tetangga, belajar mencintai lingkungan dan belajar bekerja sama.

Lihatlah mereka para pekerja yang seperti robot. Berangkat pagi dan pulang larut malam. Meskipun gaji mereka selangit tapi kebahagiaan mereka terenggut karena tidak bisa mendidik anak bahkan tidak mengenal siapa tetangga mereka. Kurang bersosialisasi dan terpaksa menjadi individualis.

Jangan sampai anak-anak kita menjadi generasi yang individualis dan kurang daya kritis. Lingkungan akan mendidik mereka tentang bagaimana mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat dari sekolah. Tanpa laboratorium alam, mustahil siswa bisa menganasila sebuah ilmu pengetahuan. Biarkan mereka lebih banyak belajar lewat alam dan jangan di kungkung di sebuah institusi bernama sekolah. Jangan jadikan sekolah sebagai sesuatu yang menakutkan bagi anak-anak. jadikanlah sekolah sebagai surga tempat mereka mendapatkan ilmu. Ingatlah filosofi taman siswa. Sekolah harus menjadi taman belajar yang menyenagkan dan bukan sebaliknya.

Jika dipaksakan juga, saya khawatir akan muncul generasi yang tidak tertarik untuk sekolah. Karena sekolah hanya akan menjadi tempat penyiksaan bagi psikisnya.

Lebih baik merumuskan bagaimana anak-anak kita memiliki budi pekerti yang luhur ketimbang kecerdasannya yang unggul namun tak berakhlak mulia. Rasulullah Saw diutus ke dunia ini bukan hanya untuk mencerdaskan umatnya, tapi yang utama adalah memperbaiki AKHLAK umatnya.

Pakar parenting Ayah Edi mengatakan bahwa merugilah orang tua yang tidak bisa melihat perkembangan sikap anaknya. Sikap anak adalah bukti keajaiban. Maka sesungguhnya hanya mereka yang beruntung yang bisa membaca tanda-tanda dari prilaku anak-anaknya. Semoga bapak menteri termasuk yang beruntung.

Save our children, tell this article to our education minister.

Salam hangat

Sudah di publikasikan di Kompasiana.com. Diberikan beberapa perubahan untuk menyesuaikan dengan konten di guraru.org

Visit my blog http://gurubimbel.tumblr.com

Suatu Saat Anak-Anak Akan Benci Bersekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s