Try Out Selalu Gagal, Kok Bisa Lulus UN?


Mendikbud M. Nuh menghimbau sekolah atau daerah agar tidak memaksakan kelulusan siswa 100% dalam pelaksanann UN tahun 2012 kali ini. Karena dengan memaksakan seperti itu bukan hanya dicurigai adanya praktek kecurangan juga dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi kepala sekolah, guru dan siswa. Target 100% kelulusan UN kerap kali dijadikan sebagai alat pencitraan sebuah sekolah atau daerah tertentu dalam rangka menyampaikan pesan yang menyebutkan bahwa mereka telah sukses menyelenggarakan pendidikan. Pandangan sempit ini tentu saja merugikan siswa dan orang tua yang akan menyekolahkan anaknya di sekolah atau daerah tersebut.

Praktek-praktek illegal yang biasanya di temukan di lapangan demi memuluskan target 100% lulus UN bisa bermacam-macam cara. Mulai dari pembentukan team sukses, pemberian “ongkos” kepada pengawas hingga petugas kepolisian yang ditugaskan mengawal distribusi soal dan hasil jawaban para siswa. Belum lagi beredarnya jawaban siluman yang dibagikan di gerbang sekolah pada saat fajar. Berapa tahun lalu di sebuah daerah tertentu pernah ada sebuah tayangan yang menggambarkan bahwa siswa sudah datang ke Sekolah sebelum jam enam pagi. Ternyata saat sepi seperti itu jawaban soal UN dibagikan melalui kertas kecil yang disalin dalam berbagai bentuk. Tayangan terebut adalah hasil investigasi salah satu lembaga swadaya masyarakat dalam menelusuri kecurangan dalam UN.

Keberadaan Try Out

Try out sebagai alat ukur sementara kemampuan siswa dalam menghadapi pelaksanaan UN sebetulnya sudah dapat menggambarkan kemampuan siswa sekitar 80-90 %. Soal try out selalu di buat sedemikian rupa agar mirip dengan soal UN. Bahkan kisi-kisi soalnya pun sudah diketahui oleh para siswa melalui kegiatan pendalaman materi, yang dilakukan baik oleh guru di Sekolah maupun tempat les. Logikanya siswa sudah tahu materi apa saja yang akan di ujikan dalam UN. Seperti yang saya sebutkan dalam beberapa artikel tentang UN bahwa UN adalah tes evaluasi bukan merupakan tes seleksi. Sehingga evaluasi ini memang hanya ingin mengukur seberapa jauh siswa menyerap kisi-kisi yang telah diajarkan dan “dijejalkan” berulang kali dalam kesempatan try out.

Namun, hasil try out ini kadang kala dapat berbeda dengan hasil UN nantinya. Ada beberapa siswa yang gagal dalam mengerjakan soal try out tetapi memiliki hasil yang berbeda jauh dengan hasil UN. Siswa yang kerap kali gagal dan tidak bisa di tingkatkan lagi kemampuannya bisa saja di bantu oleh tangan-tangan yang tidak terlihat. Ada modus yang pernah terungkap bahwa oknum guru memberikan instruksi kepada beberapa siswa pintar agar memberikan jawaban pada siswa yang kurang pintar sebagai bala bantuan. Inilah tangan-tangan yang dianggap invisible. Praktek seperti ini cukup lumrah dilakukan dan paling aman. Karena tidak ada bukti tertulis. Siswa hanya sekedar memberikan kode-kode tertentu untuk memberikan jawabannya kepada siswa lainnya.

Kode-kode tersebut misalnya hanya dengan menyentuh mata untuk jawaban A, menyentuh bibir untuk jawaban B, menyentuh telinga untuk jawaban C, menyentuh dagu untuk jawaban D dan menyentuh kerah baju untuk jawaban E.

Perbaiki Sistem

Keberadaan pengawas yang jujur memang sangat dibutuhkan untuk mencegah praktek kecurangan. Tak jarang memang ada pengawas yang dapat di beli dengan beberapa lembar rupiah. Namun, rencana menerjunkan dosen sebagai pengawas bisa jadi salah satu alternatif, setidaknya mengurangi praktek kecurangan. Tidak ada jaminan bahwa semua dosen yang diterjunkan nantinya adalah pribadi yang jujur. Besar harapan memang dosen ini bisa menciptakan pelaksanaan Ujian Nasional yang jauh dari kesan penuh kecurangan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pemberian kode unik pada setiap soal bisa jadi juga sebagai salah satu upaya untuk mencegah kecurangan. Namun, beberapa tahun sebelumnya hal ini sudah dilakukan dengan memberikan kode yang berbeda untuk siswa yang duduk di sebelah kiri dan sebelah kanan. Hasilnya toh kecurangan tetap saja bisa terjadi.

Try out diknas yang di selenggarakan dalam setiap gugus yang berbeda sebaiknya sudah bisa menggambarkan kondisi di lapangan. Dengan mengetahui kondisi tersebut seharusnya diknas daerah terkait sudah melakukan langkah-langkah nyata agar ketidak lulusan bisa di minimalisasi dengan cara-cara yang benar, bukan dengan cara kecurangan dan tidak terpuji.

Orang tua seharusnya bisa turut serta mengawasi pelaksanaan Ujian Nasional. Bukan malah mendukung praktek kecurangan demi memuluskan anak-anaknya masuk ke jenjang berikutnya. Orang tua harus bersika fair dan menerima kenyataan terburuk jika memang anaknya belum mampu lulus ujian dengan jujur. Sehingga hal tersebut bisa jadi instrospeksi semua pihak. Bagi orang tua, guru, sekolah dan dinas pendidikan daerah.

Mari dukung pelaksanaan UN yang jujur. Setidaknya itu yang bisa dilakukan. Jikalau ada pilihan sebetulnya UN harus di tunda minimal sampai pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia sudah dapat terealisasi dengan baik.

Ditayangkan juga di Kompasiana

Try Out Selalu Gagal, Kok Bisa Lulus UN?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s