Buah Simalakama Sertifikasi


Saya sempat berbincang-bincang dengan seorang rekan guru yang telah berstatus sebagai pns. Para guru yang berstatus pns sedang resah. Terutama bagi mereka yang sudah lulus sertifikasi. Pasalnya selain ada ujian kompetensi ulang, pemenuhan jam mengajar 24 jam menjadi polemik.

Syarat 24 jam mengajar sudah banyak menimbulkan korban dan kerugian immateri. Salah satunya adalah penuturan seorang blogger di daerah yang juga merupakan seorang guru. Menurutnya ada seorang guru pns yang harus pindah dari tempat dia mengajar karena sekolah sudah tidak mampu lagi memberikan jam mengajar hingga memenuhi syarat 24 jam. Sebabnya sederhana. Karena ada guru lain yang lebih senior yang juga membutuhkan syarat pemenuhan jam mengajar 24 jam.

Syarat tersebut bagaikan buah simalakama bagi sekolah. Tidak dipenuhi guru kabur. Dipenuhipun pasti mengorbankan guru lain. Bahkan guru-guru di salah satu sekolah negeri di bilangan Jakarta Selatan sampai bedol desa karena sekolah sudah tidak dapat lagi mendistribusikan jam mengajar demi memenuhi prasyarat masing-masing guru.

Bagi guru yang di daerah terpaksa harus masuk ke daerah lain demi memenuhi 24 jam mengajar. Sedangkan bagi guru di kota harus rela banting tulang terbang kesana kemari demi memenuhi prasyarat 24 jam mengajar.

Bagaimanapun 24 jam mengajar akan sangat sulit di realisasikan. Apalagi jika melihat bidang studi masing-masing guru dengan background yang berbeda. Guru Matematika mungkin jam mengajarnya lebih banyak dibandingkan guru IPS dan seterusnya.

Syarat tetaplah syarat. Pemerintah seolah menutup mata dengan problematika pemenuhan 24 jam mengajar. Syarat tersebut tidak bisa ditawar bagi mereka yang sudah berstatus pns bahkan sudah bersertifikasi. Jika syarat tersebut tidak dapat dipenuhi ancaman insentif sertifikasi bakal distop.

Melihat hal tersebut justru yang paling dirugikan adalah siswa. Siswa akan sulit mendapatkan guru-guru yang berkualitas. Tidak menafikan keberadaan guru senior namun sekolah pun harus bisa menjaga proses regenerasi guru disekolah. Tapi itu tadi, sekolah pasti mentok dengan segala syarat yang absrud itu.

Hendaknya kemendikbud meninjau ulang kebijakan pemenuhan 24 jam mengajar secara rasional dengan melihat kobdisi riil di lapangan. Sudah banyak guru yang menjadi korban kebijakan. Ditambah lagi kebijakan ujian sertifikasi ulang yang kontroversial.

Harus ada langkah-langkah yang lebih manusiawi agar guru juga berkonsentrasi mengajar. Kalau begini jadinya guru tidak tenang mengajar dan selalu sibuk bagaimana caranya supaya insentif sertifikasi tetap aman. Jika begini tak ada yang bisa disalahkan selain kebijakan yang seolah tidak mendukung kinerja guru.

Buah Simalakama Sertifikasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s