Mengapa Harus Selalu Menggunakan Buku Teks?


Saat mengikuti workshop @atamerica, Pacific Palce, Jakarta kami para guru Bahasa Inggris diberikan beberapa contoh video tentang cara-cara para guru dari berbagai belahan dunia mengajar sesuai dengan topik yang sedang dibahas saat itu. Pada pertemuan pertama kami diberikan topik diskusi tentang pembelajaran secara kontekstual. Kontekstual disini  maksudnya adalah siswa benar-benar memahami apa yang mereka pelajari dan mudah untuk di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ada tiga video yang di perlihatkan dari tiga jenjang pendidikan yang berbeda. Video pertama seorang guru sedang mengajar pelajar muda usia anak-anak SD. Dalam video tersebut sang guru mengajar Bahasa Inggris menggunakan sebuah lagu. Isi liriknya adalah monyet yang sedang bertengkat diatas pohon di hutan. Vocabulary yang digunakan tentu saja berkaitan dengan hutan. Forest, Monkey, Canopy dan Fighting. Salah satu siswa diminta untuk menyebutkan dimana letak canopy. Guru sudah menyiapkan media belajar berupa pohon dari karton yang cukup besar hingga tingginya mencapai plafond kelas. Kemudian siswa diberikan alat penunjuk.

 

Hampir semua siswa antusias mengikuti kelas tersebut. Teman di samping saya berkilah. Yah of course anak-anak tenang karena ibu gurunya cantik. Saya hanya bisa terkekeh-kekeh mendengarnya. Yang di singgung disitu oleh Aron William, speaker yang membimbing kami dalam workshop tersebut mengatakan bahwa guru dalam video tidak menggunakan buku teks.

 

<iframe allowfullscreen=”” frameborder=”0″ height=”315″ src=”http://www.youtube.com/embed/Qu2JRqTdtGQ&#8221; width=”420″></iframe>

Video kedua adalah pelajar setingkat SMA yang sedang melakukan role play. Mereka asyik berdiskusi seolah-olah memang terjadi pada kehidupan sehari-hari. Anak-anak usia SMP dan SMA lebih senang ketika harus belajar Bahasa Inggris menggunakan drama, menyanyi dan kegiatan lain yang tidak monoton seperti membaca atau menulis duduk tenang di kelas. Sekali lagi tidak ada buku teks yang di pegang guru bahkan anak-anak saat itu.

 

Video ketiga adalah pelajar setingkat mahasiwa yang sedang melakukan sebuah presentasi. Presentasi berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam. Disana guru hanya mengkonfirmasi tentang teori yang di presentasikan kemudian mendiskusikannya dengan mahasiwa lainnya. Sekali lagi tidak ada buku teks disana.

 

Apa yang ingin saya bicarakan disini adalah tingginya ketergantungan guru dan sekolah terhadap buku teks pelajaran yang sudah menjadi hal yang wajib disediakan. Padahal dengan membuat buku teks sendiri guru dan siswa bisa lebih kreatif dan bebas untuk menentukan tema sesuai dengan daerahnya dan kearifan lokal yang ada.

 

Memang bukan pekerjaan mudah untuk membuat buku teks sendiri yang disesuaikan dengan kearifan lokal dan kemampuan siswa. Buku tidak selalu harus memiliki konten lokal namun juga di dekatkan dengan apa yang diketahui oleh siswa dalam kehidupan sehari-harinya.

 

Salah satu pertanyaan menarik diutarakan oleh seorang guru dari American Corner UGM, Yogyakarta yang mempertanyakan apakah hal tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan konten dari luar misalnya mengangkat topik tentang Justin Beiber? 

 

Jawaban Aron dan kami para guru di Jakarta tentu saja bisa. Siswa zaman sekarang sudah terhubung dengan koneksi internet sehingga dunia menjadi tidak terbatas. Justin Beiber sudah menjadi fenomena dalam kehidupan remaja. Para remaja sudah hafal beberapa lirik lagu yang dinyanyikan oleh Justin Beiber. Tentu saja guru dapat mengambil materi dari apa yang disukai oleh anak-anak namun tetap harus bersandar pada kurikulum yang ada. Misalnya bisa dimasukkan dalam descriptive text tentang Justin Beiber atau Super Junior, sebuah boyband asal Korea.

 

Sayangnya masih sedikit sekali di Indonesia guru-guru yang menciptakan buku teks sendiri. Alih-alih justru menjadikan buku cetakan luar negeri menjadi buku utama. Boleh saja menggunakan buku dari luar sebagai tambahan dan pembanding. Asalkan hal tersebut tidak menjadi bahan utama dan nilai plus ketika sekolah melakukan promosi. Buku-buku kami berasal dari luar negeri karena kelas kami RSBI bla…bla…bla….

 

Saya jadi teringat dengan film Laskar Pelangi. Ibu Muslimah, guru Ikal dalam film tersebut memang sering terlihat membawa-bawa buku. Namun, buku tersebut tidak selalu di gunakannya karena hampir beberapa kali pembelajaran langsung dilakukan di alam terbuka. Inilah pembelajaran yang kontekstual. Anak-anak bisa langsung melihat, mendengar, merasakan dan mempelajari langsung dari alam dan lingkungan sekitar.

 

Nah, pertanyaan berikutnya adalah sudahkan siswa anda mengetahui manfaat mempelajari apa yang mereka pelajari di kelas selama ini? Jangan-jangan mereka tidak mengerti mengapa harus belajar aljabar, reproduksi, PPKN, budi pekerti, bahasa Inggris atau bahasa Indonesia yang menurut mereka mudah tetapi ternyata menjadi ganjalan terbesar saat Ujian Nasional.

Salam Hangat

Image: smkriam2005.tripod.com

Mengapa Harus Selalu Menggunakan Buku Teks?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s